Kadinkes Erwin (mengenakan name tag di saku) di RSUB
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Erwin Astha Triyono, Sp.PD, K-PTI, FINASIM, menegaskan bahwa isu temuan “Super Flu” di wilayah Malang telah terkendali dan tidak perlu menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Penegasan tersebut disampaikan usai peresmian Infectious Disease Center (Pusat Penyakit Infeksi) berstandar global di Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB), Sabtu (10/1).
Menurut Prof. Erwin, Jawa Timur kini memiliki benteng ketahanan kesehatan yang jauh lebih kuat dengan beroperasinya fasilitas hasil kolaborasi internasional antara Universitas Brawijaya, Uni Eropa, dan Jerman tersebut. Kehadiran pusat penyakit infeksi ini dinilai sangat strategis dalam mempercepat deteksi dini serta respons klinis terhadap berbagai mutasi virus, termasuk meredam kekhawatiran publik terkait isu “Super Flu”.
“Kami sampaikan bahwa 18 sampel yang terdeteksi di Kota Malang itu merupakan data surveilans lama, dari periode September hingga November tahun lalu. Seluruh pasien sudah sembuh sempurna. Jadi ini bukan wabah baru, dan masyarakat tidak perlu panik,” tegas Prof. Erwin.
Mantan Direktur RSUD Dr. Soetomo itu menjelaskan, dinamika mutasi virus merupakan hal yang wajar di wilayah tropis seperti Indonesia. Karena itu, sistem surveilans yang kuat dan fasilitas kesehatan berstandar tinggi menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan kesehatan masyarakat.
Dengan adanya laboratorium Biosafety Level 2 (BSL-2), ruang isolasi terintegrasi, serta sistem layanan infeksi yang modern di RSUB, Dinkes Jatim kini memiliki dukungan signifikan dalam memantau dan menangani penyakit menular bagi sekitar 42 juta penduduk Jawa Timur, khususnya di wilayah Malang Raya.
“Jatim membutuhkan kapasitas respons klinis tinggi seperti yang dimiliki RSUB saat ini. Ini langkah preventif agar ke depan kita tidak lagi gagap menghadapi ancaman pandemi atau penyakit baru,” imbuhnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D. Med.Sc., menyebut pengoperasian Pusat Penyakit Infeksi tersebut sebagai wujud nyata hilirisasi riset kampus. Menurutnya, UB berkomitmen menjadikan riset dan inovasi akademik sebagai solusi konkret atas tantangan krisis kesehatan global.
“Kami ingin memastikan RSUB siap melakukan deteksi dini dan memberikan respons klinis yang mumpuni, didukung teknologi dan riset mutakhir melalui program Global Gateway dari Uni Eropa,” ujar Prof. Widodo.
Dalam acara peresmian tersebut nampak juga Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, dr. Husnul Muarif, menyepakati pernyataan Prof. Erwin soal keadaan di kota Malang.
Acara juga dihadiri Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Denis Chaibi dan Duta Besar Jerman Ralf Beste. Keduanya menyatakan kebanggaan atas kemitraan internasional ini dan berharap investasi teknologi kesehatan kelas dunia tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Jawa Timur.
Direktur RSUB, Dr. dr. Viera Wardhani, M.Kes, menjelaskan bahwa gedung Infectious Disease Center dirancang inklusif dan modern, dilengkapi IGD khusus infeksi, ruang isolasi terintegrasi, hingga fasilitas penitipan anak untuk transit kasus non-definitif guna mencegah risiko penularan silang.
Di akhir pernyataannya, Prof. Erwin kembali mengingatkan masyarakat agar tetap menerapkan pola hidup sehat sebagai benteng utama menghadapi mutasi virus. “Kunci utamanya adalah nutrisi seimbang dan istirahat cukup. Gunakan masker secara selektif, terutama bagi yang sedang sakit, agar tidak menularkan kepada orang lain,” pungkasnya.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?