![]() |
| Ketika Orang Pintar Kalah oleh Orang Beruntung, dan Orang 'Edan' Mengubah Sejarah, artikel opini dari Saiful Anam./dok.istimewa |
OPINI | JATIMSATUNEWS.COM:
Ketika Orang Pintar Kalah oleh Orang Beruntung, dan Orang 'Edan' Mengubah Sejarah
Oleh: Saiful Anam
Di warung kopi, di gardu ronda, hingga di serambi pesantren, kita sering mendengar sebuah ungkapan yang terdengar sederhana, tetapi mengandung lapisan makna yang dalam.
"Orang bodoh kalah sama orang pintar. Orang pintar kalah sama orang cerdik. Orang cerdik kalah sama orang beruntung."
Lalu, dengan tawa yang mengundang penasaran, ada yang menambahkan, "Tapi orang beruntung masih kalah sama orang edan."
Tentu saja, kata 'edan' di sini bukan bermakna gangguan kejiwaan. Dalam budaya Jawa, istilah itu sering dipakai untuk menyebut orang yang berani melampaui kelaziman, berani mengambil risiko yang dianggap mustahil oleh kebanyakan orang. Orang yang, meminjam istilah pesantren, nekat sing nganggo pertimbangan, berani melangkah ketika orang lain masih sibuk menghitung kemungkinan gagal.
Humor semacam ini hidup subur di lingkungan Nahdlatul Ulama. Di balik gelak tawa selalu tersimpan hikmah. Orang NU terbiasa menertawakan dirinya sendiri agar tidak mudah menjadi sombong.
Persoalannya, benarkah hidup hanya ditentukan oleh kepintaran?
Ilmu Tidak Sama dengan Kecerdasan
Di zaman digital, informasi dapat diunduh dalam hitungan detik. Namun kebijaksanaan tetap membutuhkan proses seumur hidup.
Ada orang yang hafal ribuan halaman buku, tetapi gagal memahami isi hatinya sendiri. Ada yang mampu menjelaskan teori kepemimpinan dengan sangat meyakinkan, tetapi tidak mampu memimpin keluarganya. Ada pula yang pandai berbicara tentang kejujuran, namun tergoda ketika berhadapan dengan amplop.
Di sinilah kita perlu membedakan tiga jenis kecerdasan.
Kecerdasan intelektual (IQ) membuat seseorang mampu berpikir logis, menganalisis, dan menemukan solusi.
Kecerdasan emosional (EQ) membuatnya mampu mengendalikan amarah, memahami orang lain, serta bekerja sama.
Sedangkan kecerdasan spiritual (SQ) mengingatkan bahwa setiap ilmu akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. SQ menjaga agar kepintaran tidak berubah menjadi kesombongan.
Dalam tradisi pesantren dikenal sebuah nasihat, ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon tanpa buah.
Karena itu, ada ungkapan yang sangat indah, "Mimpi minum air tidak akan menghilangkan dahaga."
Bermimpi menjadi orang saleh tidak membuat seseorang menjadi saleh.
Bermimpi menjadi pemimpin tidak otomatis membuat orang mampu memimpin.
Bahkan bermimpi membaca seribu buku tidak akan menambah satu halaman ilmu jika tidak pernah membuka bukunya.
Empat Tingkatan Pengetahuan
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dapat dilihat dari cara ia menguasai ilmu.
Ada yang tahu sedikit tentang sedikit hal. Mereka mudah kagum sekaligus mudah tersesat.
Ada yang tahu sedikit tentang banyak hal. Tipe ini sering menjadi "ensiklopedia berjalan". Semua topik bisa dibicarakan, walaupun kadang hanya sebatas permukaan.
Ada yang tahu banyak tentang sedikit hal. Mereka adalah para ahli yang mendalami satu bidang hingga sangat rinci.
Dan ada yang tahu banyak tentang banyak hal. Mereka memiliki keluasan wawasan sekaligus kedalaman berpikir. Namun justru orang seperti inilah yang biasanya paling rendah hati. Semakin luas ilmunya, semakin sadar bahwa lautan pengetahuan jauh lebih besar daripada dirinya.
Pintar, Cerdik, Beruntung
Mengapa masyarakat membedakan orang pintar dan orang cerdik?
Karena pintar adalah kemampuan memahami persoalan. Sedangkan cerdik adalah kemampuan membaca keadaan.
Orang pintar tahu jalan. Orang cerdik tahu kapan harus berangkat.
Orang pintar bisa menghitung peluang. Orang cerdik bisa menciptakan peluang.
Tetapi kehidupan sering kali menghadirkan sesuatu yang tidak dapat dihitung dengan rumus apa pun. Namanya keberuntungan.
Dalam bahasa agama, keberuntungan sering kita sebut taufik, barakah, atau fadhal Allah. Ada ruang yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Kita diperintahkan berikhtiar sebaik mungkin, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah.
Karena itulah, orang NU terbiasa menggabungkan kerja keras dengan doa. Setelah rapat panjang, tetap ditutup dengan istigasah. Setelah menyusun strategi, tetap membaca selawat. Sebab mereka sadar, ada wilayah yang hanya bisa ditembus oleh pertolongan Allah.
Lalu, Siapa Orang 'Edan'?
Di sinilah humornya menjadi menarik. Konon, orang beruntung masih bisa dikalahkan oleh orang 'edan'.
Bukan karena kegilaannya. Melainkan karena keberaniannya.
Dialah orang yang berani memulai ketika semua orang masih sibuk menghitung risiko. Dialah yang tetap menanam pohon meski tahu mungkin tidak sempat menikmati buahnya. Dialah yang tetap berbuat baik meskipun tidak ada kamera.
Dalam sejarah Islam, banyak pembaru pada awalnya dianggap 'aneh'. Banyak ulama besar ditertawakan sebelum dihormati. Banyak gagasan besar lahir dari orang-orang yang berani berbeda, tetapi tetap berpijak pada ilmu, adab, dan keikhlasan.
Maka 'edan' yang dimaksud bukan kehilangan akal, melainkan kehilangan rasa takut untuk berbuat baik.
Menjadi Manusia yang Utuh
Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan menjadi yang paling pintar. Bukan pula menjadi yang paling cerdik.
Apalagi sekadar berharap menjadi orang yang beruntung. Yang lebih penting adalah menjadi manusia yang utuh—akalnya tajam, emosinya matang, hatinya bening, ilmunya diamalkan, ikhtiarnya sungguh-sungguh, doanya tidak putus, dan tawakalnya tetap terjaga.
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, kecerdasan tidak diukur dari seberapa sering seseorang memenangkan perdebatan, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya.
Sebab orang pintar mungkin dikenang karena ilmunya. Orang cerdik mungkin dikenang karena strateginya. Orang beruntung mungkin dikenang karena keberhasilannya.
Namun orang yang memadukan ilmu, akhlak, keberanian, dan keikhlasan akan dikenang karena keberkahannya. Dan, bukankah keberkahan itulah yang sejak dahulu menjadi cita-cita utama orang-orang NU: berilmu tanpa sombong, berjuang tanpa pamrih, bercanda tanpa melukai, serta mengabdi tanpa henti. (Rof)
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?