![]() |
| Hadirkan pakar dari Malaysia, UMM ungkap kunci agar Gen Z bermental baja./dok. UMM |
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - Universitas Muhammadiyah Malang membongkar rahasia mental baja generasi Z yakni penting sikap asertif dan social support. Bagaimana implementasinya?
Generasi Z sering kali dilabeli sebagai generasi stroberi. Layaknya buah stroberi yang tampak segar dan memikat di luar, mereka dianggap sangat rentan memar dan hancur ketika mendapat sedikit saja tekanan.
Stigma ini seolah menjadi bayang-bayang kelam yang terus mengikuti anak muda di tengah kerasnya arus tuntutan zaman.
Menyadari fenomena krisis tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menolak untuk diam. Kampus inovatif ini berupaya menulis ulang narasi itu dengan tekad mencetak mahasiswa yang tangguh secara mental.
Melalui Fakultas Psikologi, UMM secara khusus menggelar kuliah tamu internasional bertajuk 'From Risk to Resilience: Psychological Approaches in Youth Development' di Aula GKB IV lantai 4, Jumat (8/5).
Agenda ini menghadirkan pakar dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Assoc Prof. Dr. Nasrudin Subhi, forum ini membedah anatomi ketahanan jiwa di era digital. Pada paparannya, ia menbedah realitas bahwa ancaman bagi mahasiswa saat ini telah bermutasi secara drastis.
"Ancaman nyata yang dihadapi generasi muda sekarang bukan lagi sekadar setumpuk tugas makalah atau ujian akhir yang menegangkan. Kalian berhadapan dengan monster siber seperti perundungan online hingga jebakan penyalahgunaan zat berbahaya yang siap menggerus mental," ungkap Subhi.
Ia menyoroti akar masalah yang kerap bermula dari pola asuh keluarga modern yang terlalu memanjakan anak. Akibatnya, saat remaja masuk ke dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian ekstrem, benturan realitas atau culture shock tidak dapat dielakkan.
Jika krisis transisi ini dibiarkan tanpa kendali, dampaknya bisa sangat fatal, mulai dari memicu depresi hingga tindakan agresi.
Agar dapat memutus rantai kerentanan itu, Subhi menawarkan penawar berupa resiliensi mental. Langkah esensial pertama adalah berani membangun sikap asertif di lingkungan pertemanan kampus.
"Ingat, kita harus memiliki sifat asertif. Artinya, Anda tahu kapan harus mengatakan 'ya' dan punya keberanian mutlak untuk menolak demi kebaikan diri sendiri," ujarnya.
Selain regulasi emosi yang proporsional, pertahanan diri ini wajib ditopang oleh jejaring dukungan sosial (social support). "Jangan asal bergaul. Carilah teman yang tidak hanya hadir saat senang, tetapi kelompok sahabat yang bersedia menemani dan saling menegur di waktu susah," imbaunya.
Ketua Program Studi Psikologi UMM, Hanif Akhtar, S.Psi., M.A., menuturkan kolaborasi dengan kampus dari negeri jiran tersebut dirancang agar mahasiswa siap menghadapi realitas zaman. Ia pun menyebut langkah strategis menghadirkan akademisi mancanegara ini merupakan wujud nyata visi besar kampus.
"Mahasiswa saat ini hidup di tengah tantangan yang luar biasa kompleks. Oleh sebab itu, mereka perlu dibekali cara mengenali faktor risiko sekaligus membangun resiliensi agar dapat berkembang secara adaptif," ujar Hanif.
Melalui agenda ini, UMM membuktikan komitmennya melalui langkah preventif terhadap realitas psikologis sosial masa kini. "Melalui forum kolaborasi ini, kami tidak hanya mentransfer pengetahuan teoritis semata, melainkan juga membekali mereka dengan jejaring wawasan global," tegas Hanif. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?