![]() |
| Oleh: Romalita Manik | Wawancara 28 November 2025 |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Di sebuah sudut asrama Universitas Negeri Surabaya (Unesa), berdiri seorang pemuda bertubuh luar biasa tinggi sekitar 210–215 sentimeter. Ia harus sedikit menundukkan kepala setiap kali melewati ambang pintu, bahkan pintu asrama yang biasanya cukup untuk mahasiswa lain pun tak sanggup menampung posturnya. Dialah Elpanta Tarigan, atau akrab disapa Elpan, mahasiswa tunanetra yang datang dari sebuah desa kecil bernama Kula Dekah di Kecamatan Biru-Biru, Deli Serdang, Sumatera Utara.
Bagi sebagian orang, tinggi badan yang menjulang mungkin menjadi keistimewaan. Namun bagi Elpan, tinggi tubuhnya adalah cerita panjang tentang perjuangan—pengingat bahwa hidup bukan sekadar tentang menerima anugerah, tetapi juga tentang bagaimana menyiasatinya dengan syukur dan keberanian.
Perjalanan ke Unesa: Dari Desa ke Kampus Negeri dengan Jalur UTBK
Elpan tiba di Surabaya pada 2022 dengan perasaan campur aduk. Ia adalah satu dari sedikit mahasiswa tunanetra yang berhasil masuk ke Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur UTBK. “Saya senang sekali,” ujar Elpan dengan penuh syukur. “Saya merasa diberi kesempatan besar.”
Ia memilih Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB)—sebuah pilihan yang sangat sesuai dengan kondisinya. Meski ia tidak menyebutkan alasan spesifik memilih jurusan tersebut, namun
jelas bahwa dunia PLB akan membuatnya dekat dengan isu-isu inklusi yang selama ini ia jalani sendiri.
Kini, ia tinggal di asrama Unesa. Tempat yang nyaman bagi kebanyakan mahasiswa, tetapi menjadi ruang penuh penyesuaian bagi orang setinggi dua meter lebih.
Tantangan Tinggi Badan: Dari Sepatu, Pintu, hingga Tempat Tidur
Bagi Elpan, problem utamanya bukan pada kemampuan akademik sebagai tunanetra saja, tetapi juga pada tubuhnya yang begitu besar.
“Sepatu dan sandal itu paling susah,” keluhnya. Ukuran kakinya tidak tersedia di pasaran Indonesia. Ia harus memesan khusus, tetapi produsen sering menolak karena ukuran yang terlalu besar membuat biaya produksinya tidak sebanding bila hanya membuat satu pasang.
Pakaian pun sama. “Kalau di badan cukup, panjang lengannya kurang. Panjang baju juga sering kurang,” ujarnya. Celana panjang yang ideal baginya hampir tidak pernah ada di toko biasa.
Di asrama, tempat tidur standar panjangnya tak cukup untuk menampung tubuhnya. Kakinya sering menggantung di ujung ranjang. Belum lagi kemalangan kecil yang hampir selalu terjadi: kepalanya sering terbentur pintu atau langit-langit bangunan yang rendah.
Karena tunanetra, ia juga membutuhkan tongkat khusus. Namun tongkat standar terlalu pendek untuk posturnya, sehingga ia harus mencari alat bantu khusus yang jarang tersedia.
Bagaimana ia menyiasati semua itu? “Berdamai dengan diri sendiri,” katanya kalem. Ia belajar menyesuaikan diri, mencari solusi, dan sesekali meminta bantuan orang-orang terdekat.
Kehidupan Sosial: Antara Kekaguman dan Rasa Kurang Percaya Diri
Bertemu Elpanta untuk pertama kalinya sering membuat orang-orang terkejut. Dosen, teman baru, bahkan orang asing di tempat umum sering berhenti sejenak, menengok dua kali, sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya atau meminta foto.
