![]() |
| Foto Kegiatan. Sumber : Istimewa |
ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM : Kalau kita mau jujur, cara manusia Indonesia berkomunikasi hari ini berbeda jauh dari dua atau tiga dekade lalu. Bukan hanya soal alat yang dipakai, tetapi juga soal cara berpikir, cara menyampaikan pendapat, bahkan cara mempercayai sebuah informasi. Di sinilah letak kompleksitas sistem komunikasi Indonesia ia bukan sekadar jaringan teknis antara pengirim dan penerima pesan, melainkan sebuah proses hidup yang terus bergerak, dipengaruhi oleh nilai sosial, budaya, dan tekanan politik yang datang silih berganti.
Artikel ini lahir dari sebuah refleksi sederhana yang saya geluti selama mengikuti perkuliahan Sistem Komunikasi Indonesia. Saya, M. Wafiq Khoirum Mizan, mencoba menuangkan pandangan ini bukan sebagai peneliti yang melihat dari sisi teori, melainkan sebagai bagian dari generasi yang tumbuh dan hidup bersama perubahan itu sendiri.
Globalisasi menjadi salah satu kekuatan terbesar yang mendorong
perubahan tersebut. Ketika batas geografis seolah lenyap berkat kehadiran
internet dan media sosial, informasi dapat menjangkau pelosok desa hanya dalam
hitungan detik. Ini tentu membawa kabar baik masyarakat kini punya akses lebih
luas terhadap pengetahuan, ruang ekspresi terbuka lebih lebar, dan suara-suara
yang dulu terpinggirkan kini bisa didengar. Namun di balik kemudahan itu, ada
harga yang harus dibayar: banjir informasi yang tidak selalu bisa dipercaya,
arus budaya luar yang kadang menggerus nilai lokal, serta ketimpangan akses
yang masih nyata terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
Tantangan yang Tidak Bisa Diabaikan
Salah satu persoalan paling mendasar
dalam sistem komunikasi Indonesia saat ini adalah misinformasi.
Kemudahan memproduksi dan menyebarkan konten membuat siapa saja bisa menjadi
"jurnalis dadakan" tanpa bekal verifikasi yang memadai. Hoaks
menyebar bukan karena masyarakat bodoh, melainkan karena kecepatan berbagi jauh
melampaui kecepatan berpikir kritis. Fenomena ini sudah lama diidentifikasi
oleh para peneliti komunikasi sebagai salah satu risiko terbesar dari
demokratisasi media digital (Azizah dkk., 2025).
Belum lagi soal digital divide
atau kesenjangan digital. Indonesia adalah negara kepulauan dengan ribuan pulau
dan beragam kondisi geografis. Infrastruktur teknologi informasi di wilayah
Indonesia Timur seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur masih jauh
tertinggal dibanding kota-kota besar di Jawa. Akibatnya, partisipasi komunikasi
global menjadi hak eksklusif mereka yang tinggal di daerah dengan jaringan
memadai. Sementara masyarakat di pelosok masih mengandalkan radio atau
komunikasi tatap muka sebagai sumber informasi utama, warga kota sudah
berselancar di platform-platform digital yang terus berkembang. Kesenjangan ini
bukan semata-mata soal teknologi, melainkan soal keadilan informasi.
Di sisi lain, media tradisional yang
selama ini menjadi tulang punggung penyebaran informasi kini sedang berjuang
keras mempertahankan relevansinya. Generasi muda lebih memilih mengonsumsi
berita lewat platform digital yang ringkas dan cepat, membuat oplah koran terus
merosot dan rating televisi konvensional terpangkas. Ironisnya, tekanan ekonomi
yang dihadapi media tradisional justru kadang mendorong mereka menurunkan
standar jurnalistik demi meraih klik dan penonton sebuah lingkaran setan yang
pada akhirnya merugikan kualitas informasi publik.
Tantangan lain yang tidak kalah serius adalah soal identitas budaya.
