![]() |
| Gus Shampton Saat Memberikan Mauidloh Hasanah |
MALANG – Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Malang Achmad Shampton, M.Ag menyampaikan pesan mendalam dalam acara Muwaddaah (perpisahan) santri Ma'had Darul Hikmah yang berada dibawah naungan MAN 1 Kota Malang. Di hadapan para wali santri, Kasubag TU, Kasi Pontren, Kepala MAN 1 Dr. Sutirjo serta para Kepala Madrasah pendahulu, beliau menekankan bahwa gelar keilmuan yang diraih para santri bukanlah akhir, melainkan awal dari ujian pengabdian yang sesungguhnya.
Dalam sambutan pada giat yang diselenggarakan di halaman MAN 1 Kota Malang 18 April 2026 ini, beliau menggarisbawahi tiga poin utama yang menjadi bekal bagi para santri yang kini telah menyandang status sebagai orang yang berilmu (alim).
1. Keterbukaan terhadap Koreksi: Belajar dari Ibnu Abbas
Dalam Muwaddaah Ma'had Darul Hikmah yang diasuh Dr. Syarifuddin MA ini, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Malang, mengingatkan bahwa seorang yang berilmu tidak boleh merasa paling benar. Beliau mencontohkan peristiwa besar dalam sejarah tafsir saat Abdullah bin Abbas dikoreksi oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib terkait tafsir surah Al-Adiyat.
"Saat itu Ibnu Abbas menafsirkan Wal Adiyati Dlobha sebagai kuda perang. Namun, Sayyidina Ali menegur dengan lembut namun tegas, mengingatkan bahwa pada Perang Badr, umat Islam hanya memiliki dua ekor kuda. Sayyidina Ali menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah unta yang menempuh perjalanan haji," urai beliau.
Pesan moralnya jelas: "Seorang alim harus berjiwa besar. Jika sekelas Ibnu Abbas saja bersedia dikoreksi demi kebenaran, maka kita tidak boleh menutup diri dari masukan dan kritik."
2. Ilmu dan Capaian sebagai Fitnah (Ujian)
Mengutip Surah Al-Anbiya ayat 35, Kepala Kemenag mengingatkan bahwa keberhasilan akademik dan kedudukan yang diraih para lulusan Ma'had Darul Hikmah adalah pedang bermata dua.
"Dan Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan."
"Capaian yang kalian dapatkan hari ini bisa menjadi fitnah atau ujian bagi hati. Jangan sampai ilmu membuat kita merasa lebih tinggi dari orang lain. Kesuksesan adalah ujian syukur, sebagaimana kegagalan adalah ujian sabar," tegasnya di hadapan para wali santri.
3. Meneladani Falsafah Padi Asif Barkhiya
Terakhir, beliau mengajak para santri untuk menjaga "falsafah padi"—kian berisi kian merunduk. Beliau merujuk pada kisah Asif Barkhiya (sosok yang memiliki ilmu dari Al-Kitab) saat memindahkan singgasana Ratu Balqis dalam sekejap mata.
Alih-alih menyombongkan kekuatannya yang melebihi Jin Ifrit, Asif Barkhiya (sebagaimana terekam dalam Surah An-Naml: 40) justru berucap: "Hadza min fadhli Rabbi" (Ini adalah karunia dari Tuhanku).
"Inilah puncak dari segala ilmu. Mengakui bahwa segala kecerdasan dan kemampuan kita hanyalah titipan (fadlol) dari Allah SWT. Tanpa sandaran pada Sang Pencipta, ilmu hanya akan melahirkan kesombongan," pungkasnya.
Acara yang berlangsung khidmat tersebut ditutup dengan doa bersama, menandai kembalinya para santri ke tengah masyarakat untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh dengan semangat integritas dan kerendahan hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?