Pendidikan Nasional di Persimpangan Jalan: Mengakhiri Perburuan Kambing Hitam dan Kembali ke Madrasatul Ula
MALANG|JATIMSATUNEWS.COM: Tujuan pendidikan nasional kita terukir mulia: mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Namun, kenyataan di lapangan seringkali terasa menyakitkan dan kontras dengan cita-cita luhur tersebut. Kita menyaksikan sebuah "loss"—kehilangan fokus pada proses utama—saat semua elemen masyarakat terjebak dalam pusaran rutinitas yang salah.
Guru, sebagai ujung tombak, seringkali harus berjuang di antara tumpukan administrasi yang mencekik dan tuntutan perut keluarga, sebab gaji yang minor tak pernah cukup memadai. Sementara itu, siswa hanya disibukkan dengan pengejaran nilai angka di atas kertas, dan orang tua tenggelam dalam ambisi karir yang tak berujung. Ditambah lagi, kurikulum yang silih berganti bak musim tak lagi menjadi rahasia, namun karakter anak bangsa seolah tak bergeming dari tempatnya.
Inilah problem nyata yang tak terpecahkan: karakter malas, tidak disiplin, tidak jujur, dan tidak bertanggung jawab masih menjadi PR besar yang menggantung.
Guru Bukan Satu-Satunya Kambing Hitam
Sangat memprihatinkan, ketika terjadi satu saja tindakan anarkis atau pelanggaran etika oleh siswa di masyarakat, serta-merta para guru dan sekolah menjadi kambing hitam tunggal atas kegagalan pendidikan.
Padahal, kita tahu betul bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama yang diemban oleh Tiga Pusat Pendidikan (Tri Sentra Pendidikan): Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat.
Sayangnya, banyak orang tua kini bersikap pragmatis. Mereka menyerahkan pendidikan seutuhnya kepada guru dengan dalih "sudah membayar mahal" atau "itu tugas sekolah." Moral anak bangsa pun menjadi rapuh, sementara elemen masyarakat lainnya sibuk mencari siapa yang paling patut disalahkan. Ironi ini diperparah dengan peran beberapa oknum di lini hukum (polisi atau pengacara) yang terkadang justru semakin memperkeruh keadaan, alih-alih memberikan solusi konstruktif.
Kembali ke Rumah: Fondasi Akhlak dan Madrasatul Ula
Kegagalan karakter ini mustahil diselesaikan hanya dengan mengubah silabus atau menambah jam pelajaran di sekolah. Solusinya harus kembali ke fondasi utama: Rumah dan Keluarga.
Adab dan akhlak dibentuk dari kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar melalui pengajaran knowledge yang berbasis silabus semata. Kebiasaan inilah yang harus terus dibangun dan dikawal bersama. Bahkan ketika anak berada di pondok pesantren, kebiasaan baik ini harus didukung dan diselaraskan dengan peran orang tua dan masyarakat saat mereka berinteraksi di luar lingkungan sekolah atau pondok.
Hal ini sejalan dengan kaidah fundamental para ulama tentang hierarki prioritas dalam pendidikan:
الأدب قبل العلم
(Al-Adabu Qabla Al-'Ilmi)
Artinya: "Adab (Etika/Budi Pekerti) didahulukan sebelum Ilmu (Pengetahuan)."
Prioritas adab ini diperkuat oleh konsep keluarga sebagai "Madrasatul Ula" (Sekolah Pertama), yang diperkuat oleh pepatah Arab:
الأم مدرسة الأولى إذا أعددتها أعددت شعبا طيب الأعراق
(Al-Ummu madrasatul Ūlā idzā a'dadtahā a'dadtahā sha'ban ṭayyib al-a'rāq)
Artinya: “Ibu adalah sekolah pertama, jika engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan satu bangsa yang baik keturunannya.”
Sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantoro, yang mengatakan, "Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah," jelas bahwa rumah merupakan unsur terpenting dan utama dalam pendidikan karakter. Akhlak, etika, dan integritas tidak dapat dibentuk sekadar oleh silabus.
Solusi SPARTA: Pendidikan Holistik dan Pembiasaan Karakter
Lantas, bagaimana cara keluar dari krisis karakter dan fokus yang hilang ini? Di sinilah model pendidikan holistik perlu diaplikasikan, seperti yang dicontohkan oleh SMP Arrohmah Putra (SPARTA) Malang.
SPARTA menawarkan solusi melalui perpaduan seimbang dalam tiga program unggulannya:
- Islamic Character's: Ini adalah fondasi utama yang memastikan pembentukan akhlak melalui pembiasaan sehari-hari (bukan sekadar pengetahuan teori), sejalan dengan peran Madrasatul Ula yang berbasis agama dan adab.
- Excellent Academic: Tetap memastikan siswa unggul dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan mampu bersaing.
- Bilingual School: Menyiapkan siswa menghadapi tantangan global dengan penguasaan bahasa.
Dengan menyandingkan pembentukan karakter agama yang kuat (Islamic Character's) melalui kebiasaan, dengan keunggulan akademik (Excellent Academic) dan wawasan global (Bilingual School), SPARTA menunjukkan bahwa pendidikan karakter adalah inti yang menyatu dan harus disinergikan dengan Tri Sentra Pendidikan, sehingga tidak ada lagi pihak yang menjadi kambing hitam, dan cita-cita mulia pendidikan nasional dapat tercapai. SPARTA JAYA!
Author: ZLion



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?