![]() |
| Menjaga Adab, Merawat Amanah Kepemimpinan, artikel opini dari Saiful Anam./dok.istimewa |
OPINI | JATIMSATUNEWS.COM:
Menjaga Adab, Merawat Amanah Kepemimpinan
Oleh: Saiful Anam
Ada satu pelajaran yang hampir selalu diwariskan di tiap pesantren: al-adabu fauqal 'ilm—adab didahulukan sebelum ilmu. Bukan karena ilmu tidak penting, melainkan karena ilmu hanya akan menjadi cahaya apabila bersemayam dalam hati yang beradab. Dari sinilah sesungguhnya peradaban Islam dibangun, bukan semata oleh kecerdasan, tetapi oleh akhlak.
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, adab bukan sekadar tata krama. Adab adalah cara menempatkan diri secara benar di hadapan Allah, Rasulullah, guru, orang tua, ulama, dan pemimpin yang mengemban amanah. Oleh sebab itu, KH. Hasyim Asy'ari berulang kali menegaskan bahwa keberkahan ilmu dan kokohnya sebuah jamaah tidak dapat dipisahkan dari penghormatan kepada adab.
Di tengah kehidupan modern, kita menyaksikan gejala yang semakin menguat: setiap orang ingin didengar, tetapi sedikit yang bersedia mendengar; setiap orang ingin memimpin, tetapi enggan belajar menjadi pengikut yang baik. Padahal, dalam pandangan tasawuf, kemampuan memimpin lahir dari kematangan dalam menaati amanah, bukan dari hasrat untuk berkuasa.
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa penyakit hati yang paling halus adalah hubbul jah, kecintaan pada kedudukan dan pengaruh. Penyakit ini sering menyamar sebagai semangat memperjuangkan kebenaran.
Padahal, yang diperjuangkan sejatinya adalah ego. Ketika ego mengambil alih ruang hati, musyawarah berubah menjadi persaingan, nasihat menjadi celaan, dan perbedaan pendapat berkembang menjadi perpecahan.
Karena itu, ketaatan dalam organisasi tidak boleh dipahami sebagai penghambaan kepada manusia. Ketaatan adalah bentuk penghormatan terhadap amanah dan kesepakatan bersama.
Selama kepemimpinan berjalan dalam koridor syariat, keadilan, dan kemaslahatan, menjaganya adalah bagian dari menjaga persatuan. Sebaliknya, kritik tetap memiliki tempat, tetapi disampaikan melalui adab, musyawarah, dan niat memperbaiki, bukan mempermalukan.
Gus Dur pernah menunjukkan bahwa perbedaan bukan ancaman bagi persatuan. Yang membahayakan justru hilangnya rasa saling menghormati.
Ketika adab hilang, kebenaran pun mudah berubah menjadi alat untuk menyalahkan orang lain. Sebaliknya, ketika adab dijaga, perbedaan dapat menjadi rahmat yang memperkaya kebijaksanaan bersama.
Dalam kehidupan berjamaah, pengkhianatan tidak selalu berupa penolakan yang terbuka. Ia dapat hadir dalam bentuk yang lebih halus: mengabaikan amanah, merusak kepercayaan, menebarkan prasangka, atau lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada kemaslahatan bersama. Luka yang ditimbulkannya sering kali lebih dalam daripada sekadar perbedaan pendapat.
Tasawuf mengajarkan bahwa kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan menaklukkan nafsu sendiri. Sebab, orang yang mampu mengendalikan egonya akan lebih mudah menerima nasihat, menghormati pemimpin yang amanah, serta tetap menjaga adab meskipun berbeda pandangan.
Kekuatan Nahdlatul Ulama sejak dahulu tidak hanya terletak pada besarnya jumlah warga, luasnya jaringan pesantren, atau banyaknya lembaga yang dimiliki. Kekuatannya bertumpu pada budaya adab yang diwariskan para masyayikh yaitu saling menghormati, memuliakan musyawarah, menjaga amanah, dan mendahulukan kemaslahatan jamaah di atas kepentingan pribadi.
Maka, merawat adab kepada kepemimpinan yang amanah sejatinya bukan sekadar menjaga struktur organisasi. Ia adalah ikhtiar menjaga warisan akhlak para ulama. Sebab organisasi dapat berdiri karena aturan, tetapi hanya akan bertahan karena kepercayaan. Dan kepercayaan hanya tumbuh di tanah yang subur oleh adab. (ROF)
Wallāhu a'lam bi al-shawāb. — Saiful Anam
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?