Banner Iklan

90,9 Persen Warga Dukung Trans Jatim Koridor 2 Malang Raya, Pakar UMM Wanti-wanti Kesejahteraan Sopir Angkot dan Praktik "Penumpang Gelap"

Admin JSN
29 Juli 2026 • 12.35 WIB
Suasana acara rilis survei dan deklarasi dukungan masyarakat terkait Trans Jatim Koridor 2 oleh Dewan Kampung Nuswantara (DKN) di Kampus UMM.

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Rencana mengaspalnya armada Bus Trans Jatim Koridor 2 di wilayah Malang Raya terus mendapat sorotan positif, tak terkecuali dari kalangan akademisi. Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Wahyudi, M.Si., menilai kehadiran transportasi massal ini merupakan solusi konkret untuk mengurai benang kusut kemacetan di Malang.

Meski demikian, Wahyudi memberikan sejumlah catatan krusial yang harus diperhatikan pemerintah, terutama terkait tata kelola dan nasib para sopir angkutan kota (angkot).

Pernyataan ini dilontarkan Wahyudi dalam acara bedah hasil riset Dewan Kampung Nuswantara (DKN) di Aula GKB 4 lantai 4 Kampus 3 UMM, Selasa (28/7/2026). Dalam rilis tersebut, terungkap angka yang cukup fantastis: 90,9 persen warga mendukung penuh operasional bus tersebut.

Wahyudi menegaskan, survei persepsi publik ini adalah fondasi esensial sebelum pemerintah mengeksekusi program berskala besar.

"Tujuannya survei ingin mengetahui kebutuhan, persepsi, dan harapan masyarakat, sehingga kebijakan Trans Jatim Koridor 2 yang diambil ini benar-benar menjadi *evidence-based policy* (kebijakan berbasis data)," ujar Wahyudi.

Menurut akademisi Kampus Putih tersebut, target transportasi publik tidak hanya sekadar soal urusan kemacetan, melainkan harus mewujudkan mobilitas yang efisien sekaligus menjaga kelestarian lingkungan atau sejalan dengan konsep *eco-green*.

"Meningkatkan kualitas lingkungan dan memperkuat konektivitas Malang Raya adalah *output* yang ingin dicapai. Siapa yang tidak ingin efisien, tepat waktu, dan tidak macet?" urainya.

### **Soroti Kesejahteraan Sopir dan Fasilitas Ramah Penumpang**

Merespons wacana peralihan fungsi angkot menjadi angkutan pengumpan (*feeder*) yang diklaim mendapat dukungan 100 persen dari pengemudi, Wahyudi mendesak pemerintah agar memastikan adanya regulasi pendanaan yang benar-benar menjamin kesejahteraan para sopir.

Tak hanya itu, ia juga mengingatkan pentingnya sistem birokrasi yang bersih dan transparan. Ia tidak ingin program strategis lintas daerah ini justru dimanfaatkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab yang mencari celah keuntungan.

"Masyarakat tentu harus menghindarkan kebijakan yang sangat bagus ini dari pembonceng-pembonceng bebas (*free riders*), sehingga kehadirannya benar-benar menjadi media untuk *memayu hayuning bawono* atau mempercantik alam Malang Raya," tegasnya.

Terkait fasilitas, rute yang rencananya akan menghubungkan Terminal Talangagung Kepanjen, Terminal Hamid Rusdi, hingga Terminal Arjosari ini juga dituntut memiliki standar pelayanan maksimal. Wahyudi merekomendasikan adanya perbaikan infrastruktur halte serta penerapan sistem informasi rute berbasis audio di dalam bus. Hal ini bertujuan untuk memudahkan mobilitas masyarakat umum, khususnya kelompok rentan seperti lansia.

"Di dalam bus Trans Jatim itu mungkin dikasih rute, ada peringatan terminal berikutnya, sehingga orang tidak takut kapan harus turun dan sopir bisa tetap fokus pada jalan raya," tambahnya.

Sebagai penutup, pakar sosiologi ini berharap hasil survei kelayakan transportasi ini terus dipublikasikan secara transparan. Tujuannya, agar masyarakat luas dapat ikut serta mengawal jalannya kebijakan di lapangan. Ia meyakini, kebijakan yang diawali dengan niat tulus demi kemaslahatan warga niscaya akan menghadirkan kemajuan berkelanjutan bagi tata ruang, ekologi, dan kesejahteraan sosial di wilayah Malang Raya.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • 90,9 Persen Warga Dukung Trans Jatim Koridor 2 Malang Raya, Pakar UMM Wanti-wanti Kesejahteraan Sopir Angkot dan Praktik "Penumpang Gelap"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?