Arus globalisasi membawa serta nilai-nilai dan gaya hidup dari luar yang kerap
berbenturan dengan kearifan lokal. Sistem komunikasi yang tidak memiliki akar
budaya yang kuat akan mudah goyah dan kehilangan jati dirinya. Padahal, sebagaimana diuraikan oleh
Aditia (2021), sistem komunikasi Indonesia sejatinya berdiri di atas tiga
fondasi sekaligus: proses sosial, proses budaya, dan proses politik. Ketiganya
saling menopang dan tidak bisa dipisahkan begitu saja.
Harapan yang Masih Layak
Diperjuangkan
Meski tantangannya besar, bukan
berarti tidak ada ruang untuk optimisme. Indonesia memiliki modal sosial yang
luar biasa: keberagaman budaya, kekayaan bahasa daerah, dan tradisi komunikasi
komunal yang sudah mengakar jauh sebelum era digital datang. Potensi ini, bila
dikelola dengan bijak, justru bisa menjadi kekuatan unik dalam membentuk sistem
komunikasi yang otentik dan berdaya saing.
Harapan pertama tentu tertumpu pada literasi
digital. Masyarakat yang melek media bukan hanya tahu cara menggunakan
teknologi, tetapi juga mampu menilai kualitas informasi yang mereka terima,
mengenali sumber yang kredibel, dan tidak mudah terprovokasi oleh konten yang
menyesatkan. Pendidikan literasi digital harus menjadi prioritas bukan hanya di
bangku sekolah, tetapi juga melalui kampanye komunitas yang menjangkau
kelompok-kelompok yang selama ini luput dari perhatian.
Harapan kedua ada pada kebijakan
yang lebih inklusif. Pemerintah perlu mempercepat pembangunan infrastruktur
teknologi informasi di daerah-daerah terpencil, bukan sekadar memenuhi target
statistik, tetapi benar-benar memastikan konektivitas yang merata. Ketika
setiap warga negara memiliki akses yang setara terhadap informasi, baru kita
bisa berbicara tentang partisipasi komunikasi yang sejati.
Harapan ketiga adalah sinergi antara media tradisional dan platform digital. Keduanya tidak harus saling mematikan justru kolaborasi di antara keduanya bisa menghasilkan ekosistem informasi yang lebih sehat. Media tradisional membawa rekam jejak standar jurnalistik yang teruji, sementara platform digital menawarkan jangkauan dan kecepatan yang tak tertandingi. Bila keduanya bisa berjalan beriringan, publik akan diuntungkan dengan informasi yang cepat sekaligus dapat dipercaya.
Menutup dengan Refleksi
Sistem komunikasi Indonesia, seperti yang digambarkan oleh Wiryany
dkk. (2022), terus berevolusi seiring perubahan zaman. Ia tidak pernah berdiri
diam ia bergerak, menyesuaikan diri, kadang tersandung, lalu bangkit lagi. Yang
paling penting bukan seberapa canggih teknologi yang kita gunakan, melainkan
seberapa bijak kita memanfaatkannya.
Di era globalisasi ini, tantangan memang nyata dan tidak ringan. Tetapi harapan juga nyata, asalkan kita mau bersungguh-sungguh: membangun manusia yang melek informasi, memastikan teknologi menjangkau semua orang tanpa terkecuali, dan menjaga agar komunikasi tetap menjadi jembatan bukan tembok yang menghubungkan sesama anak bangsa.
Daftar Pustaka
Aditia, R.
(2021). Sistem komunikasi Indonesia: Suatu proses sosial, budaya, dan politik. Connected:
Jurnal Ilmu Komunikasi, 2(1), 1–10.
https://jpii.upri.ac.id/index.php/connected/article/view/9
Nurwahyu Azizah, A. R., Tasruddin, R., &
Wahyudi, N. A. R. (2025). Teknologi komunikasi: Komunikasi massa dan globalisasi. AL-MUTSLA, 7(1),
100–117.
https://doi.org/10.46870/jstain.v7i1.1388
Wiryany, D., Natasha, S., &
Kurniawan, R. (2022). Perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi terhadap perubahan sistem komunikasi
Indonesia. Jurnal Nomosleca, 8(2), 242–252. https://doi.org/10.26905/nomosleca.v8i2.8821
Penulis : M. Wafiq Khoirum Mizan, Mahasiswa Mata Kuliah Sistem Komunikasi Indonesia, di bawah bimbingan Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?