![]() |
| Ketika Pikiran Tak Lagi Punya Ruang untuk Beristirahat sebuah artikel opini dari Miftahul Huda, Dosen Fakultas Syariah UIN Malang./dok.istimewa |
OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Ketika Pikiran Tak Lagi Punya Ruang untuk Beristirahat
Oleh: Dr.H.Miftahul Huda, SHI.,M.H
(Dosen Fakultas Syariah UIN Malang)
Ada masa ketika manusia begitu mudah menemukan tempat untuk beristirahat. Tubuh yang lelah bisa berhenti, mata yang mengantuk bisa terpejam, dan pekerjaan yang menumpuk dapat ditinggalkan sejenak. Namun, bagaimana jika tubuh sudah berhenti, sementara pikiran tidak pernah benar-benar beristirahat?
Pertanyaan ini menjadi relevan ketika kita membaca pemberitaan mengenai kondisi kesehatan mental warga Kota Malang.
Berdasarkan pemberitaan media, sekitar 1.600 warga tercatat menjalani pengobatan terkait gangguan kesehatan mental di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Beban pikiran yang berkepanjangan dan tekanan ekonomi disebut menjadi salah satu faktor yang dominan.
Angka tersebut tentu tidak semestinya berhenti sebagai statistik. Di balik setiap angka ada manusia, keluarga, dan cerita tentang kehidupan yang mungkin tidak pernah kita ketahui.
Ada seseorang yang setiap hari tetap bekerja, tersenyum, berinteraksi dengan orang lain, tetapi di dalam dirinya sedang berjuang menghadapi beban yang tidak sederhana.
Fenomena ini mengajak kita melihat kesehatan mental secara lebih luas. Gangguan mental tidak lahir dari satu sebab tunggal. Tekanan ekonomi, persoalan keluarga, lingkungan sosial, pengalaman hidup, kondisi psikologis, hingga derasnya arus informasi di era digital dapat saling berkelindan.
Tekanan ekonomi, misalnya, tidak hanya berbicara tentang kemampuan memenuhi kebutuhan hidup. Ketidakpastian pekerjaan, kebutuhan keluarga, pendidikan anak, utang, dan tuntutan sosial dapat menjadi tekanan psikologis yang panjang.
Ketika berbagai persoalan datang bersamaan dan berlangsung terus-menerus, pikiran pun membutuhkan ruang untuk mengolahnya.
Sayangnya, ruang tersebut semakin sulit ditemukan.
Kita hidup di zaman ketika informasi tidak pernah benar-benar berhenti. Ponsel menjadi benda pertama yang dilihat ketika bangun tidur dan sering kali menjadi benda terakhir yang diletakkan sebelum tidur.
Berita datang tanpa jeda. Media sosial memperlihatkan kehidupan orang lain. Notifikasi terus berdatangan. Algoritma menghadirkan konten baru bahkan ketika kita tidak sedang mencarinya.
Teknologi tentu memberikan banyak manfaat. Namun, banjir informasi juga membawa tantangan baru. Kita tidak hanya menghadapi persoalan hidup sendiri, tetapi juga terus menerus terpapar persoalan orang lain.
Kita melihat keberhasilan orang lain, membandingkan kehidupan, membaca kabar buruk, menyaksikan konflik, mengikuti perdebatan, dan menerima berbagai tuntutan sosial dalam waktu yang hampir bersamaan. Pada titik tertentu, pikiran tidak lagi memiliki cukup ruang untuk mencerna semuanya.
Bagi remaja, kondisi ini menjadi semakin kompleks. Masa remaja merupakan fase pencarian identitas. Pada saat yang sama, mereka berhadapan dengan tekanan akademik, relasi pertemanan, ekspektasi keluarga, pencarian penerimaan sosial, dan standar kehidupan yang dibentuk media sosial.
Karena itu, literasi kesehatan mental di era digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Literasi kesehatan mental bukan sekadar mengetahui istilah stres, kecemasan, depresi, atau burnout.
