Isra Mi‘raj: Spiritualitas yang Kembali ke Bumi
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Isra Mi‘raj merupakan peristiwa penting dalam sejarah kenabian Muhammad SAW. Namun, dalam perspektif Nahdlatul Ulama, peristiwa ini tidak cukup dipahami sebagai mukjizat yang melampaui hukum alam. Isra Mi‘raj adalah narasi etis dan pedagogis tentang bagaimana spiritualitas Islam dibangun, dijalani, dan diwujudkan dalam kehidupan sosial.
Bagi NU, Islam bukan agama yang mendorong pelarian dari realitas dunia, melainkan agama yang menuntun manusia untuk menata realitas dengan nilai-nilai ketuhanan. Karena itu, Isra Mi‘raj tidak berhenti pada pengalaman transendental Nabi di langit, tetapi berpuncak pada turunnya perintah shalat ibadah yang justru mengikat manusia pada keteraturan hidup, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial.
Isra dan Kesadaran Ruang Sosial Perjalanan Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa mengandung pesan teologis penting tentang kesucian ruang dan sejarah. Masjidil Aqsa bukan hanya tempat ibadah, melainkan simbol peradaban dan kesinambungan risalah para nabi. Di sana, Nabi Muhammad SAW menjadi imam bagi para nabi sebelumnya, menegaskan bahwa Islam hadir sebagai kelanjutan, bukan pemutusan, dari tradisi kenabian.
Dalam tradisi Aswaja an-Nahdliyah, hal ini sejalan dengan pandangan bahwa agama tidak boleh terlepas dari konteks sosial dan historis. Islam hadir di tengah masyarakat dengan tradisi dan budaya yang menyertainya. Karena itu, dakwah NU sejak awal tidak bersifat konfrontatif terhadap budaya lokal, melainkan dialogis dan akomodatif selama tidak bertentangan dengan prinsip tauhid dan akhlak. Inilah fondasi keberagamaan NU yang ramah, kontekstual, dan membumi.
Mi‘raj sering dipahami sebagai puncak pengalaman spiritual Nabi Muhammad SAW. Namun satu hal yang sangat penting adalah kenyataan bahwa Nabi kembali ke bumi. Beliau tidak menetap dalam pengalaman transendental, tetapi membawa pulang amanah untuk umatnya.
Dalam pemikiran NU, hal ini menegaskan bahwa spiritualitas sejati tidak berhenti pada pengalaman batin, tetapi harus berujung pada tanggung jawab sosial. Kedekatan kepada Allah semestinya melahirkan kerendahan hati, kepedulian, dan komitmen terhadap kemaslahatan bersama. Spiritualitas yang menjauhkan seseorang dari realitas sosial justru bertentangan dengan spirit Isra Mi‘raj.
Nabi kembali karena risalah Islam memang ditujukan untuk membimbing manusia dalam kehidupan nyata dengan segala kompleksitas sosial, politik, dan kulturalnya.
Perintah shalat yang diterima Nabi dalam peristiwa Isra Mi‘raj menjadi pusat refleksi keagamaan NU. Shalat dipahami bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi sebagai sistem etika kehidupan. Lima waktu shalat membentuk disiplin, kesadaran waktu, dan keteraturan hidup.
Dalam tradisi NU, shalat tidak berhenti pada keabsahan fikih, tetapi harus berdampak pada pembentukan akhlak. Shalat yang benar semestinya mencegah pelakunya dari perilaku zalim, kasar, dan merugikan orang lain. Dengan kata lain, shalat adalah mi‘raj yang membumi menghubungkan kesadaran ketuhanan dengan perilaku sosial sehari-hari.
Moderasi sebagai Pesan Teologis Peristiwa pengurangan shalat dari lima puluh menjadi lima waktu sering dibaca NU sebagai penegasan bahwa Islam adalah agama rahmat, bukan beban. Prinsip la yukallifullahu nafsan illa wus‘aha tercermin jelas dalam peristiwa ini.
Di sinilah NU menemukan dasar teologis bagi sikap tawassuth (moderat) dan tawazun (seimbang). Isra Mi‘raj mengajarkan bahwa ketaatan tidak identik dengan ekstremitas, dan kesalehan tidak harus diwujudkan dalam sikap keras atau simbolik. Jalan tengah adalah jalan kenabian yang perlu terus dirawat di tengah tantangan zaman.
Dalam khazanah tasawuf NU, Isra Mi‘raj dipahami sebagai perjalanan spiritual yang hanya dapat ditempuh dengan adab. Nabi Muhammad SAW dimuliakan bukan semata karena mukjizat, tetapi karena kesempurnaan akhlaknya.
Pesan ini relevan dalam konteks kehidupan keagamaan kontemporer. Ketika ekspresi keagamaan sering diukur dari simbol, retorika, dan klaim kebenaran, Isra Mi‘raj justru mengingatkan bahwa akhlak adalah ukuran utama spiritualitas.Penutup
Isra Mi‘raj, dalam perspektif Nahdlatul Ulama, adalah pelajaran tentang bagaimana spiritualitas harus berujung pada tanggung jawab. Nabi Muhammad SAW mengalami pendakian spiritual tertinggi, tetapi tidak menetap di sana. Beliau kembali ke bumi membawa amanah shalat sebuah ibadah yang menata relasi manusia dengan Tuhan sekaligus membentuk etika kehidupan sosial.
Pesan ini menjadi sangat relevan di tengah kehidupan beragama yang kerap terjebak pada simbol, klaim kebenaran, dan ekspresi spiritual yang terlepas dari realitas sosial. Isra Mi‘raj mengingatkan bahwa kedekatan kepada Allah seharusnya melahirkan sikap rendah hati, moderat, dan berpihak pada kemaslahatan bersama.
Bagi NU, inilah makna utama Isra Mi‘raj: naik secara spiritual, lalu kembali untuk mengabdi. Menjaga keseimbangan antara langit dan bumi, antara ibadah dan akhlak, antara kesalehan personal dan tanggung jawab sosial. Sebab, kesalehan sejati bukan diukur dari seberapa tinggi seseorang berbicara tentang langit, melainkan dari sejauh mana ia menghadirkan nilai-nilai langit dalam kehidupan di bumi.
Oleh: Saiful Anam (PC PSNU Pagar Nusa Kabupaten Malang)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?