Banner Iklan

Wamen P2MI di Wisuda ke-122 UMM: Tekankan Pentingnya Adaptasi Global dan Skill Bahasa Menghadapi Era AI

M. Rifki Fauzi
07 Juli 2026 | 17.28 WIB Last Updated 2026-07-07T10:28:29Z

 
Dokumentasi Penyampaian Sambutan di Hall Dome UMM

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - Disrupsi teknologi, penetrasi Artificial Intelligence (AI), dan perubahan pasar kerja global memaksa perguruan tinggi untuk tidak sekadar mencetak sarjana dengan kompetensi akademik standar. Lulusan masa kini dituntut lebih adaptif, tangguh, dan memiliki daya saing di tingkat internasional. Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam perhelatan Wisuda ke-122 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Program Vokasi, Sarjana, dan Pascasarjana di Hall Dome UMM, Selasa (7/7/2026).

Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla, S.Pd., M.Ikom., dalam orasi ilmiahnya menyebutkan bahwa kecepatan perubahan dunia telah merombak pola komunikasi, cara kerja, dan tuntutan kompetensi industri di berbagai sektor. Menghadapi dinamika yang bergerak sangat cepat tersebut, lulusan perguruan tinggi wajib meningkatkan kapasitas diri secara berkelanjutan agar tidak tergilas zaman.“Masa depan pekerjaan berubah total dengan adanya artificial intelligence. Cara bekerja tidak lagi sama, kompetensi yang dibutuhkan juga berbeda. Karena itu, bersyukurlah berada di kampus yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun resiliensi, daya tahan, fleksibilitas, dan kelincahan menghadapi perubahan,” tegas Dzulfikar Ahmad Tawalla.

Peluang Kerja Global dan Nilai Tambah Keterampilan Bahasa

Lebih lanjut, Dzulfikar menyoroti semakin terbukanya peluang kerja di kancah global yang membutuhkan pasokan tenaga kerja terampil. Ia mengingatkan bahwa bonus demografi Indonesia hanya bisa diubah menjadi kekuatan ekonomi nyata jika lulusan mau melengkapi diri dengan kompetensi tambahan, khususnya penguasaan bahasa asing dan keterampilan spesifik standar internasional.“Jika tenaga kesehatan atau profesi lainnya menambah kompetensi bahasa dan keterampilan, kemudian masuk ke pasar Eropa atau Timur Tengah, pendapatan tahun pertama bisa mencapai sekitar Rp25 juta per bulan. Karena itu, jangan berhenti belajar setelah lulus,” pesan Wamen P2MI kepada para wisudawan.

Komitmen UMM Cetak Lulusan Pemberi Solusi

Merespons tantangan global tersebut, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyatakan komitmen kampus dalam menyesuaikan sistem pendidikan global melalui penguatan akademik dan kolaborasi industri. Pria yang akrab disapa Nazar ini mengedepankan program Center of Excellence (CoE) dan Excellent Solution Center (ESC) sebagai strategi konkret UMM.

Simbolis Penyerahan Kenang-Kenangan oleh Rektor

Program strategis ini dirancang untuk mengintegrasikan pembelajaran dan inkubasi inovasi agar mahasiswa siap menghadapi dunia kerja. Baginya, tolak ukur keberhasilan perguruan tinggi terletak pada sejauh mana alumninya hadir menjadi pemberi solusi di kehidupan nyata.“Prestasi yang sesungguhnya adalah kemampuan alumni untuk terus memberikan manfaat di tengah masyarakat. Pendidikan harus tumbuh bersama masyarakat, bukan berjalan terpisah dari persoalan yang mereka hadapi,” ungkap Prof. Nazaruddin Malik.

Sebagai penutup, momentum Wisuda ke-122 ini menjadi pesan pengingat yang kuat bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi bukanlah satu-satunya jaminan kesuksesan. Keluwesan beradaptasi, semangat belajar sepanjang hayat, dan keberanian menghadapi persaingan global adalah modal fundamental yang harus terus dibawa oleh setiap lulusan UMM untuk memenangkan persaingan di era transformasi yang serba cepat ini.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Wamen P2MI di Wisuda ke-122 UMM: Tekankan Pentingnya Adaptasi Global dan Skill Bahasa Menghadapi Era AI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now