Oleh,: Akhmad Fauzi, S.Ag., M.Pd.I
Malang, Jum'at, 20 Maret 2026
Ramadhan Berakhir
1. Senja Terakhir di Bulan Sabit*
Langit sore mengikir jingga jadi tembaga tua,
sabit menggantung tipis, seperti benang doa yang hampir putus. Anak-anak menutup buku iqra’, suara mereka menguap.
Ibu menata kurma sisa, menghitung malam yang tinggal satu.
Aku berdiri di beranda, menimbang Ramadhan seperti beras di tampah:
ada yang utuh, ada yang berkeping.
Angin membawa bau tanah basah dari sawah jauh,
mengingatkan tarawih pertama—dingin, ramai, penuh tekad.
Sekarang tekad itu tinggal residu, manis-pahit di lidah.
Telepon bergetar: “Besok takbiran, jangan telat.”
Aku jawab ya, sambil menatap sabit yang kian kurus.
Bulan tak menangis; ia hanya menghilang, memberi ruang.
Aku belajar: menghilang bukan berarti gagal.
Kadang yang tipis justru paling terang,
karena ia memaksa mata memperbesar maknanya.
*2. Jejak Sekah di Sepertiga Malam*
Jam dinding menunjuk dua lewat, rumah kelelahan.
Di atas sajadah, kain beludru menyimpan cekung kecil—
bekas lutut, bekas jidat, bekas gumam.
Itulah jejak sekah: bukan retak dinding yang menjerit,
melainkan cekungan halus tempat harap menggenang.
Semula aku mengejar kuantitas rakaat,
kini yang tertinggal hanya rasa punggung yang pegal.
Pegal itu jujur; ia tak berpura-pura khusyuk.
Kumatikan lampu, menyisakan siluet jam dan bayangan.
Malam sepertiga itu seperti cermin buram,
memperlihatkan wajah tanpa filter sahur.
Ada mata sembap, ada bibir kering,
tapi juga ada janji: besok coba lagi.
Jejak sekah bukan aib—ia bukti pernah bergulat.
Tuhan tak meminta karpet mulus, hanya niat yang kembali.
*3. Adzan Penutup di Pintu Taubat*
Kupikir taubat berisik, penuh isak dan daftar dosa.
Ternyata ia berderit pelan, seperti engsel pintu lama.
Adzan subuh terakhir Ramadhan mengalun,
nadanya sama, tapi pagi terasa ganjil.
Aku letakkan kening di kusen, bukan di sajadah.
Kayunya kasar; menyerap keringat dan ragu.
“Hayya ‘alal falah”—mari menuju menang,
tapi menang macam apa? Bukan trofi, mungkin lentera.
Pintu ini tidak mengarah ke ruangan baru,
melainkan ke lorong yang sama dengan cermin berbeda.
Di cermin itu aku tampak lebih pendek,
karena membungkuk lama selama tigapuluh hari.
Bunyi iqamah menyusul; jihad kecil dimulai lagi.
Taubat rupanya bukan garis finis,
melainkan jeda napas sebelum langkah berikutnya.
*4. Lampu Tadarus yang Meredup*
Mushaf kubuka di halaman Al-Kahfi, ayat pertama.
Bohlam dua puluh watt berkedip, demam listrik.
Setiap kedip seperti tanda baca alami: koma, jeda, tunda.
Tetangga mematikan radio, memberi ruang.
Aku baca lebih lambat, menelan tiap harakat.
Kemarin aku mengejar khatam,
sekarang aku menunda di satu kata: “qaryah.”
Sebuah desa—apakah desaku?
Lampu meredup bukan pemadaman,
melainkan undangan agar mata beristirahat,
biar hati yang membaca.
Ayat-ayat tak butuh watt; mereka punya cahaya sendiri.
Kututup mushaf, tapi gema konsonan masih di langit-langit mulut.
Di luar, sabit mengapung seperti perahu kertas.
Aku belajar: kadang meredup justru memperjelas.
*6. Surat Cinta untuk Syawal yang Menunggu*
Syawal, maafkan aku datang dengan kantong berlubang.
Ramadhan mengambil koin-koin kesabaran, menyisakan receh.
Tapi aku bawa pulang satu hal: lidah yang memeriksa diri
sebelum menuduh orang lain.
Ini bukan surat resmi, tanpa kop surat masjid.
Kutulis di kertas bekas jadwal imsak,
agar kau tahu aku tidak menimbun kemasan suci.
Syawal, jangan paksa aku berlari.
Biar aku menapak pelan, membawa bekas sujud
yang masih lekat di kulit lutut.
Aku janji tidak akan membual: “Aku berubah total.”
Aku hanya tukar satu kebiasaan—mengghibah jadi menghela napas.
Cukup, kan?
Teras rumah sudah kusapu, tikar kubersihkan.
