![]() |
| Dokumentasi Pribadi |
TUBAN | JATIMSATUNEWS.COM – Di balik melimpahnya produksi buah siwalan di wilayah pesisir Tuban, tersimpan potensi ekonomi yang selama ini belum tergarap optimal. Buah siwalan tua yang kerap dianggap tidak bernilai dan berakhir sebagai limbah, ternyata dapat diolah menjadi produk inovatif bernilai jual tinggi apabila didukung dengan kreativitas dan pengetahuan yang tepat.
Buah siwalan tua yang selama ini banyak terbuang di Desa Ngujuran, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban, kini memiliki peluang menjadi produk bernilai ekonomi. Melalui inovasi pengolahan menjadi cokelat siwalan, limbah buah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat diubah menjadi produk pangan dengan nilai tambah.
Inovasi tersebut dikembangkan dan diperkenalkan oleh tim dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, UPN Veteran Jawa Timur yang terdiri atas Yesi Mustika Ningsih, Mirza Andrian Syah, dan Khusniyah melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Menurut Mirza Andrian Syah, Desa Ngujuran merupakan salah satu sentra penghasil siwalan di Kecamatan Bancar. Setiap pohon siwalan mampu menghasilkan sekitar 100 hingga 200 buah dan dapat dipanen hingga empat kali dalam setahun. Namun, tidak seluruh hasil panen memiliki nilai ekonomi.
“Selama ini petani hanya menjual buah siwalan yang masih muda dan berkualitas baik. Sementara buah yang sudah tua biasanya dibuang karena dianggap tidak lagi memiliki nilai jual,” ujarnya.
Padahal, keberadaan limbah siwalan yang menumpuk dapat menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan. Buah yang membusuk berpotensi menimbulkan bau tidak sedap, menjadi tempat berkembang biaknya serangga, serta mengurangi kebersihan lingkungan sekitar kebun.
Melihat kondisi tersebut, tim pengabdian mengembangkan pemanfaatan siwalan tua sebagai bahan isian cokelat. Produk tersebut tidak hanya membantu mengurangi limbah organik, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Mirza menjelaskan bahwa pengolahan limbah menjadi produk pangan bernilai jual merupakan salah satu strategi meningkatkan nilai tambah komoditas lokal. Dengan inovasi tersebut, masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat lingkungan, tetapi juga manfaat ekonomi.
Selain mendukung pengurangan limbah, pengembangan cokelat siwalan juga sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 1 Tanpa Kemiskinan melalui penciptaan peluang usaha baru dan SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan usaha produktif berbasis potensi lokal.
Tim pengabdian berharap inovasi cokelat siwalan dapat menjadi salah satu produk unggulan Desa Ngujuran sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih optimal. Dengan demikian, buah siwalan tua yang sebelumnya hanya menjadi limbah dapat berubah menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Penulis: Mirza Andrian Syah
Dosen Agribisnis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur





Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?