Banner Iklan

Kampung Bungas Besutan Suwanto Balikpapan Dipuji Peraih Kalpataru Bambang, Layak Terbaik

Anis Hidayatie
21 Juli 2026 | 06.01 WIB Last Updated 2026-07-20T23:01:50Z

 


Kampung Bungas Besutan Suwanto Balikpapan Dipuji Peraih Kalpataru, Layak Terbaik

BALIKPAPAN | JATIMSATUNEWS.COM: Di tengah derasnya laju pembangunan perkotaan yang kerap menghadirkan tantangan lingkungan, Kampung Bungas (Bunga, Buah, dan Sayur) di Kelurahan Gunung Sari Ilir, Kecamatan Balikpapan Tengah, Kota Balikpapan, hadir sebagai bukti bahwa perubahan besar dapat lahir dari kepedulian warga.

Bukan sekadar mempercantik wajah permukiman, Kampung Bungas berhasil membangun konsep kampung tematik yang mengintegrasikan penghijauan, ketahanan pangan, konservasi air, pengelolaan sampah, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari Bambang Rianto, penerima penghargaan Kalpataru kategori Pembina Lingkungan tingkat nasional sekaligus Ketua Jaringan Kampung Tematik Indonesia, saat melakukan kunjungan ke Kampung Bungas pada 8 Juli 2026.


Menurut Bambang, Kampung Bungas telah menunjukkan praktik pembangunan lingkungan yang dilakukan secara menyeluruh atau holistik. Tidak hanya mengandalkan estetika kampung, namun juga membangun sistem lingkungan yang mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

"Ini kampung yang sudah layak mendapat predikat kampung terbaik karena dibangun secara holistik, mulai dari infrastruktur lingkungan, konservasi air, pengelolaan sampah, estetika kampung hingga pemberdayaan UMKM," ujar Bambang Senin (20/7/2026).

Ia menilai, konsep yang dikembangkan Kampung Bungas dapat menjadi referensi nasional bagi daerah lain dalam membangun kampung tematik berbasis partisipasi masyarakat.

"Kampung Bungas bukan hanya hijau dan indah, tetapi memiliki sistem yang membuat masyarakat menjadi bagian utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan," katanya.

Perjalanan Kampung Bungas menjadi kampung inspiratif tidak terjadi secara instan. Perubahan tersebut dimulai sekitar tujuh tahun lalu, ketika kawasan ini masih mencakup dua Rukun Tetangga (RT), yakni RT 68 dan RT 69.

Dengan semangat gotong royong yang terus dijaga, gerakan lingkungan tersebut berkembang hingga kini melibatkan lima RT dengan berbagai program inovasi masyarakat.

Di balik keberhasilan itu terdapat peran besar Suwanto, Founder Kampung Bungas yang membesutnya.  Secara konsisten menggerakkan warga untuk membangun kampung berbasis lingkungan.

Berkat kepemimpinannya bersama masyarakat, Kampung Bungas berhasil meraih Juara 1 Aku Hatinya PKK Tingkat Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2026 dan kini terus berbenah menuju predikat Kampung Iklim Utama Tingkat Nasional.

"Kampung Bungas bisa berkembang karena ada sosok penggerak yang mampu menyatukan warga. Pak Suwanto bersama masyarakat telah membuktikan bahwa kampung dapat berubah ketika ada komitmen dan kolaborasi," ungkap Bambang.

Salah satu inovasi yang menjadi kekuatan utama Kampung Bungas adalah program Gerakan Pemanenan Air Hujan (Rain Water Harvesting).

Program tersebut menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan urban farming yang dikembangkan warga. Air hujan yang ditampung dan dimanfaatkan kembali membantu memenuhi kebutuhan penyiraman tanaman, sehingga kegiatan penghijauan dan budidaya pangan tetap berjalan meski berada di kawasan perkotaan.

Menurut Bambang, konservasi air menjadi aspek penting dalam pembangunan kampung masa depan.

"Urban farming tidak akan berjalan berkelanjutan tanpa pengelolaan air yang baik. Kampung Bungas memahami bahwa lingkungan harus dibangun dari hulu hingga hilir, termasuk bagaimana mengelola sumber daya air," jelasnya.

Selain pemanenan air hujan, warga juga mengembangkan berbagai metode bercocok tanam yang sesuai dengan karakter kawasan perkotaan, mulai dari hidroponik, tabulampot (tanaman buah dalam pot), hingga pemanfaatan lahan sempit untuk tanaman sayuran dan bunga.

Selain sektor penghijauan, Kampung Bungas juga memiliki sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui Bank Sampah.

Warga secara aktif memilah sampah plastik dan mengumpulkannya pada titik yang telah ditentukan. Sampah tersebut kemudian ditimbang dan memiliki nilai ekonomi yang mampu memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat.

Upaya pengelolaan lingkungan tersebut diperkuat dengan pembangunan lubang biopori di berbagai titik permukiman. Selain membantu meningkatkan daya resap air, biopori juga menjadi solusi untuk mengurangi potensi genangan saat musim hujan.

Kolaborasi antara penghijauan, pengelolaan sampah, konservasi air, dan pemberdayaan ekonomi menjadikan Kampung Bungas sebagai kawasan yang tidak hanya bersih dan nyaman, tetapi juga produktif.

Keberhasilan Kampung Bungas kini menarik perhatian berbagai pihak. Pemerintah daerah, akademisi, komunitas lingkungan, hingga organisasi masyarakat datang untuk mempelajari praktik baik pengembangan kampung tematik, urban farming, serta pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan.

Bambang Rianto pun mengajak masyarakat dari berbagai daerah untuk melihat langsung inovasi yang dibangun warga Kampung Bungas.

"Kalau datang ke Balikpapan tetapi belum berkunjung ke Kampung Bungas, rasanya belum lengkap. Silakan datang untuk belajar bersama bagaimana membangun kampung yang hijau, produktif, dan mandiri," ajaknya.

Dengan konsep pembangunan yang menyatukan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi, Kampung Bungas menjadi bukti bahwa kampung perkotaan mampu menjadi pusat inovasi lingkungan sekaligus contoh nyata pembangunan berkelanjutan di Indonesia.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kampung Bungas Besutan Suwanto Balikpapan Dipuji Peraih Kalpataru Bambang, Layak Terbaik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now