Lebih dari itu, seseorang perlu memiliki kemampuan mengenali kondisi dirinya, memahami emosi, mengelola tekanan, membangun batas yang sehat dalam menggunakan media digital, serta mengetahui kapan harus mencari bantuan.
Dalam konteks ini, pendidikan kesehatan mental menjadi bagian penting dari pendidikan dan pengasuhan. Anak dan remaja perlu memiliki ruang aman untuk bercerita tanpa segera dihakimi.
Orang tua perlu belajar mendengarkan sebelum memberikan nasihat. Guru, pendamping, dan tokoh masyarakat juga perlu memahami bahwa perubahan perilaku seseorang terkadang merupakan tanda bahwa ia sedang menghadapi persoalan yang membutuhkan perhatian.
Perspektif keagamaan juga memiliki ruang penting dalam membangun kesadaran tersebut. Dalam Islam, terdapat konsep maqashid al-syariah yang menempatkan perlindungan jiwa atau hifz al-nafs sebagai salah satu tujuan penting syariat.
Menjaga jiwa tidak semestinya hanya dimaknai sebagai menjaga manusia dari ancaman fisik. Ia juga dapat dimaknai sebagai ikhtiar menciptakan kehidupan yang memungkinkan manusia hidup secara bermartabat, mendapatkan dukungan ketika menghadapi kesulitan, dan memperoleh pertolongan ketika membutuhkan.
Karena itu, kepedulian terhadap kesehatan mental bukanlah sesuatu yang berada di luar nilai-nilai keislaman. Sebaliknya, ia sejalan dengan semangat rahmah, kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.
Ketika seseorang sedang mengalami tekanan berat, respons pertama kita semestinya bukan menghakimi, melainkan memahami. Bukan bertanya, “Mengapa kamu tidak kuat?”, tetapi bertanya, “Apa yang sedang kamu hadapi?”
Kita juga perlu berhati-hati dengan kecenderungan menganggap persoalan kesehatan mental semata-mata sebagai persoalan iman. Ketika seseorang mengalami gangguan mental, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ia kurang iman, kurang bersyukur, atau kurang mendekatkan diri kepada Tuhan.
Spiritualitas memang dapat menjadi sumber kekuatan, harapan, dan keteguhan. Namun, gangguan mental juga merupakan persoalan kesehatan yang pada kondisi tertentu membutuhkan penanganan profesional.
Pendekatan keagamaan dan pendekatan psikologis maupun medis tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan.
Agama dapat menghadirkan harapan dan makna, sementara psikolog atau psikiater memberikan penanganan profesional sesuai kondisi seseorang. Mencari bantuan bukan tanda kelemahan. Justru keberanian mencari pertolongan ketika membutuhkan merupakan bagian dari ikhtiar menjaga diri.
Di sinilah lembaga keagamaan, termasuk masjid, majelis taklim, pesantren, organisasi kepemudaan, dan komunitas keagamaan memiliki peluang besar. Ruang-ruang tersebut selama ini menjadi tempat masyarakat berinteraksi dan membangun kehidupan sosial.
Lembaga keagamaan tidak harus berubah menjadi klinik psikologi. Namun, ia dapat menjadi ruang pertama yang membuat seseorang merasa diterima, didengar, dan tidak sendirian.
Seorang remaja yang mengalami tekanan mungkin belum siap datang kepada psikolog. Tetapi ia mungkin lebih mudah bercerita kepada guru ngaji, pembina organisasi, ustaz, mentor, atau orang dewasa yang dipercaya.
Karena itu, para tokoh agama dan pendamping generasi muda juga perlu memiliki literasi dasar mengenai kesehatan mental agar dapat memberikan respons yang tepat dan mengetahui kapan seseorang membutuhkan bantuan profesional.
