![]() |
| Miftahul Huda, Dosen Fakultas Syariah UIN Malang mengulik tentang sawang-sinawang dalam kehidupan melalui ulasan opininya./dok.istimewa |
OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Urip Mung Sawang-sinawang: Menemukan Kedamaian dalam Rasa Syukur
Oleh: Dr. H. Miftahul Huda, SHI., M.H.
(Dosen Fakultas Syariah UIN Malang)
Malam semakin larut, tetapi jari masih sibuk menggulir layar gawai. Di linimasa media sosial, kita melihat seorang teman membeli mobil baru.
Di unggahan lain, seorang kerabat membagikan foto perjalanan mewah ke luar negeri. Tanpa disadari, muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rasa kurang, ada kegelisahan kecil yang menyelinap, lalu muncul pertanyaan dalam hati:
“Mengapa hidup mereka tampak begitu mudah dan bahagia, sementara hidup saya masih seperti ini?”
Perasaan semacam itu bukanlah sesuatu yang baru muncul karena kehadiran media sosial. Jauh sebelum dunia digital hadir, masyarakat Jawa telah mengenal sebuah falsafah kehidupan yang sarat makna: “Urip iku mung sawang-sinawang, mula aja padha dumeh.”
Hidup itu sejatinya hanya saling melihat dari kejauhan, maka jangan mudah merasa lebih baik, lebih beruntung, atau lebih tinggi daripada orang lain.
Falsafah tersebut mengingatkan bahwa pandangan manusia sering kali terbatas. Kita cenderung hanya melihat apa yang tampak di permukaan, sementara di baliknya terdapat banyak cerita, perjuangan, dan persoalan yang tidak terlihat. Sesuatu yang tampak indah belum tentu mencerminkan seluruh kenyataan, sebab setiap kehidupan selalu memiliki sisi yang tidak diperlihatkan kepada orang lain.
Dalam budaya Jawa, dikenal istilah "sawang sinawang", yang mengajarkan bahwa kehidupan sangat bergantung pada sudut pandang.
Kita sering melihat kehidupan orang lain lebih beruntung, lebih mudah, atau lebih bahagia, sementara orang lain mungkin memandang kehidupan kita dengan cara yang sama.
Padahal, setiap manusia memiliki perjalanan, tantangan, dan ujiannya masing-masing. Karena itu, penting untuk tidak mudah membandingkan hidup, melainkan belajar menerima, bersyukur, dan memahami bahwa setiap orang sedang menjalani kisahnya sendiri.
Ketika terjebak dalam sawang-sinawang, sesungguhnya kita sedang membandingkan seluruh perjalanan hidup kita dengan potongan terbaik dari kehidupan orang lain.
Kita melihat seseorang sukses dengan karirnya, tetapi tidak melihat perjuangan panjang, kegagalan, pengorbanan waktu, bahkan kegelisahan yang mungkin pernah ia lalui.
Kita melihat keluarga yang tampak harmonis di media sosial, tetapi tidak mengetahui berbagai proses, kesabaran, dan kompromi yang mereka bangun dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap manusia memiliki cerita yang tidak selalu terlihat. Banyak orang hanya memperlihatkan keberhasilan, sementara perjuangan dan air mata sering disimpan sendiri. Karena itu, membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain sering kali menjadi perbandingan yang tidak adil.
Jika terus mengukur kebahagiaan dengan standar orang lain, kita akan sulit menemukan rasa cukup.
Rumah yang kita tempati terasa kurang besar, pekerjaan yang kita jalani terasa kurang membanggakan, dan pencapaian yang sudah diraih terasa tidak berarti.
Kita akhirnya berada dalam perlombaan yang tidak pernah selesai, karena selalu ada seseorang yang tampak lebih berhasil daripada kita.
Perlombaan semacam itu tidak hanya melelahkan pikiran, tetapi juga perlahan merampas kedamaian hati.
Kita lupa menikmati apa yang sudah dimiliki karena terlalu sibuk mengejar apa yang belum ada. Padahal, kehidupan bukanlah kompetisi untuk menjadi seperti orang lain, melainkan perjalanan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.
