Foto: Busahwi
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM — Sebuah perjalanan panjang yang ditempuh melalui ketekunan, disiplin, dan pengabdian pada dunia akademik akhirnya mencapai salah satu puncaknya. Busahwi, dosen UIN Madura, resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang terbuka di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,92, ia tidak hanya menorehkan prestasi akademik yang nyaris sempurna, tetapi juga menghadirkan kontribusi ilmiah yang memperkaya kajian pendidikan Islam dan moderasi beragama di Indonesia.
Gelar doktor tersebut resmi disandang Busahwi setelah sukses mempertahankan disertasinya dalam sidang terbuka yang berlangsung di Gedung Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Di hadapan tim penguji, ia mampu menjelaskan sekaligus mempertahankan argumentasi ilmiahnya secara komprehensif hingga dinyatakan lulus.
Disertasi yang berjudul "Konstruksi Kiai Madura tentang Pendidikan Moderasi Beragama di Pesantren" menghadirkan perspektif baru mengenai peran strategis pesantren dalam membangun kehidupan keagamaan yang moderat. Penelitian ini tidak sekadar mengupas konsep moderasi beragama, tetapi juga menunjukkan bagaimana kiai sebagai figur sentral masyarakat Madura membentuk cara pandang, nilai, dan praktik pendidikan keagamaan yang berakar pada tradisi pesantren.
Dengan menggunakan perspektif sosiologi pengetahuan dari Peter L. Berger, Busahwi menelusuri konstruksi pemikiran para kiai melalui penelitian di tiga tipologi pesantren di Madura, yaitu Pesantren Al-Hikam Bangkalan yang merepresentasikan pesantren modern, Pesantren As-Sirojiyyah Kajuk Sampang sebagai pesantren salaf, serta Pesantren Nurul Hikmah Blumbungan Pamekasan yang menunjukkan dinamika transformasi dari pesantren salaf menuju pesantren modern.
Hasil penelitiannya menjadi kontribusi penting bagi pengembangan kajian moderasi beragama di Indonesia. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa nilai-nilai moderasi tidak hadir sebagai konsep yang diimpor dari luar, melainkan tumbuh dari tradisi intelektual dan kearifan lokal pesantren yang telah lama hidup di tengah masyarakat Madura.
Sidang terbuka tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. Hj. Like Raskova Octaberlina, M.Ed. selaku ketua penguji, dengan tim penguji yang terdiri atas Prof. Dr. H. M. Zainuddin, M.A., Prof. Dr. H. Fadil, M.Ag., Drs. H. Basri Zain, M.A., Ph.D., dan Dr. H. Ahmad Fatah Yasin, M.Ag. Sementara proses pembimbingan dilakukan oleh Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah sebagai promotor dan Dr. Hj. Samsul Susilawati, M.Pd. sebagai ko-promotor.
Suasana sidang berlangsung penuh kehangatan. Sejumlah akademisi, pimpinan UIN Madura, kolega, sahabat, hingga aktivis lintas organisasi hadir memberikan dukungan sekaligus menjadi saksi atas pencapaian akademik yang diraih Busahwi.
Bagi Busahwi, keberhasilan meraih gelar doktor bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab intelektual yang lebih besar. Ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan harus terus dikembangkan agar mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada para promotor, seluruh dosen, keluarga, sahabat, dan kolega yang telah membersamai proses panjang ini. Gelar doktor bukanlah akhir dari perjalanan belajar, tetapi menjadi gerbang baru untuk terus berkarya, meneliti, dan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang pendidikan Islam dan moderasi beragama," ungkap Busahwi usai dikukuhkan sebagai doktor.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?