Lucunya, Elpan tidak pernah merasa terganggu. “Ya kaget sih orang-orang. Saya diistimewakan saat perkenalan, sering diminta maju ke depan,” katanya sambil tertawa kecil. Ia menghadapi perhatian itu dengan kepercayaan diri, meskipun sesekali rasa minder muncul ketika berdiri dalam keramaian. “Saat kegiatan ramai, saya paling tinggi sendiri. Kadang kurang percaya diri.”
Salah satu momen lucu yang masih ia ingat terjadi di kolam renang berkedalaman dua meter. “Saya gak tenggelam,” katanya sambil tertawa. Teman-temannya yang tak pandai berenang naik ke tubuhnya seakan ia adalah “pelampung hidup”. Tetapi ketika sampai di tengah kolam, mereka malah menjahili Elpan yang pada akhirnya membalas dengan “menenggelamkan” mereka semua.
Bakat Olahraga: Prestasi dari Solo hingga Medan
Meski tunanetra, Elpan bukan orang yang mudah menyerah. Fisiknya yang tinggi dan kuat justru membawanya pada prestasi nasional dan provinsi.
Tahun 2017, ia menekuni atletik nomor lempar dan berhasil menyabet medali emas di Pekan Paralimpik Pelajar Nasional di Solo. Dua tahun kemudian, ia mewakili Kota Medan dalam cabang goalball pada Pekan Paralimpik Provinsi Sumatera Utara.
Selain itu, Elpan juga gemar bermain catur meski kini jarang mengikuti kompetisi, minat itu belum pernah padam.
Ia mengakui tinggi badannya membuka banyak relasi. “Kalau ke tempat baru, banyak yang penasaran, akhirnya jadi tambah teman,” ujarnya. Namun ia menegaskan bahwa ia belum pernah mendapat beasiswa atau endorsement karena kondisi fisiknya.
Pertumbuhan yang Tak Biasa: Tinggi 180 cm di Usia 15 Tahun
Elpan baru menyadari keunikannya saat berusia 15 tahun. “Sudah 180 cm,” kenangnya. Padahal remaja laki-laki sebayanya jarang yang setinggi itu. Orang tuanya sendiri memiliki tinggi rata-rata orang Indonesia. Ia pun tidak tahu apakah ada kondisi medis tertentu di balik pertumbuhannya, atau semata faktor genetik.
Dukungan Keluarga: “Jangan Pernah Malu dengan Kondisimu”
Segala perjalanan Elpan tidak lepas dari dukungan keluarga. Meski ia satu-satunya yang bertubuh sangat tinggi di keluarganya, orang tua dan saudara-saudaranya selalu meneguhkan kepercayaan dirinya.
Pesan yang paling ia ingat dari keluarga adalah:
“Tetap percaya diri dengan apa yang kamu miliki. Jangan pernah malu dengan keadaanmu.”
Nasihat itulah yang menjadi pondasi keteguhannya melangkah jauh dari desa menuju bangku perkuliahan.
Cita-cita dan Pesan untuk Dunia: Menjadi Cahaya bagi Orang Lain
Setelah lulus dari Unesa, Elpanta ingin hidupnya lebih berdampak bagi masyarakat, terutama bagi keluarganya. Ia tak ingin keunikannya hanya menjadi cerita; ia ingin menjadikannya kekuatan untuk membantu orang lain.
Di akhir wawancara, ia menyampaikan pesan yang sangat membekas:
“Jangan pernah malu dengan apa yang kita miliki. Bersyukurlah dan berdamailah dengan diri sendiri. Jadikan perbedaan sebagai kelebihan.”
Dalam tubuhnya yang besar, Elpanta menyimpan hati yang jauh lebih besar. Ia bukan hanya sosok tinggi menjulang, tetapi juga simbol keberanian untuk menerima diri apa adanya—dan mengubah perbedaan menjadi kekuatan.
Penulis : Romalita Manik

.png)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?