Pada dasarnya, sawang-sinawang muncul karena manusia memiliki kecenderungan untuk melihat kehidupan orang lain dari sisi yang tampak, lalu membandingkannya dengan kehidupan sendiri.
Perasaan kurang puas, keinginan untuk diakui, serta pengaruh media sosial semakin memperkuat kecenderungan tersebut. Kita sering melihat keberhasilan orang lain tanpa memahami proses panjang yang mereka jalani.
Media sosial, misalnya, lebih sering menjadi ruang untuk menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang.
Foto kebahagiaan, pencapaian, dan keberhasilan lebih mudah dibagikan daripada cerita tentang kegagalan, kesulitan, dan perjuangan. Akibatnya, seseorang dapat merasa tertinggal hanya karena membandingkan kehidupan nyata dirinya dengan tampilan terbaik kehidupan orang lain
Lalu, bagaimana cara keluar dari jebakan sawang-sinawang?
Salah satu jalannya adalah kembali belajar melihat kehidupan dengan kacamata rasa syukur.
Bersyukur bukan berarti berhenti memiliki cita-cita atau menerima keadaan tanpa usaha. Sebaliknya, rasa syukur adalah kemampuan untuk menyadari bahwa di balik segala kekurangan, selalu ada hal yang patut dihargai.
Bersyukur membuat kita mampu melihat bahwa banyak hal yang kita nikmati hari ini mungkin dahulu pernah menjadi doa yang kita panjatkan.
Ketika rasa syukur tumbuh dalam diri, cara pandang kita terhadap kehidupan pun berubah. Kita tidak lagi sibuk menghitung apa yang dimiliki orang lain, tetapi mulai menghargai apa yang telah Tuhan titipkan kepada kita.
Kita tetap boleh bermimpi besar dan berusaha meraihnya, tetapi tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran nilai diri.
Dalam ajaran Islam, Allah Swt. mengingatkan: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu...” (QS. Ibrahim [14]: 7).
Ayat ini mengajarkan bahwa rasa syukur bukan hanya tentang menerima nikmat, tetapi juga cara menjaga hati agar tetap tenang dan tidak terjebak dalam rasa kekurangan yang tidak pernah berakhir.
Falsafah urip mung sawang-sinawang mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki jalan hidup, waktu, dan perjuangannya masing-masing.
Kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh cerita seseorang hanya dari apa yang terlihat. Karena itu, jangan terlalu cepat merasa rendah ketika melihat keberhasilan orang lain, sebab setiap manusia memiliki proses dan waktunya sendiri.
Sawang-sinawang bukanlah persoalan karena manusia saling melihat, melainkan ketika pandangan tersebut membuat seseorang lupa menghargai jalan hidupnya sendiri.
Ketika kebiasaan membandingkan diri terus dipelihara, rasa iri, kegelisahan, dan perasaan tidak pernah cukup perlahan tumbuh dalam hati. Akibatnya, seseorang semakin jauh dari kemampuan untuk menikmati nikmat dan keberkahan yang sebenarnya telah Allah SWT titipkan.
Daripada terus menoleh kepada kehidupan orang lain dengan rasa kurang, lebih baik kita belajar menatap kehidupan sendiri dengan rasa syukur.
Kedamaian sejati tidak selalu ditemukan ketika kita memiliki lebih banyak daripada orang lain, tetapi ketika hati mampu menerima, menghargai, dan mensyukuri apa yang telah Allah SWT titipkan.
Sebab, hidup bukanlah perlombaan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan perjalanan tentang bagaimana seseorang mampu menjalaninya dengan hati yang tenang. Urip iku mung sawang-sinawang.
Jangan habiskan hidup dengan membandingkan, karena kebahagiaan sering kali hadir bukan ketika kita memiliki segalanya, tetapi ketika kita mampu mensyukuri apa yang ada. ***
Editor: YAN
Baca juga: Membedah Fenomena Angel Wes...



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?