Grebeg Suro Singkawang: Merawat Tradisi Jawa, Merajut Kerukunan Nusantara
Oleh: Drs. H. Edy Purwanto Achmad, M.Pd.(Ketua Bidang Kerohanian Paguyuban Jawa Kota Singkawang)
ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM:
Kota Kota Singkawang selama ini dikenal luas sebagai kota toleransi. Beragam etnis, budaya, dan agama hidup berdampingan, saling menghormati, dan tumbuh bersama. Kekayaan ini bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat setempat, tetapi juga wajah Indonesia yang sesungguhnya.
Di tengah keberagaman itulah, masyarakat Jawa Singkawang berupaya menghadirkan satu ruang kebudayaan yang inklusif dan menyejukkan melalui Kirab Budaya Grebeg Suro.
1 Suro: Tradisi Jawa yang Sarat Makna
Bagi masyarakat Jawa, 1 Suro bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Jawa. Ia adalah momen untuk berhenti sejenak, menata hati, dan memperbaiki sikap hidup. Orang Jawa menyebutnya sebagai waktu eling lan waspada—mengingat jati diri dan menjaga diri agar tidak berlebihan dalam kata maupun perbuatan.
Nilai ini terasa semakin relevan di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan mudah memicu gesekan. Grebeg Suro hadir bukan sebagai pesta semata, melainkan sebagai ajakan refleksi bersama: bagaimana hidup rukun dalam perbedaan.
Budaya sebagai Ruang Pertemuan
Grebeg Suro di Singkawang diselenggarakan oleh Paguyuban Jawa Kota Singkawang (PJKS) dengan semangat keterbukaan. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan warga Jawa, tetapi juga mengajak seluruh elemen masyarakat—lintas etnis, lintas budaya, dan lintas agama—untuk turut berpartisipasi.
Tari, musik, busana adat, dan kirab budaya menjadi bahasa bersama yang mudah dipahami siapa saja. Tidak ada sekat keyakinan, tidak ada dominasi identitas. Semua hadir sebagai warga Singkawang yang ingin merayakan kebersamaan.
Orang Jawa sejak lama mengenal pepatah:
“Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah.”
Kerukunan membawa kekuatan, perpecahan membawa kehancuran.
Pesan sederhana ini menjadi napas utama Grebeg Suro.
Wijaya Kusuma dan Makna Kejayaan yang Bersahaja
Dalam khazanah budaya Jawa, bunga Wijaya Kusuma sering dimaknai sebagai simbol kejayaan. Namun kejayaan yang dimaksud bukanlah kemegahan yang berisik. Bunga ini mekar di malam hari, sunyi, dan hanya sebentar.
Dari Wijaya Kusuma, kita belajar bahwa:
Keindahan tidak selalu perlu sorotan
Kebaikan tidak harus dipamerkan
Yang terpenting adalah manfaat dan ketulusan
Nilai ini dirangkum dalam falsafah Jawa:
“Urip iku urup.”
Hidup seharusnya memberi cahaya bagi sesama.
Grebeg Suro diharapkan menjadi cahaya kecil itu—tidak menyilaukan, tetapi menenangkan.
Menuju Agenda Budaya Tahunan Kota Singkawang
Tulisan ini sekaligus menjadi dukungan moral dan kultural agar Grebeg Suro yang diselenggarakan PJKS dapat tumbuh menjadi agenda budaya tahunan Kota Singkawang, sebagaimana perayaan Cap Go Meh oleh etnis Tionghoa yang kini telah menjadi kalender pariwisata nasional dan mampu menarik perhatian publik luas hingga dihadiri para pejabat negara.
Bukan untuk membandingkan, apalagi mempertentangkan, melainkan untuk menunjukkan bahwa setiap budaya memiliki ruang yang sama untuk tumbuh dan berkontribusi bagi identitas kota.
Keberhasilan satu tradisi adalah keberhasilan bersama.
Catatan Waktu Pelaksanaan
Perlu diketahui, Grebeg Suro Singkawang direncanakan akan dilaksanakan pada pekan ke-3 bulan Juni 2026, bertepatan dengan 1 Muharram 1448 Hijriah. Rangkaian kegiatan akan digelar selama sepekan, melibatkan berbagai komunitas budaya dari Singkawang dan direncanakan meluas hingga tingkat Kalimantan Barat.
Momentum ini diharapkan menjadi ruang silaturahmi besar, sekaligus penguat harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Merawat Kerukunan Lewat Budaya
Kalimantan Barat memiliki pengalaman sejarah sosial yang tidak selalu mudah. Karena itu, setiap ikhtiar yang menumbuhkan perjumpaan, dialog, dan kebersamaan patut diapresiasi. Budaya memiliki kekuatan lembut untuk menyatukan, tanpa memaksa dan tanpa melukai.
Grebeg Suro bukan hanya tentang tradisi Jawa, tetapi tentang komitmen bersama merawat kerukunan.
Sebagaimana pepatah Jawa mengingatkan:
“Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana.”
Martabat manusia tercermin dari tutur kata dan sikapnya.
Penutup
Singkawang telah memberi contoh bahwa perbedaan bisa menjadi kekuatan. Melalui Grebeg Suro, masyarakat Jawa ingin ikut menyumbangkan nilai, tradisi, dan semangat kebersamaan untuk kota yang dicintai bersama.
Semoga Grebeg Suro ke depan benar-benar menjadi agenda budaya tahunan Kota Singkawang, memperkaya kalender budaya daerah, memperkuat persaudaraan, dan meneguhkan Singkawang sebagai rumah damai bagi semua. ANS



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?