Tanah Tengger: Rahim Karakter Sang Pejuang
ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM:
Kabut tipis selalu menyelimuti pagi di Kecamatan Tosari. Di ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut, di mana udara dingin menusuk hingga ke tulang, Agus Setya Wardana menghirup napas pertamanya sebagai putra seorang petani. Baginya, Tosari bukan sekadar titik koordinat di peta Kabupaten Pasuruan; ia adalah rahim yang membentuk cara pandangnya terhadap hidup. Tumbuh besar di tengah keluarga petani sederhana, masa kecil Agus tidak dihabiskan dengan kemewahan gadget atau hiruk-pikuk kota besar. Mainannya adalah cangkul, teman bicaranya adalah tanaman, dan gurunya adalah musim yang sering kali tak menentu.
Sejak kecil, ia menyaksikan bagaimana bapak dan ibunya berpeluh keringat di lereng-lereng curam Pegunungan Tengger. Dari mereka, Wardana belajar satu hukum alam yang tak terbantahkan: siapa yang menanam, dia yang memanen. Namun, ia juga melihat sisi gelap dari romantisasi kehidupan desa; betapa rentannya posisi petani ketika berhadapan dengan kegagalan panen, permainan harga tengkulak, hingga kebijakan pemerintah yang sering kali terasa jauh dari jangkauan gubuk-gubuk di ladang. Nilai kerja keras ini bukan sekadar teori baginya, melainkan pola hidup yang ia jalani setiap hari. Ia melihat ayahnya tetap berangkat ke ladang meski tubuhnya lelah, sebuah bentuk integritas terhadap keluarga yang kelak menjadi modal utamanya saat terjun ke dunia politik.
Titik Balik: Abu Bromo dan Panggilan Revolusi Diri
Tahun 2012 menjadi tahun yang akan selalu diingat dalam memori kolektif masyarakat Pasuruan, khususnya bagi Wardana. Erupsi Gunung Bromo menyemburkan abu vulkanik yang menutupi hijau royo-royo tanaman sayur di Tosari. Bagi sebagian besar petani, ini adalah bencana yang mematikan mata pencaharian. Namun, bagi Agus yang saat itu masih muda dan penuh gejolak ingin tahu, abu tersebut justru menjadi semacam "pupuk" bagi pemikirannya. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan: petani tidak bisa lagi hanya mengandalkan keberuntungan alam dan metode turun-temurun yang statis.
“Jika kita terus bertani dengan cara yang sama seperti kakek-nenek kita, kita akan tertinggal oleh zaman yang terus berlari,” batinnya kala itu. Berangkat dari kesadaran pahit pasca-erupsi, Agus mengambil keputusan berani yang jarang diambil pemuda desa seumurannya. Ia memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman sementara waktu demi mencari ilmu. Destinasinya bukan kampus mentereng di Jakarta, melainkan pusat-pusat riset pertanian di Lembang dan Pangalengan, Jawa Barat.
Di Jawa Barat, Wardana merasakan gegar budaya yang positif. Ia melihat bagaimana teknologi mulai menyentuh akar rumput. Selama berbulan-bulan, ia menekuni teknik perbanyakan benih kentang melalui media kultur jaringan. Baginya, laboratorium bukan tempat yang asing, melainkan tempat "suci" di mana kemandirian petani dimulai. Ia belajar bahwa kunci kesejahteraan petani kentang di Tosari bukan pada luas lahan, melainkan pada kualitas benih. Selama ini, petani terjebak membeli benih mahal dengan kualitas yang tak menentu. Dengan kultur jaringan, ia bermimpi membawa pulang teknologi itu agar setiap petani di Pasuruan bisa menjadi "tuan" atas benih mereka sendiri.
Koperasi Sawiran: Menemukan Jiwa Pengabdian
Sekembalinya dari Jawa Barat dengan bekal ilmu teknologi benih, Wardana tidak lantas menutup diri di laboratorium. Ia menyadari bahwa ilmu pengetahuan akan mandul jika tidak didukung oleh sistem sosial yang kuat. Inilah yang membawanya masuk ke dalam pusaran organisasi Koperasi Kredit Sawiran (2016-2024). Di sini, sosok Agus mulai bertransformasi dari seorang praktisi teknis menjadi seorang organisatoris.
Koperasi Sawiran, yang memiliki akar kuat dalam semangat pemberdayaan masyarakat kecil, menjadi sekolah kedua bagi Agus. Ia berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pedagang pasar hingga buruh tani. Di bawah bimbingan nilai-nilai yang ditinggalkan para pendiri koperasi—termasuk semangat pluralisme dan kemanusiaan—Wardana belajar tentang manajerial keuangan, mitigasi risiko, dan yang paling penting: mendengarkan.
Di kursi pengurus koperasi, ia melihat realitas bahwa masalah utama rakyat bukan hanya teknis bertani, tapi juga akses terhadap modal dan kebijakan yang adil. Ia sering kali harus menjadi penengah, pemberi solusi, sekaligus penyemangat bagi anggota yang terhimpit kebutuhan ekonomi. Pengalaman selama hampir satu dekade di koperasi inilah yang secara perlahan mengikis keraguannya terhadap dunia publik. Ia mulai memahami bahwa politik, dalam bentuknya yang paling murni, adalah perpanjangan tangan dari apa yang ia lakukan di koperasi: menolong orang banyak melalui sistem yang terorganisir.
Menuju Panggung Publik: Membawa Suara dari Lereng
Transisi Wardana dari ladang ke panggung politik bukanlah sebuah lonjakan ambisi yang instan, melainkan sebuah proses pendewasaan yang panjang. Selama bertahun-tahun, ia telah membangun reputasi melalui Wardana Farm sebagai simbol kemandirian benih. Namun, ia merasa ada tembok besar yang tidak bisa ia tembus hanya dengan menjadi pengusaha atau pengurus koperasi. Tembok itu bernama kebijakan publik.
Ia sering merenung di tengah ladangnya, melihat teman-teman sesama petani yang masih mengeluhkan kelangkaan pupuk dan regulasi yang tumpang tindih. Dari sinilah, spirit sebagai "Petani Pejuang" mulai membara. Ia memutuskan bahwa sudah saatnya ada orang yang benar-benar mengerti aroma tanah, tekstur bibit, dan pedihnya gagal panen untuk duduk di kursi pengambil kebijakan. Ia tidak ingin lagi hanya menjadi penonton di pinggiran; ia ingin menjadi penulis sejarah bagi kemajuan pertanian di Kabupaten Pasuruan.
Bab ini menjadi saksi bahwa langkah kaki Agus Setya Wardana menuju kursi DPRD tidak dimulai dengan janji-janji manis di baliho, melainkan dengan tangan yang kasar karena bekerja dan otak yang terisi dengan visi modernisasi. Ia membawa identitasnya sebagai anak petani Tengger bukan sebagai beban, melainkan sebagai kompas moral yang akan menuntun setiap langkahnya di panggung publik.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?