Banner Iklan

Puasa ke-10: Ibadah di Tengah Hidup yang Lagi Berat — Menuju Sepuluh Kedua (10), Kolom Bersama Prof. Fauzan Zenrif

Anis Hidayatie
28 Februari 2026 | 08.49 WIB Last Updated 2026-02-28T01:49:58Z


Puasa ke-10: Ibadah di Tengah Hidup yang Lagi Berat — Menuju Sepuluh Kedua

ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: 

Hari ini kita memasuki puasa ke-10. Artinya, kita sedang berdiri di gerbang menuju sepuluh hari kedua Ramadhan. Sepuluh hari pertama sering disebut sebagai fase rahmat, tetapi tidak semua orang menjalaninya dalam keadaan hati yang ringan. Ada yang berpuasa sambil memikirkan cicilan dan kestabilan usaha. Ada pegawai yang bekerja dari pagi hingga petang, pulang dengan tubuh letih tetapi pikiran masih dipenuhi tekanan pekerjaan. Ada orang tua yang membagi energi antara mencari nafkah, mendampingi anak belajar, dan merawat orang tua yang mulai renta. Bahkan mahasiswa pun bergulat dengan tuntutan akademik dan kecemasan masa depan. Kaya maupun sederhana, masing-masing memiliki beban yang tidak selalu terlihat. Ramadhan hadir bukan dalam ruang hampa masalah, melainkan di tengah realitas hidup yang kompleks.

Di zaman sekarang, hidup terasa semakin rumit dan menyita energi, baik bagi yang kaya maupun yang sederhana. Ada pengusaha yang siangnya dikejar target, malamnya masih memikirkan laporan dan tekanan kompetisi. Ada karyawan yang harus memenuhi deadline sementara kondisi ekonomi belum stabil. Ada pedagang kecil yang memikirkan harga bahan pokok yang naik turun. Ada ibu rumah tangga yang memikul pekerjaan domestik tanpa jeda. Semua bergerak dalam ritme cepat yang sering kali menguras fisik dan batin. Dalam situasi seperti ini, ibadah sering dianggap sebagai tambahan beban di tengah kepadatan aktivitas.


Padahal Allah telah menegaskan:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

 (QS. البقرة: 286)

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ayat ini bukan sekadar penghiburan, tetapi pondasi keyakinan. Jika hidup terasa berat bersamaan dengan puasa, itu berarti Allah mengetahui kapasitas kita. Justru di situlah kualitas ibadah sedang ditempa.

Rasulullah saw memberikan perspektif yang sangat menenangkan. Ketika seorang laki-laki berkata, “Seandainya aku sudah shalat, tentu aku akan merasa tenang,” sebagian orang seakan tidak menyukai ucapan itu. Namun ia menjelaskan bahwa Rasulullah saw bersabda:

عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ قَالَ: قَالَ ‌رَجُلٌ ‌قَالَ ‌مِسْعَرٌ: ‌أُرَاهُ ‌مِنْ ‌خُزَاعَةَ ‌لَيْتَنِي ‌صَلَّيْتُ ‌فَاسْتَرَحْتُ، ‌فَكَأَنَّهُمْ عَابُوا ذَلِكَ عَلَيْهِ، فَقَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: يا بلالُ أقمِ الصلاةَ، أرِحْنا بها

Dari Salim bin Abi al-Ja‘d, ia berkata: Seorang laki-laki — Mis‘ar berkata: aku mengira ia dari Khuza‘ah — berkata, “Seandainya aku sudah shalat, tentu aku akan merasa tenang.” Maka seakan-akan orang-orang tidak menyukai (ucapan) itu darinya. Lalu ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: ‘Wahai Bilal, dirikanlah shalat, buatlah kami merasa tenang dengannya.’”

Hadis ini menunjukkan bahwa bagi Rasulullah saw, shalat adalah sumber ketenangan dan kelegaan, bukan beban yang ingin segera ditunaikan lalu ditinggalkan. Bagi Nabi saw, shalat bukan beban tambahan di tengah kesibukan, melainkan ruang istirahat batin. Ia bukan penghambat produktivitas, tetapi penyeimbang jiwa. Ketika hidup semakin rumit, kebutuhan terhadap ibadah justru semakin mendesak.

Maka memasuki sepuluh hari kedua, kita perlu mengubah cara pandang. Sepuluh hari pertama adalah fase adaptasi; sepuluh hari kedua adalah fase penguatan. Jangan menunggu hidup tenang untuk memperbaiki ibadah. Justru ketika hidup sedang berat, ibadah menjadi kebutuhan paling mendesak. Allah juga berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

 (QS. الرعد: 28)

Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Maka jangan menunggu hidup ringan untuk rajin beribadah. Justru ketika hidup sedang berat, itulah saat ibadah menjadi kebutuhan paling mendesak. Bukan untuk menunjukkan kesalehan kita pada orang lain, tetapi untuk menjaga kesalehan batin.

Di tengah tekanan ekonomi, ibadah mengajarkan tawakal.

Di tengah konflik keluarga, ibadah melatih kesabaran.

Di tengah kegagalan, ibadah menjaga harapan.

Di tengah kesendirian, ibadah menghadirkan rasa ditemani.

Puasa ke-10 ini menjadi momentum evaluasi, apakah Ramadhan sudah menjadi sumber kekuatan, atau masih kita rasakan sebagai tekanan? Jika ibadah dijalani dengan kesadaran dan ketulusan, maka ia akan menjadi energi, bukan beban. Sepuluh hari kedua menuntut konsistensi, bukan euforia, ketahanan, bukan sekadar semangat awal. Hidup boleh tetap rumit, jadwal tetap padat, tanggung jawab tetap banyak. Tetapi ketika hati memiliki tempat kembali, maka beban tidak lagi menghancurkan. Ramadhan hadir bukan untuk menambah lelah, melainkan untuk menguatkan jiwa agar mampu menjalani hidup yang lagi berat dengan lebih tenang dan lebih kokoh.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puasa ke-10: Ibadah di Tengah Hidup yang Lagi Berat — Menuju Sepuluh Kedua (10), Kolom Bersama Prof. Fauzan Zenrif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now