Banner Iklan

Spesial Kartini Jawara Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan, Bahas Pendidikan dan Semangat Kartini dalam Pemberdayaan Perempuan Masa Kini

Admin JSN
24 April 2026 | 18.26 WIB Last Updated 2026-04-24T11:27:54Z

Moderator Gus Bayhaqi, DPRD Zakariya, DPRD Helmy Sudiono Fauzan, DPRD Najib Setyawan dan host Anis Hidayatie  di Bug's Cafe

PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM - Jagongan Wakil Rakyat (Jawara) Jatimsatunews pada Senin (20/4) lalu menghadirkan tiga narasumber sekaligus dari Komisi IV Kesejahteraan Rakyat DPRD Kabupaten Pasuruan.

Tiga narsum tersebut yakni sekretaris Najib, S.H., anggota Helmi Sudiono Fauzan, S.Pd., dan anggota Zakariya, S.E.

Ketiganya membahas tentang pendidikan secara umum yakni tanpa terikat jenis kelamin dan gender hingga secara spesifik yaitu tentang perempuan hingga hasilnya berupa pemberdayaan.

Memandu acara bincang-bincang ini alias siniar (podcast) di kanal YouTube Jatim Satu News, ada Gus Bayhaqi Kadmi dan Anis Hidayatie.

Siniar ini berlangsung Sabtu 18/6/2026. di Bugs Cafe Taman Dayu, Pandaan Kabupaten Pasuruan. Langsung dibuka dengan topik Kartini dan kondisi aktual perempuan dewasa ini yang langsung ditanggapi oleh Helmi Sudiono Fauzan.

"Sebagai seorang perempuan, sekaligus anggota dewan dan juga di komisi yang mengurusi bidang pendidikan, menurut saya, Kartini adalah pejuang perempuan pada tahunnya—eranya, dan pada tahun 2026 ini Kartini juga masih menjadi pejuang yakni dari perempuan masa kini," buka Helmi atau akrab disapa Mbak Mimi.

"Karena itu, hal terpenting dari perempuan adalah perempuan yang kuat, mandiri, dan hebat," sambungnya.

Kartini masa kini menurut Mbak Mimi mempunyai tantangan sesuai zamannya yakni memilah-milah tentang dampak dari zaman serba digital.

Digitalisasi pada pendidikan masa kini, menurutnya, membuat perempuan dewasa ini harus mampu selektif untuk diri sendiri dan untuk anak-anak—ketika perempuan tersebut berada di posisi sebagai orang dewasa, baik sebagai saudara tua, ibu, dan guru.

Ia mengaitkan topik Kartini dan perempuan dengan regulasi pembatasan akses penggunaan ponsel pintar kepada anak-anak.

Menurutnya penggunaan ponsel pintar harus dikontrol sejak usia 12 tahun, yang menjadi fase awal anak memahami lebih banyak informasi termasuk tahu cara menggunakan ponsel pintar. "Dan ini—mengelola penggunaan ponsel pintar kepada anak di bawah umur—adalah tantangan sekaligus tugas perempuan yang pertama," sambungnya.

Kemudian peran kedua dari perempuan saat ini menurutnya adalah mampu memberi motivasi kepada anak-anak tentang tindakan mana yang benar dan mana yang salah. 

"Anak-anak zaman sekarang jika tidak diberi tahu tentang mana yang salah dan mana yang benar akan mengakibatkan pengertian yang salah," ujar Mbak Mimi.

“Ini menjadi tugas utama perempuan hari ini, memastikan anak-anak tidak salah arah akibat arus informasi yang begitu deras,” tambahnya.

Selain itu, perempuan juga dituntut menjadi sumber nilai dan motivasi bagi anak-anak. Mbak Mimi menilai, tanpa pendampingan yang tepat, anak-anak berpotensi mengalami kebingungan dalam membedakan mana yang benar dan salah.

Sementara itu, Najib menekankan bahwa perjuangan Kartini telah membawa perubahan besar dalam kesetaraan gender. Ia mengingatkan bahwa dahulu perempuan identik dengan peran domestik, namun kini telah mampu berdiri sejajar bahkan memimpin di berbagai sektor.

“Sekarang perempuan sudah menjadi pemimpin, bahkan banyak yang menduduki jabatan strategis. Ini bukti perjuangan Kartini tidak sia-sia,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya generasi muda memahami sejarah perjuangan bangsa, termasuk nilai-nilai yang diwariskan Kartini.

Di sisi lain, Zakariya menambahkan bahwa semangat Kartini tidak hanya sebatas simbol, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk nyata, terutama dalam pelayanan kesetaraan pendidikan dan pemberdayaan perempuan.

Menurutnya, keterlibatan perempuan dalam dunia politik di Kabupaten Pasuruan terus meningkat, bahkan telah mencapai keterwakilan signifikan di DPRD.

“Perempuan memiliki potensi besar dalam pembangunan, khususnya dalam pendidikan keluarga yang menjadi fondasi utama,” jelasnya.

Diskusi juga menyinggung sejumlah tantangan yang masih dihadapi perempuan, seperti pernikahan dini dan faktor ekonomi. Namun, para narasumber sepakat bahwa edukasi keluarga menjadi kunci utama dalam mencegah berbagai persoalan tersebut.

Program pemerintah seperti bantuan pendidikan dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dinilai telah membantu membuka akses pendidikan yang lebih merata, baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Melalui forum Jawara ini, Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kebijakan yang berpihak pada pendidikan inklusif dan pemberdayaan perempuan.

Dengan semangat Kartini yang terus hidup, perempuan diharapkan tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi juga penggerak utama dalam menciptakan generasi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Ans






Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Spesial Kartini Jawara Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan, Bahas Pendidikan dan Semangat Kartini dalam Pemberdayaan Perempuan Masa Kini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now