Prof Sukir di Roof Top Warung Bu Sukir Batu, Berlatar Gunung Arjuno dan Welirang bersama Dekanat FMIPA UB dan awak media, Satu Gunung Satu Sumber daya listrik.
BATU | JATIMSATUNEWS.COM: Jumat (13/2/2026) — Pengembangan energi panas bumi (geothermal) di Indonesia dinilai memiliki potensi besar, namun masih menghadapi tantangan kolaborasi, edukasi publik, dan kebijakan mitigasi bencana. Hal tersebut disampaikan pakar geologi–geofisika Prof. Sukir dalam diskusi ilmiah terkait energi panas bumi dan kebencanaan.
Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang mumpuni, tetapi pengembangan geothermal belum optimal karena minim sinergi antara akademisi, industri, pemerintah, masyarakat, dan media.
“Kalau tidak ada kolaborasi kuat, pengetahuan ilmiah tidak sampai ke masyarakat. Ini yang membuat sebagian warga masih resisten terhadap proyek geothermal,” ujarnya.
Indonesia berada di jalur Ring of Fire dengan ratusan gunung api aktif yang menyimpan energi panas bumi melimpah. Kawasan seperti Gunung Ijen menjadi contoh keberhasilan eksplorasi geothermal yang terus dikembangkan.
Namun, menurut Prof. Sukir, pemanfaatan energi panas bumi nasional masih sekitar 10–20 persen dari total potensi yang ada. Beberapa wilayah potensial lain tersebar di Sumatera, Sulawesi, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur.
Pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) pertama di Indonesia sendiri berada di Kamojang, yang menjadi tonggak awal pemanfaatan energi geothermal nasional.
Prof. Sukir menjelaskan bahwa geothermal bisa dimanfaatkan secara langsung maupun tidak langsung.
Pemanfaatan tidak langsung umumnya melalui pembangkit listrik tenaga panas bumi yang menggerakkan turbin listrik. Sementara pemanfaatan langsung bisa digunakan untuk pengeringan hasil pertanian, pengolahan kayu, penyulingan minyak atsiri, hingga pengaturan suhu rumah kaca pertanian.
Di negara maju seperti Jepang, energi panas bumi bahkan digunakan untuk pemanas ruangan, pengairan pertanian, hingga pengendalian salju di wilayah bersuhu ekstrem.
Selain energi, geothermal juga berkaitan erat dengan mitigasi bencana vulkanik. Prof. Sukir menilai eksplorasi panas bumi dapat membantu pelepasan energi panas dalam bumi sehingga berpotensi mengurangi risiko letusan gunung api.
Belajar dari erupsi Gunung Semeru, ia menekankan pentingnya pendidikan kebencanaan sejak dini. Program edukasi yang pernah dilakukan tim akademisi terbukti meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi erupsi berikutnya.
“Mitigasi dan eksplorasi harus berjalan seimbang. Dulu fokus eksplorasi saja, sekarang harus disertai monitoring dan edukasi masyarakat,” tegasnya.
Dalam bidang akademik, Universitas Brawijaya disebut tengah mengembangkan fasilitas monitoring gunung api dan geothermal berbasis kolaborasi internasional. Program tersebut diarahkan menjadi sekolah lapangan multidisiplin yang menggabungkan riset energi, kebencanaan, dan edukasi masyarakat.
Prof. Sukir menilai langkah ini penting agar ilmu kebumian tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi juga berdampak langsung pada masyarakat sekitar wilayah rawan bencana.
Ia berharap pemerintah lebih aktif menjadi penggerak edukasi publik terkait geothermal, sekaligus memastikan kebijakan eksplorasi selalu disertai mitigasi bencana dan komunikasi transparan kepada masyarakat.
“Energi panas bumi adalah masa depan energi bersih Indonesia. Kalau kolaborasi berjalan baik, manfaat ekonomi, lingkungan, dan keselamatan masyarakat bisa dirasakan bersama,” ujarnya. Ans



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?