Banner Iklan

Agus Suyanto Sang Dewan Pembela, Akar Pengabdian dari Organisasi Rakyat

Anis Hidayatie
01 Maret 2026 | 10.25 WIB Last Updated 2026-03-01T03:25:52Z


Agus Suyanto Sang Dewan Pembela, Akar Pengabdian dari Organisasi Rakyat 

SAPA TOKOH| JATIMSATUNEWS.COM: Sebelum nama Agus Suyanto mentereng di baliho-baliho pinggir jalan atau tercetak di kertas suara KPU, ia adalah sosok yang lebih akrab dengan debu jalanan, bau gabah yang baru dipanen, dan riuh rendah diskusi di gubuk-gubuk petani. Jika banyak politisi membangun citra lewat konsultan branding, Agus membangun "branding"-nya lewat keringat dan kehadiran fisik di tengah kesulitan warga. Baginya, organisasi bukanlah batu loncatan politik, melainkan sekolah kehidupan yang mengajarkannya tentang arti ketulusan.

Aktivitas Sosial: Politik Tanpa Nama

Aktivitas sosial Agus dimulai dari lingkungan yang paling dekat dengan keseharian masyarakat pedesaan di Pasuruan. Ia aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), sebuah organisasi yang tidak hanya mengajarkan nilai-nilai religius, tetapi juga kepekaan sosial. Di IPNU, Agus belajar bahwa mengabdi pada umat adalah bagian dari ibadah. Ia sering terlibat dalam kegiatan pemberdayaan pemuda, menggerakkan potensi lokal, dan menjadi pendengar setia bagi keluh kesah kawan-kawannya.

Namun, minat terbesarnya selalu tertuju pada satu hal: Ekonomi Rakyat. Ia melihat ketimpangan yang nyata di desanya. Banyak petani yang bekerja keras dari subuh hingga petang, namun saat panen tiba, mereka justru gigit jari karena harga dipermainkan tengkulak. Ia melihat ibu-ibu rumah tangga yang memiliki produk olahan luar biasa, tapi produknya hanya berakhir di dapur karena tidak tahu cara menjualnya ke luar desa.

Di sinilah peran Agus mulai muncul secara organik. Ia mulai mengumpulkan orang-orang, berdiskusi, dan mencari jalan keluar bersama. Saat itu, ia melakukan kerja-kerja politik dalam arti yang paling murni—yakni mengurus urusan publik—meskipun ia belum memiliki jabatan resmi apa pun. Ia adalah "penyambung lidah" warga jauh sebelum ia disumpah sebagai anggota dewan.

Peran di Komunitas Pertanian: Membela Kaum Marhaen

Pasuruan adalah wilayah dengan basis pertanian yang kuat, dan Agus Suyanto memilih untuk masuk ke jantung persoalan tersebut. Ia tidak hanya berdiri di pinggir sawah untuk berfoto, ia benar-benar bergelut dengan problematikanya. Ia terlibat aktif dalam komunitas-komunitas pertanian kecil, membantu mereka mengorganisir diri agar memiliki posisi tawar yang lebih kuat.

Ia menyadari bahwa petani seringkali menjadi kelompok yang paling rentan. Saat biaya produksi naik—seperti harga pupuk dan bibit—harga jual hasil panen justru sering anjlok. Agus hadir di sana, memberikan edukasi sederhana, membantu akses informasi, hingga mendampingi petani saat mereka berhadapan dengan birokrasi pengairan atau bantuan alat pertanian. Kedekatannya dengan masyarakat kecil inilah yang membuatnya sangat memahami psikologi rakyat bawah: mereka tidak butuh janji manis, mereka butuh solusi nyata di lapangan.

Keterlibatan dalam KTNA (Kelompok Tani Nelayan Andalan)

Langkah pengabdian Agus semakin terstruktur saat ia bergabung dengan Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA). Di organisasi skala kabupaten ini, wawasan Agus semakin terbuka luas. Ia mulai melihat bahwa persoalan petani di satu desa ternyata berkaitan erat dengan kebijakan di tingkat kabupaten, provinsi, hingga pusat.

Di KTNA, Agus bukan hanya menjadi pengurus administratif. Ia menjadi aktivis yang militan. Ia seringkali menjadi "motor" penggerak saat ada kebijakan yang dirasa merugikan petani. Keterlibatannya di KTNA memberinya modal berharga: Jaringan dan Pengetahuan Teknis. Ia jadi tahu bagaimana cara mengurus bantuan hibah, bagaimana teknologi pertanian terbaru bisa diterapkan di lahan sempit, hingga bagaimana cara menghadapi permainan pasar.

Melalui gerbong KTNA, Agus Suyanto seringkali mewakili suara petani dan nelayan dalam forum-forum strategis. Ia belajar berargumen, belajar membedah anggaran, dan belajar bagaimana menekan pihak-pihak terkait agar lebih peduli pada nasib wong cilik. Pengalaman inilah yang kemudian hari menjadi bekal utamanya saat ia benar-benar duduk di Komisi yang membidangi urusan tersebut di DPRD.

Kedekatan dengan Persoalan Ekonomi Rakyat

Lebih dari sekadar organisasi formal, Agus Suyanto memiliki empati yang dalam terhadap urusan "perut" rakyat. Ia percaya bahwa kemandirian sebuah daerah dimulai dari kemandirian ekonomi warganya. Itulah sebabnya, ia juga sangat dekat dengan para pelaku UMKM.

Ia seringkali menyambangi rumah-rumah produksi kerupuk, kerajinan tangan, hingga olahan makanan di pelosok Pasuruan. Baginya, mereka adalah pahlawan ekonomi yang sesungguhnya. Namun, ia miris melihat banyak dari mereka yang "berjuang sendirian" tanpa pendampingan. Ada yang kesulitan izin PIRT, ada yang kemasannya masih ala kadarnya, hingga yang modalnya terjerat bank titil.

Kedekatan Agus dengan persoalan-persoalan ini bukan hasil dari membaca laporan di atas meja. Ia datang, ia duduk lesehan, ia minum kopi bareng, dan ia mendengarkan. Dari sinilah "Akar Pengabdian" itu tumbuh begitu kuat. Rakyat tidak melihat Agus sebagai orang asing yang datang saat butuh suara, tapi rakyat melihat Agus sebagai kawan lama yang selalu ada saat mereka butuh bantuan.

Ini adalah fondasi. Tanpa masa-masa di IPNU, tanpa keringat di KTNA, dan tanpa diskusi hangat di rumah-rumah pelaku UMKM, tidak akan pernah ada sosok "Sang Dewan Pembela". Agus Suyanto adalah produk asli dari rahim keresahan rakyat Pasuruan.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Agus Suyanto Sang Dewan Pembela, Akar Pengabdian dari Organisasi Rakyat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now