Prof. Fauzan Zenrif
KOLOM| JATIMSATUNEWS.COM:
Puasa ke-8: Dari Masjid ke Rumah, Akhlak Ikut Nggak?
Ramadhan sudah berjalan cukup jauh. Tarawih sudah dilakukan, tilawah sudah bertambah, masjid terasa lebih hidup dari biasanya. Tetapi masih ada pertanyaan sederhana dan cukup mengusik, dari masjid ke rumah, apakah akhlak ku ikut pulang? Atau hanya tubuh yang berpindah tempat sementara karakter ku tetap sama?
Rasulullah saw telah memberikan fondasi yang sangat jelas tentang hakikat puasa. Beliau bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ
(رواه البخاري ومسلم)
Puasa adalah perisai. Perisai itu bukan untuk melindungi perut, tetapi untuk melindungi akhlak. Kata junnah berarti tameng yang menjaga dari serangan. Maka ketika Nabi melarang berkata kotor dan berbuat bodoh, beliau sedang menegaskan bahwa puasa adalah sistem pengendalian diri. Ia menahan lisan dari ucapan yang merendahkan dan menahan sikap dari ledakan emosi yang tidak terkendali.Karakter ini bukan sesuatu yang asing dalam risalah beliau. Allah sendiri menegaskan tentang akhlak Rasulullah saw:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
(QS. القلم: 4)
Engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung. Ayat ini menegaskan bahwa inti kerasulan bukan sekadar penyampaian hukum, tetapi pembentukan karakter. Maka ketika kita berpuasa, sejatinya kita sedang dilatih untuk meneladani akhlak beliau: lembut, sabar, terkendali, tidak reaktif, dan tidak menyakiti.
Di sinilah Ramadhan ke-8 menjadi refleksi serius. Jika setelah tarawih kita masih mudah membentak pasangan, jika setelah membaca Al-Qur’an kita masih ringan merendahkan orang lain, jika di jalan menjelang berbuka kita tetap memaki karena macet, maka perisai itu belum bekerja. Puasa kita mungkin sah secara hukum, tetapi belum berfungsi sebagai proteksi moral.
Rasulullah ﷺ juga memberi peringatan yang sangat dalam:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
(رواه ابن ماجه)
Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Hadits ini mengingatkan bahwa puasa bisa kehilangan substansinya jika tidak melahirkan perubahan akhlak. Orang bisa menahan makan dan minum, tetapi tetap berdusta. Bisa rajin ke masjid, tetapi masih berlaku kasar di rumah. Bisa terlihat religius di ruang publik, tetapi tidak adil dalam ruang privat.
Dalam kehidupan masyarakat kita, ini bukan cerita jauh. Ada yang siangnya berpuasa, tetapi tetap menaikkan harga secara tidak wajar karena momentum Ramadhan. Ada yang aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi dalam pekerjaannya masih melakukan manipulasi. Ada yang rutin tarawih, tetapi di media sosial tetap menyebarkan kebencian. Dalam situasi seperti itu, yang berpuasa hanyalah tubuhnya, bukan akhlaknya.
Puasa ke-8 ini mengajak kita jujur pada diri sendiri. Apakah puasa sudah menjadi tameng bagi lisan kita? Apakah ia sudah menahan emosi kita? Apakah ia sudah memperhalus cara kita memperlakukan orang lain? Karena ukuran keberhasilan Ramadhan bukan pada panjangnya rakaat, tetapi pada dalamnya perubahan karakter.
Kalau setelah dari masjid kita pulang dengan suara yang lebih lembut, dengan sikap yang lebih sabar, dengan hati yang lebih pemaaf, maka puasa itu telah bekerja. Tetapi jika yang berubah hanya jadwal makan, sementara cara kita memperlakukan manusia tetap sama, maka mungkin benar sabda Nabi itu—yang kita dapatkan hanya lapar dan dahaga.
Ramadhan masih berjalan. Perisai itu masih bisa diperkuat. Tinggal kita mau atau tidak menjadikan puasa sebagai jalan meneladani akhlak Rasulullah ﷺ yang agung, bukan sekadar rutinitas tahunan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?