Senator Lia Istifhama Puji Kepala BNPB Suharyanto, Lia Istifhama: Inilah Wajah Negara yang Sesungguhnya
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Ramadan tak menjadi penghalang bagi jajaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk tetap bergerak cepat melayani masyarakat terdampak bencana. Di bawah kepemimpinan Suharyanto, BNPB memastikan bantuan tetap tersalurkan kepada warga penyintas, meski di tengah suasana ibadah dan keterbatasan fisik saat berpuasa.
Penyaluran bantuan bagi penghuni hunian sementara (huntara) di Peureulak Barat, Aceh Timur, menjadi bukti nyata kehadiran negara. Kepala BNPB memimpin langsung distribusi bantuan berupa paket sembako, kasur, matras, kompor, hingga kipas angin untuk menopang kebutuhan dasar warga yang tengah bangkit dari bencana banjir dan longsor.
Tak sekadar menyerahkan bantuan, Suharyanto juga meninjau langsung kondisi huntara dengan mengendarai sepeda motor, berdialog dengan warga, serta berbuka puasa bersama para penyintas. Kehadiran tersebut memberi semangat tersendiri bagi masyarakat yang sedang berjuang memulihkan kehidupan mereka.
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menilai langkah tersebut sebagai bentuk pengabdian yang sarat makna spiritual.
“Ramadan mengajarkan empati dan kepedulian. Apa yang dilakukan Kepala BNPB bersama jajaran ini bukan sekadar tugas administratif, tetapi wujud nyata nilai kemanusiaan yang dijalankan negara,” ujar Ning Lia saat ditemui di Surabaya, Jumat (27/02/26).
Menurutnya, pelayanan publik tidak mengenal jeda, termasuk di bulan suci. Justru dalam suasana Ramadan, nilai empati dan solidaritas harus semakin menguat.
“Ketika masyarakat terdampak bencana bisa kembali tersenyum meski sederhana, di situlah makna Ramadan terasa lebih dalam,” tambahnya.
Lia juga menekankan bahwa kepemimpinan yang hadir langsung di lapangan menjadi contoh penting bahwa empati harus berjalan beriringan dengan ketegasan serta kecepatan respons. Ia mendorong agar momentum Ramadan dimanfaatkan sebagai refleksi untuk memperkuat sistem kebencanaan nasional.
Salah satunya dengan memprioritaskan revisi Undang-Undang Kebencanaan agar respons negara semakin cepat dan adaptif terhadap kompleksitas bencana yang kian meningkat.
“Empati harus diikuti regulasi yang kuat. Kita butuh payung hukum yang memastikan bantuan lebih cepat, koordinasi lebih solid, dan mitigasi lebih terencana,” tegasnya.
Keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa itu juga menyoroti pentingnya integrasi data kebencanaan berbasis digital guna memastikan penyaluran bantuan berlangsung transparan dan tepat sasaran.
Baginya, bencana bukan semata persoalan kerusakan fisik, tetapi juga ujian kemanusiaan dan solidaritas kebangsaan.
“Ramadan adalah bulan menguatkan solidaritas. Negara yang hadir di saat rakyatnya susah, seperti yang ditunjukkan BNPB di bawah kepemimpinan Letjen TNI Dr. Suharyanto, itulah wajah Indonesia yang sesungguhnya,” pungkasnya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?