![]() |
| Antara Emosi dan Rasionalitas: Pergulatan Manusia dalam Mengambil Keputusan ditulis oleh Saiful Anam./dok. Istimewa |
OPINI | JATIMSATUNEWS.COM:
Antara Emosi dan Rasionalitas: Pergulatan Manusia dalam Mengambil Keputusan
Oleh Saiful Anam
Dalam kehidupan manusia, hampir setiap detik adalah ruang pengambilan keputusan. Sejak seseorang membuka mata di pagi hari hingga kembali menutupnya di malam hari, hidup terus bergerak di antara pilihan-pilihan seperti memilih kata, memilih sikap, memilih tindakan, bahkan memilih diam. Karena itu, kehidupan pada hakikatnya bukan sekadar perjalanan waktu, melainkan rangkaian keputusan yang saling menentukan arah masa depan.
Tidak ada keputusan yang benar-benar berdiri sendiri. Setiap pilihan membawa konsekuensi psikologis, sosial, moral, bahkan historis.
Sebuah keputusan yang tampak kecil hari ini dapat menjadi sumber kebahagiaan atau penderitaan di masa depan, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga, lingkungan sosial, bahkan generasi setelahnya. Dalam konteks itulah pengambilan keputusan menjadi salah satu persoalan paling mendasar dalam filsafat manusia.
Persoalannya, manusia tidak selalu mengambil keputusan dalam keadaan jernih.
Sering kali seseorang dihadapkan pada dilema yang membuat batinnya terpecah. Hati dipenuhi kecemasan, pikiran dipenuhi keraguan, sementara emosi bergerak lebih cepat daripada pertimbangan rasional.
Pada titik tertentu, proses pengambilan keputusan berubah menjadi medan peperangan psikologis. Akal mencoba mencari objektivitas, tetapi emosi menuntut pelampiasan. Nurani ingin berhati-hati, tetapi ego mendesak untuk segera bertindak.
Dalam keadaan demikian, banyak manusia akhirnya mengambil keputusan bukan untuk menyelesaikan masalah, melainkan untuk menenangkan gejolak emosinya sesaat.
Di sinilah letak tragedi besar manusia modern. Banyak keputusan lahir bukan dari kejernihan berpikir, melainkan dari kemarahan, rasa kecewa, dendam, ketakutan, atau keinginan memperoleh ketenangan instan. Akibatnya, keputusan yang seharusnya menjadi jalan keluar justru berubah menjadi sumber penderitaan baru.
Seseorang yang marah mungkin merasa lega setelah melontarkan kata-kata kasar, tetapi penyesalan datang setelah hubungan hancur.
Seseorang yang kecewa mungkin merasa tenang setelah memilih pergi, tetapi kemudian menyadari bahwa keputusan itu dibuat bukan karena kebenaran, melainkan karena luka emosional yang belum selesai.
Dalam konteks sosial, banyak konflik keluarga, perpecahan politik, hingga pertikaian antar kelompok lahir dari keputusan yang diambil dalam kondisi psikologis yang tidak stabil.
Filsafat klasik sejak lama telah mengingatkan bahaya dominasi emosi dalam pengambilan keputusan.
Aristotle memandang bahwa kebajikan manusia terletak pada kemampuan menjaga keseimbangan antara dorongan emosi dan pertimbangan rasional. Dalam pandangan etika Aristotelian, manusia yang baik bukan manusia tanpa emosi, melainkan manusia yang mampu menempatkan emosinya di bawah kendali akal sehat.
Sementara itu, dalam tradisi spiritual Islam, hati yang gelisah dipandang sebagai keadaan yang dapat mengaburkan kejernihan penilaian. Karena itu, para ulama sering menekankan pentingnya tuma’ninah—ketenangan jiwa—sebelum seseorang mengambil keputusan besar. Sebab hati yang sedang 'berperang' cenderung melihat realitas secara parsial dan impulsif.
Analogi sederhana dapat menjelaskan hal ini, manusia tidak dianjurkan makan sambil berjalan tergesa-gesa karena tubuh membutuhkan ketenangan agar proses berjalan baik.
Jika dalam urusan fisik saja ketenangan diperlukan, maka terlebih lagi dalam urusan keputusan hidup yang dampaknya jauh lebih besar. Keputusan yang lahir dari kegaduhan batin sering kali kehilangan objektivitasnya.
Secara psikologis, emosi memang memiliki kekuatan besar terhadap cara manusia berpikir. Neurosains modern menunjukkan bahwa dalam kondisi emosi tinggi—marah, takut, panik, atau sedih—kemampuan otak untuk melakukan pertimbangan rasional mengalami penurunan. Akibatnya, manusia lebih mudah mengambil keputusan impulsif yang hanya berorientasi pada kepuasan emosional jangka pendek.
Inilah sebabnya banyak keputusan yang tampak 'melegakan' hari ini justru berubah menjadi penyesalan di masa depan.
Sebaliknya, keputusan yang lahir dari pikiran tenang cenderung lebih visioner. Ketika emosi mereda, manusia mampu melihat persoalan secara lebih utuh untuk mempertimbangkan risiko, dampak jangka panjang, nilai moral, dan konsekuensi sosialnya.
Rasionalitas dalam konteks ini bukan berarti menyingkirkan perasaan, melainkan menempatkan emosi dalam proporsi yang sehat agar tidak mendominasi kesadaran.
Namun manusia juga tidak dapat hidup hanya dengan rasionalitas dingin. Kehidupan bukan mesin matematika yang seluruhnya dapat dihitung secara objektif.
Dalam banyak situasi, empati, cinta, intuisi, dan nurani juga memainkan peranan penting. Karena itu, kebijaksanaan sejati bukan memilih antara emosi atau rasionalitas, melainkan menciptakan harmoni di antara keduanya.
Emosi memberi manusia kedalaman kemanusiaan, sementara rasionalitas memberi arah agar kedalaman itu tidak berubah menjadi kehancuran.
Di era digital hari ini, pergulatan tersebut menjadi semakin kompleks. Media sosial membentuk budaya reaktif dengan mendorong manusia untuk segera berkomentar, segera marah, segera menghakimi, dan segera mengambil posisi tanpa proses refleksi yang matang.
Akibatnya, keputusan publik maupun pribadi makin sering lahir dari ledakan emosional sesaat daripada pertimbangan mendalam.
Padahal peradaban besar tidak dibangun oleh keputusan impulsif, melainkan oleh kemampuan manusia menunda reaksi, merenungkan akibat, dan berpikir melampaui kepentingan sesaat.
Pada akhirnya, kualitas kehidupan manusia sangat ditentukan oleh kualitas keputusan yang diambilnya. Dan kualitas keputusan sangat bergantung pada kualitas kesadaran batin ketika keputusan itu dibuat.
Karena itu, sebelum mengambil keputusan, manusia sesungguhnya tidak hanya perlu bertanya, "Apa yang membuat hati saya tenang saat ini?" tetapi juga, "Apakah keputusan ini masih akan membawa kebaikan bagi hidup saya di masa depan?"
Sebab ketenangan emosional sesaat belum tentu melahirkan kebahagiaan jangka panjang. Banyak keputusan terasa benar ketika hati sedang terluka, tetapi kemudian berubah menjadi sumber penderitaan setelah emosi mereda.
Maka dalam pergulatan antara emosi dan rasionalitas, manusia membutuhkan satu hal yang lebih tinggi dari keduanya yaitu kebijaksanaan. Karena hanya dengan kebijaksanaan manusia mampu melihat bahwa tidak semua yang menenangkan hati hari ini akan menyelamatkan kehidupan di masa depan. (Rof)
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?