Puasa dan Media Sosial: Menahan Jempol Lebih Sulit dari Menahan Lapar, Kolom Ramadan Bersama Prof. Fauzan Zenrif
KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Masuk hari keempat Ramadhan, saya semakin sadar bahwa ujian puasa bukan hanya di dapur, atau di meja makan warung kecil di pinggir jalan yang sedikit tertutup, tapi di layar ponsel yang selalu ada di tangan atau di dalam kantong baju. Kalau dulu, orang puasa hanya diuji lewat lisan, ngerumpi di meja diskusi, sekarang saya merasa diuji lewat jempol. Dan jujur saja, menahan jempol ini kadang lebih sulit daripada menahan lapar dan haus.
Padahal saya tahu bahwa Allah swt mengingatkan dalam al-Qur'an:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)
Dulu ayat ini hanya saya pahami sebatas ucapan lisan. Tapi, sekarang saya merasa ayat ini juga berlaku untuk status, komentar, caption, dan pesan yang saya kirim. Semua tetap tercatat. Semua tetap ada pertanggungjawabannya.
Tidak hanya berhenti di sana, Rasulullah saw sudah bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ بِأَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak membutuhkan dia meninggalkan makan dan minumnya.”
Hadis ini sangat tegas. Artinya, puasa jelas bukan sekadar soal tidak makan dan tidak minum. Kalau lisan masih memproduksi kebohongan, fitnah, sindiran tajam, atau komentar yang menyakiti, maka substansi puasa saya pasti sedang bermasalah.
Di bulan Ramadan, media sosial sering penuh dengan perdebatan. Soal sah tidaknya puasa orang lain. Soal tata cara ibadah. Soal perbedaan kecil yang dibesar-besarkan. Saya melihat betapa mudahnya orang menulis, “Itu tidak sah.” “Itu salah.” “Itu tidak sesuai.” Seolah-olah keputusan akhir ada di tangan kita.
Padahal kita tidak tahu niat orang lain. Kita tidak tahu kadar ilmunya. Kita tidak tahu latar belakangnya. Yang pasti kita tahu, setiap kalimat yang kita tulis tetap tercatat.
Kadang saya merasa sedang membela kebenaran. Tapi setelah komentar itu terkirim, hati saya justru tidak tenang. Ada rasa ingin menang, bukan ingin memperbaiki. Di situ saya sadar, mungkin yang saya pertahankan bukan kebenaran, tapi ego.
Menahan lapar itu jelas batas waktunya: dari subuh sampai magrib. Tapi menahan jempol? Tidak ada jadwalnya. Setiap notifikasi bisa menjadi ujian. Setiap postingan bisa menjadi pemicu.
Hari keempat ini saya belajar bahwa puasa yang berkualitas bukan hanya yang menahan perut, tetapi yang mampu menahan reaksi. Sebelum mengetik, saya harus bertanya: ini membangun atau merusak? Ini menenangkan atau memanaskan?
Karena bisa jadi, yang paling sulit dalam puasa bukan menahan haus, tapi menahan diri untuk tidak merasa paling benar di ruang publik. Dan di situlah Ramadan sebenarnya sedang membentuk saya. ANS



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?