Keluarga pun memiliki peran yang tidak kalah penting. Keluarga adalah lingkungan pertama dan paling dekat bagi seseorang. Di dalam keluarga, seseorang seharusnya dapat merasa aman untuk menyampaikan persoalan tanpa takut langsung dihakimi.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah stigma. Ketika masyarakat masih menganggap gangguan mental sebagai sesuatu yang memalukan, seseorang akan semakin sulit mencari pertolongan.
Karena itu, kita membutuhkan perubahan cara pandang. Dari stigma menuju empati. Dari menghakimi menuju mendengarkan. Dari menyembunyikan menuju mendampingi. Dan dari menganggap kesehatan mental sebagai persoalan pribadi menuju kesadaran bahwa kesehatan mental merupakan tanggung jawab bersama.
Kegiatan Serasehan dan Dialog Interaktif Literasi Kesehatan Mental Remaja di Era Digital yang diselenggarakan MUI Kota Malang pada 8 Agustus 2026 dan melibatkan berbagai unsur kepemudaan serta organisasi remaja di Kota Malang menjadi langkah penting dalam membangun kesadaran bersama tentang kesehatan mental.
Namun, literasi semacam ini tidak seharusnya berhenti pada kalangan remaja. Kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental perlu diperluas kepada orang tua, guru, tokoh agama, pengurus organisasi kepemudaan, dan masyarakat secara umum.
Dengan demikian, upaya menjaga kesehatan mental tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi tumbuh menjadi gerakan bersama yang berangkat dari keluarga, lingkungan pendidikan, komunitas, hingga ruang-ruang keagamaan.
Kota yang sehat tidak hanya ditandai dengan fasilitas kesehatan yang baik, tetapi juga oleh masyarakat yang peduli terhadap kondisi psikologis sesamanya. Karena itu, persoalan kesehatan mental membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Pemerintah menyediakan layanan dan kebijakan. Tenaga kesehatan memberikan penanganan profesional. Sekolah dan kampus membangun lingkungan pendidikan yang sehat.
Keluarga menjadi ruang perlindungan pertama. Organisasi kepemudaan menciptakan ruang aktualisasi. Sementara lembaga keagamaan dapat menghadirkan nilai spiritual, empati, dan ruang sosial yang inklusif.
Media juga memiliki peran penting. Pemberitaan tentang gangguan mental seharusnya tidak berhenti pada angka dan sensasi. Media dapat menjadi sarana edukasi agar masyarakat memahami persoalan kesehatan mental secara lebih manusiawi.
Dengan demikian, angka 1.600 bukan sekadar statistik. Di baliknya ada manusia, ada keluarga, ada perjuangan, dan ada tanggung jawab kita bersama.
Mungkin di tengah dunia yang semakin cepat dan banjir informasi yang tidak pernah berhenti, salah satu bentuk kemajuan yang paling penting justru adalah kemampuan manusia untuk berhenti sejenak, mendengarkan dirinya sendiri, dan peduli terhadap orang di sekitarnya.
Kita perlu belajar bahwa tidak semua kesedihan harus segera diberi nasihat. Tidak semua persoalan harus langsung dicarikan jawaban. Terkadang, seseorang hanya membutuhkan ruang untuk didengarkan dan keyakinan bahwa ia tidak sendirian.
Menjaga kesehatan mental bukan berarti menjauh dari kehidupan. Justru sebaliknya, ia adalah bagian dari ikhtiar menjaga kehidupan itu sendiri.
Dalam semangat hifz al-nafs, menjaga jiwa berarti memastikan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk hidup dengan bermartabat, mendapatkan pertolongan ketika membutuhkan, dan tidak merasa sendirian ketika menghadapi beratnya kehidupan.
Sebab, masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang tidak pernah mengalami masalah. Masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang tidak membiarkan orang yang sedang menghadapi masalah berjuang sendirian.
Dan mungkin, di tengah kesibukan kita mengejar begitu banyak hal, ada satu hal sederhana yang perlu kembali kita lakukan: memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat. ***
Editor: YAN
Baca juga: Urip Mung Sawang-sinawang



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?