Banner Iklan

Madrasah, Sejuta PengalamanYang Tak Terlupakan

06 Januari 2026 | 08.39 WIB Last Updated 2026-01-06T01:39:59Z

Madrasah, Sejuta PengalamanYang Tak Terlupakan

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Madrasah sering kali dipandang sebatas tempat belajar agama dan ilmu pengetahuan. Namun bagi saya, tidak. Madrasah adalah bagian dari hidup saya. Dia adalah kehidupan yang di dalamnya terdapat ruang untuk tumbuh, tempat untuk berproses, dan sebagai penentu arah. Berbicara tentang madrasah, madrasah adalah salah satu hal yang selalu membuat saya tersenyum setiap kali mengingatnya. Di sana, saya merasakan kehangatan, bangga, dan bahagia yang begitu sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Lebih lanjut lagi, bagi saya madrasah adalah tempat yang kala itu menjadi momen bersejarah. Momen di mana perjalanan karir saya dimulai, dari seorang yang pemalu, penuh ragu, hingga akhirnya dipercaya mengemban amanah besar untuk menjadi seorang pendidik. Ya, tepatnya di Madrasah Aliyah Nurul Hidayah. Madrasah yang berada di bawah naungan Yayasan Nurul Hidayah Lecari dan salah satu lembaga yang ada di lingkungan pondok pesantren, menjadi saksi bisu perjalanan panjang itu.

Perjalanan itu dimulai saat saya belum genap berusia 20 tahun. Saat itu, saya masih berstatus sebagai mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia di Universitas PGRI Pasuruan. Di tengah kesibukan menjadi seorang mahasiswa, saya memberanikan diri untuk melangkah ke dunia Pendidikan untuk mejadi seorang pendidik. Keputusan tersebut bukanlah suatu hal yang saya ambil tanpa rasa takut. Saya adalah pribadi yang pemalu, kurang percaya diri, dan tidak terbiasa tampil di depan banyak orang. Namun, keraguan itu berhasil saya kalahkan dengan niat, bismillah nawaitu untuk mengamalkan ilmu dan menjadi bagian dari sebuah perubahan dalam dunia Pendidikan.

Pada tahun 2013, tahun di mana menjadi tonggak penting dalam perjalanan hidup saya. Pada tahun itulah saya mulai mengajar di Madrasah Aliyah Nurul Hidayah. Kala itu, madrasah ini masih sangat muda, baru berdiri, dan hanya memiliki satu ruang kelas. Fasilitas terbatas, tenaga pendidik masih sedikit, dan semuanya masih dalam tahap merintis. Namun, di balik keterbatasan itulah, entah kenapa semangat yang luar biasa, semangat untuk membangun Pendidikan dari nol dengan penuh keikhlasan yakni dengan mengabdi di madrasah.

Mengajar di madrasah yang baru berdiri, memberikan sejuta pengalaman yang tak ternilai. Pengalaman-pengalaman itu diantaranya, saya merasakan betul bagaimana perjuangan menjadi bagian dari madrasah yang dirintis mulai dari nol, bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga dalam proses membangun lembaga itu sendiri. Di fase awal pengabdian, mengajar saya dijalani sebagai bentuk keikhlasan dan komitmen, sebelum aspek kesejahteraan dapat terpenuhi secara bertahap. Ada masa di mana saya dan teman guru lainnya harus bersabar menunggu izin operasional keluar, menata administrasi, dan saling menguatkan di tengah keterbatasan sarana. Setiap langkah kecil terasa begitu berarti, karena saya sadar bahwa saat itu saya sedang ikut menanam fondasi bagi masa depan madrasah. Di tengah proses yang panjang itu, semangat belajar para siswa menjadi penguat utama yang membuat saya terus bertahan dan melangkah maju.

Bagi saya, berdiri di depan kelas bukan hanya tentang menyampaikan materi Bahasa Indonesia, tetapi juga tentang membangun hubungan, menanamkan nilai, serta menumbuhkan kepercayaan diri, baik bagi siswa maupun untuk diri saya sendiri. Setiap pertemuan di kelas menjadi proses pembeklajaran dua arah. Saya belajar memahami karakter siswa, mengelola emosi, serta melatih keberanian berbicara dan mengambil suatu keputusan. Di sela-sela pembelajaran, suara tawa siswa, sapaan hangat di pagi hari, serta candaan ringan bersama sesama guru menjadi energi yang membuat lelah terasa hilang.

