Banner Iklan

Kasturi dan Wangi Kasturi

Admin JSN
09 Mei 2026 | 19.58 WIB Last Updated 2026-05-09T12:58:34Z
Artikel Kasturi dan Wangi Kasturi dari Saiful Anam./dok. Istimewa

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM:

Kasturi dan Wangi Kasturi
Oleh Saiful Anam

Pada zaman yang memuliakan tampilan, kita semakin fasih menyusun bentuk—tetapi kian gagap menyentuh makna.

Kita membangun simbol, merawat citra, bahkan merumuskan kebenaran dalam rupa yang mudah dikenali. Namun, dalam tradisi batin yang lama dirawat oleh Nahdlatul Ulama—dan dihidupkan dalam disiplin raga-jiwa seperti Pagar Nusa—ada satu peringatan halus yakni jangan berhenti pada wangi, sebab ia hanya penunjuk; carilah kesturi, sebab di sanalah hakikat berdiam.

Saya membaca ulang sebuah fragmen hikmah tentang 'kesturi dan wanginya'. Ia tidak menggurui, tetapi membongkar cara kita melihat dunia.

Dialog antara seorang guru dan pangeran membuka satu lapisan kesadaran bahwa nilai tidak terletak pada peristiwa lahiriah, melainkan pada relasi batin dengan sumber kebaikan. Dalam bahasa pesantren, al-‘ibrah bi al-ma’ani la bi al-alfazh—yang diambil adalah makna, bukan sekadar lafaz dan rupa.

Di titik ini, kategori benar–salah tidak lagi berdiri di permukaan. Orang yang menyerang justru disebut sebagai pihak yang terluka—bukan sebagai pembenaran atas kekerasan, melainkan sebagai pembacaan ontologis berupa tindakan yang menjauh dari kebaikan adalah gejala keterputusan dari asalnya. Dalam khazanah tasawuf yang akrab di kalangan Nahdliyin, ini adalah ghaflah—kelupaan eksistensial terhadap Yang Maha Menghadirkan.

Sebaliknya, figur kenabian ditampilkan sebagai 'yang terluka' dalam makna yang paling jernih yaitu tetap berada dalam kebenaran di segala keadaan. Ia tidak ditentukan oleh kemenangan atau kekalahan, tetapi oleh istiqamah pada prinsip. Di sini, etika tidak tunduk pada hasil, melainkan berakar pada keselarasan dengan kehendak Ilahi.

Kita diajak meninggalkan cara pandang utilitarian yang mengukur kebenaran dari capaian, menuju cara pandang tauhidik yang memandang hasil sebagai wilayah Tuhan, sementara kesungguhan adalah wilayah manusia.

Namun teks ini tidak berhenti pada etika personal, ia menjalar ke ranah kepemimpinan dan pengetahuan. Pangeran diibaratkan sebagai akal dalam tubuh yaitu pusat koordinasi yang menjaga harmoni.

Ketika anggota tubuh membangkang, rusaklah keseluruhan. Analogi ini sederhana, tetapi tajam—ia mengingatkan bahwa krisis sosial sering berakar pada krisis kesadaran, bukan semata krisis struktur.

Dalam tradisi Pagar Nusa, pelajaran ini diterjemahkan ke dalam laku tubuh dilatih, tetapi bukan untuk menundukkan yang lain—melainkan untuk menaklukkan diri. Musuh utama bukan yang berdiri di hadapan, tetapi yang bersemayam di dalam seperti nafsu, amarah, dan pikiran yang tak terkendali. Inilah yang oleh para ulama disebut jihad akbar—perang sunyi yang menentukan kualitas manusia.

Teks itu menyebut pikiran sebagai pusat dan bentuk hanyalah alat. Tanpa kejernihan pikiran, segala bentuk menjadi beku—tak bernyawa.

Pernyataan ini, jika dibaca dalam kerangka epistemologi pesantren, mengarah pada satu hal yaitu ilmu tidak berdiri sendiri; ia membutuhkan adab. Dan adab lahir dari kejernihan batin. Tanpa itu, pengetahuan hanya menjadi kumpulan data yang kehilangan arah.

Lebih jauh, relasi antara usaha manusia dan kehendak Tuhan ditempatkan dalam tegangan yang produktif.

Usaha diakui, bahkan dituntut. Tetapi ia tidak absolut. Kehendak Ilahi dapat melampaui seluruh kalkulasi. Yang kecil bisa menjadi besar, yang lemah bisa mengalahkan yang kuat, yang tampak mustahil bisa menjadi nyata.

Ini bukan fatalisme, melainkan kesadaran tauhid bahwa sebab-sebab bekerja, tetapi bukan sebagai penentu terakhir.

Kesadaran ini penting, terutama di tengah kecenderungan zaman yang mengultuskan rasionalitas teknokratis. Kita diajarkan untuk menghitung, merencanakan, dan mengendalikan. Tetapi teks ini mengingatkan, ada wilayah yang tidak tunduk pada hitungan—wilayah rahmat. Di sana, logika manusia berhenti, dan ketundukan dimulai.

Puncak refleksi ini hadir dalam analogi yang sederhana, tetapi menghantam: kesturi dan wanginya. Wangi adalah tanda—ia menuntun, tetapi tidak menyempurnakan. Banyak orang berhenti pada tanda seperti pada simbol agama, pada atribut kesalehan, pada performa sosial. Padahal tanda bisa hilang, berubah, bahkan menipu.

Hakikat adalah kesturi itu sendiri—yang tidak bergantung pada persepsi luar.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, ini berkelindan dengan jalan syariat–thariqat–hakikat. Syariat memberi bentuk, thariqat memberi arah, dan hakikat memberi makna.

Berhenti pada syariat tanpa menempuh thariqat, kita hanya akan mengoleksi bentuk. Menempuh thariqat tanpa sampai pada hakikat, kita hanya akan berputar dalam pengalaman. Hakikat adalah titik di mana pencarian berhenti bukan karena kehabisan jalan, tetapi karena telah sampai.

Di sinilah teks itu mengajukan tuntutan paling sunyi yakni jangan puas menjadi penikmat wangi. Jadilah kesturi.

Ini bukan ajakan untuk menolak dunia, melainkan untuk menempatkannya secara proporsional. Dunia, dengan seluruh bentuknya, adalah 'musim dingin'—padat, membeku, dan sering menipu. Ia membutuhkan hembusan Ilahi agar mencair—agar makna kembali mengalir. Tanpa itu, manusia akan hidup dalam kepadatan karena banyak bentuk namun sedikit makna.

Menjadi kesturi berarti menjadi sumber, bukan sekadar peniru. Ia berarti melampaui ketergantungan pada pengakuan luar, dan berakar pada kesadaran yang tidak mudah goyah. Ia berarti hadir sebagai makna, bukan sekadar bentuk.

Dalam dunia yang terus memproduksi citra, mungkin inilah jalan yang paling jarang dipilih—tetapi justru paling diperlukan: jalan batin yang tidak riuh, tetapi jernih; tidak cepat, tetapi dalam.

Dari wangi, kita belajar mengenal.
Dari kesturi, kita belajar menjadi
.

***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kasturi dan Wangi Kasturi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now