Banner Iklan

Pasca Lulus Skripsi, Mahasiswa PAI FITK ICP H UIN Malang Ubah Selebrasi Kelulusan Menjadi Gerakan Kemanusiaan

M. Kholilur Rohman
10 Juli 2026 | 05.29 WIB Last Updated 2026-07-09T22:29:18Z

 

Foto: Dokumentasi bersama 

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Kelulusan sidang skripsi identik dengan perayaan meriah, pemberian bunga, atau konvoi kebahagiaan di lingkungan kampus. Namun, mahasiswa International Class Program (ICP) H Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, justru menghadirkan makna baru dalam merayakan keberhasilan akademik. Menyikapi kebijakan kampus yang melarang selebrasi pasca-sidang di area kampus, mereka memilih mengubah rasa syukur menjadi aksi nyata melalui gerakan kemanusiaan yang menyentuh hati.

Alih-alih memandang aturan tersebut sebagai sebuah pembatas, mahasiswa PAI ICP H menjadikannya sebagai momentum untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Dengan semangat berbagi, mereka menginisiasi kegiatan bakti sosial yang dipusatkan di Panti Asuhan Yasibu dan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Peduli Kasih KNDJH sebagai bentuk rasa syukur atas selesainya perjuangan panjang menyelesaikan tugas akhir.

Gerakan sosial itu bermula dari sebuah gagasan sederhana yang digagas oleh empat mahasiswa. Awalnya, mereka hanya merencanakan kunjungan tasyakuran dalam skala kecil ke satu panti asuhan karena keterbatasan dana yang dimiliki di penghujung masa studi. Namun, keyakinan bahwa rasa syukur akan menjadi lebih bermakna ketika dibagikan kepada sesama mendorong mereka membuka penggalangan donasi melalui media sosial.

Tak disangka, inisiatif tersebut mendapat sambutan luar biasa dari berbagai kalangan. Dukungan masyarakat terus mengalir hingga melampaui ekspektasi. Target dana awal sebesar Rp2 juta berhasil meningkat menjadi lebih dari Rp3 juta, memungkinkan mahasiswa memperluas manfaat kegiatan secara signifikan.

Berkat partisipasi para donatur, jumlah paket bantuan yang semula direncanakan hanya 35 parsel bertambah menjadi 105 paket. Tidak hanya itu, berbagai bantuan berupa pakaian layak pakai, jilbab, serta kebutuhan sehari-hari juga turut disalurkan. Bahkan, jangkauan kegiatan berkembang dari satu menjadi dua lembaga pengasuhan, sehingga semakin banyak anak yang merasakan manfaat dari aksi kemanusiaan tersebut.

Lebih dari sekadar memberikan bantuan material, mahasiswa PAI ICP H memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengimplementasikan kompetensi yang mereka peroleh selama menempuh pendidikan. Berbekal ilmu pedagogik, mereka menyelenggarakan berbagai outbound games edukatif yang dirancang untuk melatih kerja sama, kreativitas, serta membangun kedekatan emosional bersama anak-anak panti. Gelak tawa dan keceriaan memenuhi setiap rangkaian kegiatan. Suasana semakin hangat ketika mahasiswa mengajak seluruh anak menikmati jamuan pizza bersama, menciptakan momen kebersamaan yang sederhana namun penuh makna. Salah satu inisiator kegiatan, Amelianurrachim, mengungkapkan bahwa pengalaman tersebut mengajarkan pelajaran berharga tentang keberanian memulai sebuah kebaikan.

Kegiatan yang dilakukan sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial sebagai implementasi nilai-nilai keislaman yang dipelajari selama perkuliahan. Semangat gotong royong, empati, dan pengabdian kepada masyarakat tercermin nyata dalam setiap proses yang mereka jalankan.

Melalui gerakan itu, mahasiswa PAI ICP H berhasil membuktikan bahwa keberhasilan akademik akan terasa lebih bermakna ketika mampu menghadirkan manfaat bagi sesama. Kebijakan kampus yang membatasi selebrasi di lingkungan universitas justru melahirkan inovasi sosial yang lebih bernilai, mengubah euforia kelulusan menjadi gerakan kemanusiaan yang menginspirasi. 

Lebih dari sekadar perayaan kelulusan, aksi ini menjadi teladan bahwa seorang calon pendidik tidak hanya diukur dari kecakapannya menyelesaikan skripsi, tetapi juga dari kemampuannya menebarkan nilai-nilai kepedulian, kasih sayang, dan kemaslahatan bagi masyarakat. Inilah wajah pendidikan yang sesungguhnya: ketika ilmu pengetahuan berpadu dengan empati, melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya akan nilai kemanusiaan.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pasca Lulus Skripsi, Mahasiswa PAI FITK ICP H UIN Malang Ubah Selebrasi Kelulusan Menjadi Gerakan Kemanusiaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now