Banner Iklan

Belajar Keluar dari Zona Nyaman di Balik Rak Buku Perpustakaan Magetan

Admin JSN
29 November 2025 | 19.11 WIB Last Updated 2025-11-29T12:11:34Z

 

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM - Bagi sebagian mahasiswa, magang sering kali menjadi langkah pertama untuk mengenal dunia kerja yang sebenarnya. Ada rasa gugup, penasaran, sekaligus semangat untuk membuktikan diri. Begitu pula dengan Atika Ambarwati, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya, yang mendapat kesempatan magang di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Magetan selama empat bulan.

Bagi Atika, pengalaman magang ini bukan hanya soal tugas kuliah, tetapi juga perjalanan pulang ke akar, karena Magetan adalah kota kelahirannya. “Senang banget bisa magang di kota sendiri,” tuturnya. “Selain dekat dengan keluarga, aku juga bisa mengenal instansi pemerintah di daerahku sendiri. Rasanya seperti berkontribusi, meski masih kecil.”

Namun kebahagiaan itu disertai tantangan baru. Dunia kerja yang ia masuki ternyata sangat berbeda dengan dunia kampus. “Kalau di kampus lebih santai, kadang tugas bisa ditunda. Tapi di kantor semuanya teratur dan harus tepat waktu,” katanya sambil tersenyum mengingat hari-hari awalnya.

Hari pertama magang menjadi momen yang sulit dilupakan. Saat tiba di kantor, Atika disambut hangat oleh Ibu Cris, staf bidang pelayanan. “Beliau orangnya ramah banget, langsung membuat suasana jadi nyaman,” kenangnya. Suasana ramah itu membuat Atika tak merasa canggung meski harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Tak hanya dari pembimbing, sambutan hangat juga datang dari rekan-rekan magang lainnya. “Senang banget bisa ketemu teman-teman dari universitas lain. Mereka seru, saling bantu, dan bikin magang jadi nggak terasa membosankan,” ujarnya.

Awalnya, Atika mengira magang di perpustakaan hanya akan berkutat dengan buku menata, menyusun, dan mendata. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menemukan bahwa dunia perpustakaan jauh lebih luas dan dinamis. “Awalnya kupikir cuma bantu menata buku, tapi ternyata banyak banget yang bisa dipelajari. Aku belajar mengklasifikasikan buku berdasarkan sistem tertentu, dan itu hal baru buatku,” jelasnya.

Selain itu, Atika juga dilibatkan dalam berbagai kegiatan sosial literasi yang diadakan oleh dinas, salah satunya di POCADI (Pojok Baca Digital). Di sana, ia berperan sebagai volunter pengajar bahasa Inggris untuk anak-anak serta ikut memperkenalkan perpustakaan kepada siswa-siswa SD di sekitar Magetan. Tugas ini awalnya bukan hal yang mudah bagi Atika. “Jujur, aku dulu nggak suka berinteraksi sama anak-anak kecil. Mereka kadang susah diatur,” katanya sambil tertawa kecil. Tapi justru dari sanalah ia belajar banyak hal. “Lama-lama aku terbiasa dan malah menikmati. Ternyata asyik juga bisa ngajarin mereka dan lihat mereka senang waktu belajar.”

Suasana kerja di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Magetan membuat Atika merasa seperti di rumah sendiri. Para pegawai bersikap ramah, hangat, dan sering bercanda dengan para peserta magang. “Pembimbingnya baik banget, bahkan sering beliin makan. Rasanya udah kayak dianggap anak sendiri,” ujarnya penuh syukur. Kedekatan ini menumbuhkan semangat tersendiri bagi Atika untuk bekerja dan belajar lebih giat. Ia tak hanya belajar soal pekerjaan teknis, tetapi juga tentang etika kerja, tanggung jawab, dan disiplin waktu. “Kalau dulu di kampus aku sering menunda-nunda, tapi di sini aku belajar bahwa dunia kerja itu nggak bisa seenaknya. Harus tepat waktu, tanggung jawab, dan bisa dipercaya,” ucapnya dengan mantap.

Meski awalnya ia merasa jurusannya tak terlalu berkaitan dengan bidang kearsipan, ternyata banyak pengalaman yang justru menambah wawasan dan memperluas cara pandangnya. “Awalnya kupikir nggak ada hubungannya sama Bahasa Indonesia. Tapi ternyata, waktu bikin media ajar untuk kegiatan literasi, aku sadar itu masih nyambung banget dengan jurusanku,” jelasnya. Kegiatan di POCADI yang melibatkan pengajaran dan komunikasi dengan anak-anak, ternyata memberi ruang bagi Atika untuk menerapkan kemampuan berbahasa dan berinteraksi secara nyata. “Aku belajar menyusun materi ajar, memilih kata-kata yang mudah dipahami anak-anak, dan cara menyampaikan pesan dengan menarik,” tuturnya.

Empat bulan terasa singkat bagi Atika. Namun, di balik waktu yang terbatas itu, ia menemukan pelajaran hidup yang berharga. Ia belajar keluar dari zona nyaman, beradaptasi dengan berbagai karakter orang, dan menghadapi situasi yang sebelumnya tidak ia sukai. “Dulu aku tipe orang yang pemalu dan nggak suka berhadapan langsung dengan banyak orang. Tapi magang ini mengubahku. Aku jadi lebih berani, lebih sabar, dan lebih percaya diri,” katanya dengan nada bangga.

Kini, setelah magang usai, pandangannya terhadap dunia kerja berubah total. “Ternyata dunia kerja nggak seseram yang aku bayangkan. Memang harus disiplin, tapi kalau dikerjakan dengan hati, semuanya terasa menyenangkan,” ucapnya lembut. Sebelum mengakhiri ceritanya, Atika sempat menyampaikan harapan sederhana namun tulus: “Semoga ilmu yang aku dapat selama magang ini bisa bermanfaat nanti di dunia kerja. Karena jujur, banyak hal yang nggak aku dapat di kampus, tapi aku temukan di sini.”

Ketika diminta menggambarkan seluruh pengalamannya dalam satu kalimat, ia tersenyum kecil lalu berkata,

“Magang di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Magetan adalah pengalaman yang tidak pernah terlupakan.”

---

Atika Ambarwati
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Belajar Keluar dari Zona Nyaman di Balik Rak Buku Perpustakaan Magetan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now