Masuklah, Syawal. Kita mulai dari senyum biasa.
*7. Takbir yang Membelah Subuh*
Sebelum muazin, tikus-tikus atap berdebat.
Lalu takbir datang, bukan dari speaker tapi dari dada: “Allahu Akbar.”
Kalimat itu mengiris gelap seperti pisau roti hangat.
Subuh terbelah, menampakkan isinya: cahaya tipis dan harapan tebal.
Kami balas, “Allahu Akbar,” dengan selimut masih di pundak.
Suara kami serak, tapi niatnya steril.
Kemenangan? Bukan piala, melainkan sadar bahwa nafsu
bisa diparkir sebentar.
Ayam berkokok, ikut takbirnya sendiri.
Di jalan, tetangga menuntun sepeda anaknya,
istrinya membawa nampan ketupat—bendera putih sehari-hari.
Kami berjalan, bukan berbaris.
Takbir membelah subuh, lalu subuh menyatukan kami.
Hari baru tidak meminta pidato, hanya langkah.
8. *Fajar Kemenangan di Sajadah Lapang*
Lapangan sepak bola jadi masjid dadakan,
rumput menekuk di bawah sajadah dan sajadah di atas rumput.
Tak ada mihrab permanen, hanya tali rafia pembatas.
Imam naik bak truk terpal, suaranya melompat-lompat.
Barisan lurus, tapi kaki-kakinya beda cerita:
ada kapalan buruh, ada kuku terawat akuntan.
Fajar menetes di ubun-ubun, tidak pilih kepala.
Kemenangan diukur dari jarak bahu: rapat, tapi tidak menginjak.
Sujud pertama, tanah lembap mengingatkan garden Ramadan.
Sujud kedua, lutut ingat sepertiga malam.
Tidak ada yang menangis keras; cukup mata sembap.
Kami bangkit membawa rumput liar di dahi, tanda gratis dari bumi.
Fajar tidak memberi medali,
hanya menghangatkan punggung yang lelah menunduk.
*9. Salam-salam Pulang dari Medan Jiwa*
Medan jiwa kami: kulkas penuh tapi menahan diri,
mulut gatal tapi mengunyah diam.
Sebulan lamanya, kami tentara tanpa seragam.
Kini kami pulang, tidak dengan truk, melainkan angkot.
Senjata kami letakkan di rak: ego, prasangka, gosip sisa.
Ibu menanti di pintu, tidak memberi medali,
hanya teh dan pertanyaan: “Tidur cukup?”
Salam kami ucapkan pada adik yang lalu kami singgung
karena nasi goreng gosong.
Ia menerima, sambil menyodorkan opor.
Medan jiwa tidak terlihat, tapi bekasnya nyata:
kulkas kini terasa cukup, diam terasa ramah.
Kami duduk, bukan berdebat soal siapa paling tahan lapar.
Kemenangan ternyata suara tawa yang tidak menyakitkan siapa pun.
Dan itu cukup untuk hari raya.
*10. Ketupat dan Maaf sebagai Bendera*
*
Di dapur, janur dianyam jadi kantong segi empat.
Beras di dalamnya saling desak, belajar sabar.
Perebusan lama: supaya hati kelapa tak kaget.
Ayah mengangkat ketupat, meniriskan airnya,
“Sudah padat, bisa dipotong.”
Kami potong, uapnya mengepul seperti doa singkat.
Di meja lain, kakak mengucap, “Maaf, ya.”
Kata-kata itu juga dianyam, dari serat-serat salah paham.
Diiris, lalu dibagi: sepotong untuk ibu, sepotong untuk adik.
Tidak ada protokol; maaf tidak perlu tata cara militer.
Cukup diucapkan, lalu digigit perlahan.
Ketupat tidak manis, maaf juga tidak instan.
Tapi keduanya mengenyangkan dengan caranya.
Kami kibarkan tanpa tiang, cukup di piring.
Bendera hari ini: sederhana, bisa dimakan, mudah dicerna.
*11. Gema Fitri di Lorong-lorong Hati*
Rumah kami banyak lorong: antara kamar dan dapur,
antara “aku sibuk” dan “nanti saja.”
Pagi ini lorong-lorong itu dijaga anak-anak,
mereka minta maaf sambil menyodor kupat.
Gema “mohon maaf lahir batin” memantul,
menabrak foto lama di dinding: kami lebih muda,
lebih cepat marah, lebih lambat memeluk.
Gema itu tidak merubuhkan tembok,
hanya menggesek debu di kusen.
Cukup untuk membuat udara terasa lega.
Di lorong terdalam, hatiku menimpal:
“Aku juga minta maaf pada diriku,
karena sering mengkritik tanpa jeda.”
Fitri ternyata bukan tamu yang datang,
melainkan gema yang membuat lorong panjang terasa rumah.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?