![]() |
| banyak dalil bagi santri untuk cinta bersih |
Pondok pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi
pelopor perubahan lingkungan karena kental dengan nilai kedisiplinan dan
spiritualitas. Langkah awal yang paling mendasar adalah membangun kesadaran
melalui integrasi "Fikih Lingkungan" (Fiqh al-Bi’ah) ke dalam
kurikulum pesantren. Dengan memandang pengelolaan sampah bukan sekadar tugas
kebersihan melainkan wujud ibadah dan manifestasi iman, santri akan memiliki
tanggung jawab moral untuk menjaga lingkungan. Kesadaran spiritual ini menjadi
fondasi utama agar seluruh program pelestarian lingkungan dapat berjalan secara
konsisten dan berkelanjutan.
Langkah konkret selanjutnya adalah memutus rantai sampah
dari akarnya melalui kebijakan preventif dan pemilahan berbasis kamar. Pengurus
pondok perlu menetapkan larangan penggunaan plastik sekali pakai dan mewajibkan
santri membawa botol minum (tumbler) serta wadah makan pribadi. Di
setiap kamar, santri dilatih memilah sampah menjadi kategori organik dan
anorganik. Kedisiplinan ini bisa diperkuat dengan sistem inspeksi rutin atau
kompetisi kamar terbersih, yang secara perlahan akan membentuk karakter santri
yang peduli pada ketertiban lingkungan sejak dari ruang privasi mereka.
Sampah organik yang berasal dari dapur umum dan sisa
makanan santri, yang biasanya menjadi sumber bau, dapat diubah menjadi aset
berharga melalui pengolahan kompos dan biopori. Santri diajarkan keterampilan
praktis mengolah limbah tersebut menjadi pupuk organik padat maupun cair (POC).
Hasilnya tidak hanya bermanfaat untuk menghijaukan area taman dan perkebunan
pondok, tetapi juga dapat dikemas secara profesional dengan merek khas
pesantren untuk dijual kepada wali santri saat jadwal kunjungan. Hal ini mengubah
beban biaya pembuangan sampah menjadi peluang pendapatan baru bagi sektor
agrobisnis pesantren.
Untuk pengelolaan yang lebih modern dan progresif,
pesantren dapat menerapkan budidaya maggot BSF (Black Soldier Fly) untuk
menghabiskan sampah organik dengan cepat. Larva maggot yang kaya protein ini
dapat digunakan sebagai pakan mandiri jika pesantren memiliki unit ternak ayam
atau kolam ikan, sehingga mampu menekan biaya operasional pakan pabrikan secara
signifikan. Bahkan, dalam skala besar, maggot kering memiliki nilai ekonomi
tinggi di pasar ekspor maupun komunitas pecinta hewan peliharaan, yang
memberikan tambahan pemasukan yang sangat menjanjikan bagi kas pondok.
Sementara itu, untuk sampah anorganik seperti botol
plastik dan kertas, pesantren perlu mendirikan Unit Bank Sampah Santri (BSS)
yang dikelola secara profesional oleh pengurus atau santri senior. Setiap
santri diberikan buku tabungan sampah di mana saldo yang terkumpul dari hasil
penimbangan mingguan dapat dikonversi menjadi saldo belanja di koperasi atau
pengurang iuran bulanan. Mekanisme ini menciptakan insentif ekonomi langsung,
sehingga santri merasa bahwa perilaku memilah sampah bukan lagi sebuah beban,
melainkan kegiatan yang menguntungkan secara finansial.
Sisi kreativitas juga dapat diasah melalui program upcycling
atau daur ulang limbah plastik yang sulit terurai menjadi barang kerajinan
tangan bernilai seni, seperti tas atau tikar. Produk kriya ini dapat dipasarkan
melalui media sosial pesantren atau dipamerkan dalam acara wisuda santri (haflah
akhirussanah). Inisiatif ekonomi kreatif ini tidak hanya menghasilkan uang,
tetapi juga membangun citra positif pesantren sebagai institusi yang inovatif,
modern, dan peka terhadap isu-isu global terkait pelestarian lingkungan dan
keberlanjutan hidup.
Terakhir, untuk menjaga keberlanjutan ekosistem ini,
pesantren harus menjalin kemitraan strategis dengan industri daur ulang melalui
nota kesepahaman (MoU) untuk menjamin harga jual sampah yang kompetitif.
Keuntungan yang dihasilkan dari seluruh rantai ekonomi sirkular ini—mulai dari
penjualan pupuk, maggot, hingga tabungan sampah—dapat dialokasikan kembali
untuk memperbaiki fasilitas pondok atau membantu beasiswa santri yang kurang
mampu. Melalui tata kelola sampah yang bijak, pesantren tidak hanya berhasil
menjaga kesucian lingkungan, tetapi juga mewujudkan kemandirian ekonomi yang
penuh keberkahan.
oleh Muhammad Naji Ukkaasyah
Mahasiswa Umiversitas Amikom Yogyakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?