Prestasi tersebut diraih dalam kegiatan literasi internasional yang diselenggarakan dari 3 Agustus 2025 hingga 7 Oktober 2025, oleh Persatuan Penulis Negeri Melaka (PENAMA) bekerja sama dengan Yayasan Rumah Indonesia Menulis, Komunitas Galeri Sastra, dan SIP Publishing. Festival ini mendapatkan sambutan hangat dari para pegiat literasi lintas negara, dengan ribuan pendaftar dan naskah yang masuk dari berbagai latar belakang penulis.
Dari sekian banyak karya yang terkumpul, panitia melakukan proses kurasi ketat untuk memilih naskah-naskah terbaik. Melalui tahapan tersebut, karya Nayla dinilai layak dan terpilih sebagai salah satu tulisan unggulan. Naskah-naskah yang lolos kurasi kemudian dibukukan dalam antologi berjudul “Akar Serumpun, Anyaman Rasa”, yang diterbitkan dalam 25 jilid yang menjadi jejak kolektif suara sastra dari tiga negara serumpun.
Peluncuran buku tersebut dilaksanakan pada 12 Oktober 2025 di Rumah GAPENA, Kuala Lumpur, Malaysia, dalam sebuah acara yang juga merayakan hubungan persaudaraan dan kebudayaan antara negara-negara serumpun ASEAN melalui karya sastra. Acara ini menjadi simbol eratnya jalinan bahasa, budaya, dan persaudaraan yang berlandaskan semangat Melayu serumpun dan menyatukan para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Bagi Nayla, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan ruang untuk menemukan cahaya. “Saat suara dalam kepala tak menemukan telinga, mungkin menulis menjadi satu-satunya lentera. Dari menulis, kita bisa melampaui apa yang tak mampu diucapkan, tanpa harus kehilangan kejujuran perasaan.,” ungkapnya dengan penuh inspirasi.
Dikenal sebagai sosok yang aktif berliterasi, Nayla mengakui bahwa perjalanannya tidak selalu mulus. Beberapa kali naskahnya harus menerima penolakan, namun hal tersebut tidak memadamkan langkahnya. Dengan ketekunan dan kesabaran, ia terus belajar dari setiap jatuh bangun hingga akhirnya mampu meraih pencapaian ini.
Dalam prosesnya, Nayla tidak berjalan sendiri. Ia mendapat pendampingan penuh dari Ibu Dr. Kustyarini, S.Pd., S.Psi., M.Pd. selaku dosen pembimbing yang senantiasa memberi dukungan dan arahan. Selain itu, apresiasi dan dukungan juga datang dari Ibu Dr. Eko Pujiati, S.H., M.Pd. selaku Dekan FKIP, serta Prof. Dr. Suko Wiyono, S.H. selaku Rektor Universitas Wisnuwardhana Malang, dan jajaran bidang kemahasiswaan yang berperan dalam memperkokoh budaya prestasi mahasiswa di lingkungan kampus.
Prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi bagi Nayla, tetapi juga mengharumkan nama Universitas Wisnuwardhana Malang di kancah literasi internasional. Lebih dari sekadar medali, capaian ini menjadi bukti bahwa suara mahasiswa Indonesia mampu menggema, menyatu, dan tumbuh bersama suara serumpun lainnya, membawa euforia kebahagiaan yang sederhana namun bermakna.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?