Lebih dari itu, bagi saya mengajar Bahasa Indonesia tidak hanya tentang materi, tetapi juga tentang berbagi cerita, tertawa bersama saat diskusi, dan merasa dekat dengan anak-anak didik seperti keluarga sendiri. Apalagi yang saya ajar adalah siswa MA yang pastinya bisa dijadikan teman untuk diskusi, bertukar pandangan, bahkan saling belajar tentang kehidupan. Dari obrolan ringan di sela pelajaran hingga diskusi serius tentang cita-cita dan masa depan. Hubungan ini terbangun terasa begitu dekat dan bermakna. Kedekatan inilah yang membuat suasan belajar menjadi lebih hidup, menyenangkan, dan pemuh dengan kehangatan, shingga kelas tidak lagi terasa kaku sebagai ruang formal untuk mentransfer ilmu, melainkan ruang untuk tumbuh bersama. Di madrasah inilah saya belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar, melainkan dari kebersamaan, keikhlasan, dan rasa cinta terhadap dunia pendidikan. Tanpa saya sadari, madrasah sedang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat serta memahami arti ketulusan dalam mengabdi.

Seiring berjalannya waktu, saya terus mengabdi dan berproses di madrasah, nama saya perlahan mulai dikenal. Dikenal bukan karena kehebatan pribadi, melainkan karena konsistensi dan kesungguhan dalam menjalankan amanah sebagai pendidik. Madrasah memberri ruang begitu banyak bagi saya untuk berkembang, mencoba hal-hal baru, dan memperluas peran dalam duani Pendidikan.

Waktu berjalan begitu singkat, tak terasa pengabdian di madrasah sudah memasuki usia sembilan tahun. Hingga tibalah pada bulan di penghujung tahun 2022, sebuah amanah besar dipercayakan kepada saya. Pengasuh pondok pesantren Al-Hidayah II Nurul Hidayah, mempercayakan saya untuk mengabdi di salah satu lembaga pendidikan di bawah Yayasan yang sama, yakni di SMP IC Nurul Hidayah. Sehingga saya mengajar di dua lembaga sekaligus. Amanah ini tentunya menjadi titik balik penting dalam perjalanan karir saya. Tanggung jawab yang saya emban semakin besar, namun saya hatus menjalaninya dengan penuh keyakinan. Saya percaya dengan berangkat membawa niat yang baik, semangat, dan segala proses panjang di madrasah telah mempersiapkan saya untuk melangkah ke tahap berikutnya.

Tidak lama berselang, sekitar kurang lebih dua tahun, kepercayaan itu kembali berlanjut. Berkat perjalanan panjang yang sudah saya lalui di madrasah, akhirnya saya dipercaya untuk menjabat sebagai kepala sekolah di SMP IC Nurul Hidayah. Sebuah yang posisi yang dulu tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sebuah posisi yang sangat saya yakini tidak akan pernah saya gapai. Jika bukan karena madrasah, mungkin saya tidak akan pernah berada di titik ini.

Madrasah Aliyah Nurul Hidayah telah menjadi jembatan menuju karir saya. Bukan hanya tentang arti sebuah jabatan, namun lebih pada makana kedewasaan berpikir, keteguhan sikap, dan pemahaman tentang hakikat pendidikan. Madrasah mengajarkan saya bahwa pendidikan sejati bukan hanya berbicara tentang mentransfer ilmu, melainkan tentang pembentukan karakter, membangun nilai, serta menumbuhkan sejuta harapan baru.

Yang membuat madrasah begitu istimewa adalah suasananya. Di sana, ada senyum dan tawa yang tumbuh dari kebersamaan. Ada bubungan hangat antara guru dan siswa, ada sebuah dukungan antar rekan pendidik, dan pendar-pendar doa yang selalu senantiasa mengiringi setiap langkah. Madrasah bukan hanya institusi belaka, tetapi rumah yang menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan.

Kini, Ketika saya menoleh ke belakang dan mengenang perjalanan itu, saya menyadari satu hal penting, “Keberhasilan tidak selalu lahir dari tempat yang serba sempurna. Ia justru tumbuh dari keterbatasan yang dijalani dengan penuh ketulusan”. Madrasah Aliyah Nurul Hidayah telah membuktikannya, bahwa dari ruang kelas sederhana dapat melahirkan mimpi-mimpi besar.

Bagi saya, madrasah akan selalu menjadi titik awal. Tempat di mana seorang pribadi pemalu belajar berani, tempat di mana mimpi menemukan jalannya, dan tempat di mana pengabdian menjadi makna. Madrasah bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan jembatan menuju masa depan yang lebih terang.


BIODATA
Nur Indah sutriyah, adalah seorang pendidik yang dilahirkan di Pasuruan pada tanggal 08 November. Merupakan alumnus STKIP PGRI Pasuruan dengan program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Saat ini mengabdi di Yayasan Nurul Hidayah, tepatnya di Ponpes Al Hidayah II Nurul Hidayah Lecari, Sukorejo.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Madrasah, Sejuta PengalamanYang Tak Terlupakan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now