Banner Iklan

Mewujudkan Pesantren Mandiri melalui Tata Kelola Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular

17 Januari 2026 | 04.01 WIB Last Updated 2026-01-16T21:01:30Z

 

banyak dalil bagi santri untuk cinta bersih

 

Pondok pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor perubahan lingkungan karena kental dengan nilai kedisiplinan dan spiritualitas. Langkah awal yang paling mendasar adalah membangun kesadaran melalui integrasi "Fikih Lingkungan" (Fiqh al-Bi’ah) ke dalam kurikulum pesantren. Dengan memandang pengelolaan sampah bukan sekadar tugas kebersihan melainkan wujud ibadah dan manifestasi iman, santri akan memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga lingkungan. Kesadaran spiritual ini menjadi fondasi utama agar seluruh program pelestarian lingkungan dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.

 

Langkah konkret selanjutnya adalah memutus rantai sampah dari akarnya melalui kebijakan preventif dan pemilahan berbasis kamar. Pengurus pondok perlu menetapkan larangan penggunaan plastik sekali pakai dan mewajibkan santri membawa botol minum (tumbler) serta wadah makan pribadi. Di setiap kamar, santri dilatih memilah sampah menjadi kategori organik dan anorganik. Kedisiplinan ini bisa diperkuat dengan sistem inspeksi rutin atau kompetisi kamar terbersih, yang secara perlahan akan membentuk karakter santri yang peduli pada ketertiban lingkungan sejak dari ruang privasi mereka.

 

Sampah organik yang berasal dari dapur umum dan sisa makanan santri, yang biasanya menjadi sumber bau, dapat diubah menjadi aset berharga melalui pengolahan kompos dan biopori. Santri diajarkan keterampilan praktis mengolah limbah tersebut menjadi pupuk organik padat maupun cair (POC). Hasilnya tidak hanya bermanfaat untuk menghijaukan area taman dan perkebunan pondok, tetapi juga dapat dikemas secara profesional dengan merek khas pesantren untuk dijual kepada wali santri saat jadwal kunjungan. Hal ini mengubah beban biaya pembuangan sampah menjadi peluang pendapatan baru bagi sektor agrobisnis pesantren.

 

Untuk pengelolaan yang lebih modern dan progresif, pesantren dapat menerapkan budidaya maggot BSF (Black Soldier Fly) untuk menghabiskan sampah organik dengan cepat. Larva maggot yang kaya protein ini dapat digunakan sebagai pakan mandiri jika pesantren memiliki unit ternak ayam atau kolam ikan, sehingga mampu menekan biaya operasional pakan pabrikan secara signifikan. Bahkan, dalam skala besar, maggot kering memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar ekspor maupun komunitas pecinta hewan peliharaan, yang memberikan tambahan pemasukan yang sangat menjanjikan bagi kas pondok.


Sementara itu, untuk sampah anorganik seperti botol plastik dan kertas, pesantren perlu mendirikan Unit Bank Sampah Santri (BSS) yang dikelola secara profesional oleh pengurus atau santri senior. Setiap santri diberikan buku tabungan sampah di mana saldo yang terkumpul dari hasil penimbangan mingguan dapat dikonversi menjadi saldo belanja di koperasi atau pengurang iuran bulanan. Mekanisme ini menciptakan insentif ekonomi langsung, sehingga santri merasa bahwa perilaku memilah sampah bukan lagi sebuah beban, melainkan kegiatan yang menguntungkan secara finansial.

 

Sisi kreativitas juga dapat diasah melalui program upcycling atau daur ulang limbah plastik yang sulit terurai menjadi barang kerajinan tangan bernilai seni, seperti tas atau tikar. Produk kriya ini dapat dipasarkan melalui media sosial pesantren atau dipamerkan dalam acara wisuda santri (haflah akhirussanah). Inisiatif ekonomi kreatif ini tidak hanya menghasilkan uang, tetapi juga membangun citra positif pesantren sebagai institusi yang inovatif, modern, dan peka terhadap isu-isu global terkait pelestarian lingkungan dan keberlanjutan hidup.

 

Terakhir, untuk menjaga keberlanjutan ekosistem ini, pesantren harus menjalin kemitraan strategis dengan industri daur ulang melalui nota kesepahaman (MoU) untuk menjamin harga jual sampah yang kompetitif. Keuntungan yang dihasilkan dari seluruh rantai ekonomi sirkular ini—mulai dari penjualan pupuk, maggot, hingga tabungan sampah—dapat dialokasikan kembali untuk memperbaiki fasilitas pondok atau membantu beasiswa santri yang kurang mampu. Melalui tata kelola sampah yang bijak, pesantren tidak hanya berhasil menjaga kesucian lingkungan, tetapi juga mewujudkan kemandirian ekonomi yang penuh keberkahan.

 

oleh Muhammad Naji Ukkaasyah
Mahasiswa Umiversitas Amikom Yogyakarta


 

 

 


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Mewujudkan Pesantren Mandiri melalui Tata Kelola Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now