ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM - Bagi sebagian mahasiswa, magang sering kali menjadi langkah
pertama untuk mengenal dunia kerja yang sebenarnya. Ada rasa gugup, penasaran,
sekaligus semangat untuk membuktikan diri. Begitu pula dengan Atika Ambarwati,
mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya,
yang mendapat kesempatan magang di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten
Magetan selama empat bulan.
Bagi Atika, pengalaman magang ini bukan hanya soal tugas
kuliah, tetapi juga perjalanan pulang ke akar, karena Magetan adalah kota
kelahirannya. “Senang banget bisa magang di kota sendiri,” tuturnya. “Selain
dekat dengan keluarga, aku juga bisa mengenal instansi pemerintah di daerahku
sendiri. Rasanya seperti berkontribusi, meski masih kecil.”
Namun kebahagiaan itu disertai tantangan baru. Dunia kerja
yang ia masuki ternyata sangat berbeda dengan dunia kampus. “Kalau di kampus
lebih santai, kadang tugas bisa ditunda. Tapi di kantor semuanya teratur dan
harus tepat waktu,” katanya sambil tersenyum mengingat hari-hari awalnya.
Hari pertama magang menjadi momen yang sulit dilupakan. Saat
tiba di kantor, Atika disambut hangat oleh Ibu Cris, staf bidang pelayanan.
“Beliau orangnya ramah banget, langsung membuat suasana jadi nyaman,”
kenangnya. Suasana ramah itu membuat Atika tak merasa canggung meski harus
beradaptasi dengan lingkungan baru. Tak hanya dari pembimbing, sambutan hangat
juga datang dari rekan-rekan magang lainnya. “Senang banget bisa ketemu
teman-teman dari universitas lain. Mereka seru, saling bantu, dan bikin magang jadi
nggak terasa membosankan,” ujarnya.
Awalnya, Atika mengira magang di perpustakaan hanya akan
berkutat dengan buku menata, menyusun, dan mendata. Namun, seiring berjalannya
waktu, ia menemukan bahwa dunia perpustakaan jauh lebih luas dan dinamis.
“Awalnya kupikir cuma bantu menata buku, tapi ternyata banyak banget yang bisa
dipelajari. Aku belajar mengklasifikasikan buku berdasarkan sistem tertentu,
dan itu hal baru buatku,” jelasnya.
Selain itu, Atika juga dilibatkan dalam berbagai kegiatan
sosial literasi yang diadakan oleh dinas, salah satunya di POCADI (Pojok Baca
Digital). Di sana, ia berperan sebagai volunter pengajar bahasa Inggris untuk
anak-anak serta ikut memperkenalkan perpustakaan kepada siswa-siswa SD di
sekitar Magetan. Tugas ini awalnya bukan hal yang mudah bagi Atika. “Jujur, aku
dulu nggak suka berinteraksi sama anak-anak kecil. Mereka kadang susah diatur,”
katanya sambil tertawa kecil. Tapi justru dari sanalah ia belajar banyak hal.
“Lama-lama aku terbiasa dan malah menikmati. Ternyata asyik juga bisa ngajarin
mereka dan lihat mereka senang waktu belajar.”
Suasana kerja di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Magetan
membuat Atika merasa seperti di rumah sendiri. Para pegawai bersikap ramah,
hangat, dan sering bercanda dengan para peserta magang. “Pembimbingnya baik
banget, bahkan sering beliin makan. Rasanya udah kayak dianggap anak sendiri,”
ujarnya penuh syukur. Kedekatan ini menumbuhkan semangat tersendiri bagi Atika
untuk bekerja dan belajar lebih giat. Ia tak hanya belajar soal pekerjaan
teknis, tetapi juga tentang etika kerja, tanggung jawab, dan disiplin waktu.
“Kalau dulu di kampus aku sering menunda-nunda, tapi di sini aku belajar bahwa
dunia kerja itu nggak bisa seenaknya. Harus tepat waktu, tanggung jawab, dan
bisa dipercaya,” ucapnya dengan mantap.
Meski awalnya ia merasa jurusannya tak terlalu berkaitan
dengan bidang kearsipan, ternyata banyak pengalaman yang justru menambah
wawasan dan memperluas cara pandangnya. “Awalnya kupikir nggak ada hubungannya
sama Bahasa Indonesia. Tapi ternyata, waktu bikin media ajar untuk kegiatan
literasi, aku sadar itu masih nyambung banget dengan jurusanku,” jelasnya.
Kegiatan di POCADI yang melibatkan pengajaran dan komunikasi dengan anak-anak,
ternyata memberi ruang bagi Atika untuk menerapkan kemampuan berbahasa dan
berinteraksi secara nyata. “Aku belajar menyusun materi ajar, memilih kata-kata
yang mudah dipahami anak-anak, dan cara menyampaikan pesan dengan menarik,”
tuturnya.
Empat bulan terasa singkat bagi Atika. Namun, di balik waktu
yang terbatas itu, ia menemukan pelajaran hidup yang berharga. Ia belajar
keluar dari zona nyaman, beradaptasi dengan berbagai karakter orang, dan
menghadapi situasi yang sebelumnya tidak ia sukai. “Dulu aku tipe orang yang
pemalu dan nggak suka berhadapan langsung dengan banyak orang. Tapi magang ini
mengubahku. Aku jadi lebih berani, lebih sabar, dan lebih percaya diri,”
katanya dengan nada bangga.
Kini, setelah magang usai, pandangannya terhadap dunia kerja
berubah total. “Ternyata dunia kerja nggak seseram yang aku bayangkan. Memang
harus disiplin, tapi kalau dikerjakan dengan hati, semuanya terasa
menyenangkan,” ucapnya lembut. Sebelum mengakhiri ceritanya, Atika sempat
menyampaikan harapan sederhana namun tulus: “Semoga ilmu yang aku dapat selama
magang ini bisa bermanfaat nanti di dunia kerja. Karena jujur, banyak hal yang
nggak aku dapat di kampus, tapi aku temukan di sini.”
Ketika diminta menggambarkan seluruh pengalamannya dalam satu kalimat, ia tersenyum kecil lalu berkata,
“Magang di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Magetan adalah pengalaman yang tidak pernah terlupakan.”
---Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?