![]() |
| Senator Lia Istifhama mengharapkan evaluasi kebijakan kuota BBM dan transparansi informasi setelah fenomena antrean solar terjadi di Surabaya./dok.istimewa |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Senator Lia Istifhama turut menyoroti antrean solar di Surabaya dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, deretan panjang kendaraan juga mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di berbagai wilayah Jawa Timur.
Fenomena ini memicu perhatian publik setelah para pengemudi angkutan umum, truk logistik, hingga pelaku usaha transportasi mengeluhkan sulitnya memperoleh Solar bersubsidi yang berdampak langsung pada kelancaran operasional mereka.
Menanggapi kondisi di lapangan tersebut, Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menjelaskan bahwa fenomena tersebut berkaitan erat dengan adanya perubahan kebijakan mekanisme distribusi kuota BBM yang diterapkan oleh pemerintah pusat.
Menurut Ning Lia—sapaannya, perubahan sistem distribusi kuota Solar dari yang semula menggunakan skema tahunan kini beralih menjadi skema bulanan. Perubahan regulasi inilah yang dinilai membuat stok di SPBU menjadi lebih cepat habis ketika mendekati akhir bulan, sehingga antrean kendaraan menjadi lebih sering terjadi secara berkala.
"Dulu setiap pom atau SPBU diberikan alokasi dalam bentuk kuota setahun. Sebagai gambaran, SPBU A mendapat jatah sekitar 10.000 liter untuk kurun waktu satu tahun," ungkap Lia saat memberikan keterangan di Surabaya, Jumat (26/6).
Dengan mekanisme lama tersebut, potensi antrean biasanya baru terlihat ketika kuota tahunan mulai menipis menjelang akhir tahun. Namun, dengan pemberlakuan sistem kuota bulanan yang baru, kondisi di lapangan menjadi berbeda.
Titik-titik SPBU kini memiliki keterbatasan pasokan yang berulang setiap kali menjelang pergantian bulan.
"Ke depannya, kita tidak perlu heran lagi jika melihat antrean kendaraan mulai terjadi setiap tanggal 22, 23, atau 24 dan seterusnya. Hal itu karena kuota bulanan di setiap SPBU memang sudah mulai berkurang," imbuh Lia.
Senator asal Jawa Timur ini mengingatkan bahwa perubahan mekanisme distribusi Solar subsidi membawa dampak nyata bagi berbagai sektor produktif yang sangat bergantung pada kepastian pasokan BBM bersubsidi. Mulai dari sektor angkutan umum, angkutan barang, armada logistik, hingga kendaraan pariwisata kini menghadapi tantangan berupa lamanya waktu tunggu di SPBU.
Jika kondisi ini terus berulang setiap bulan, dikhawatirkan akan memicu peningkatan biaya operasional transportasi. Ini dapat memengaruhi kelancaran distribusi barang baku serta mobilitas masyarakat luas.
Pada sisi lain, Lia juga menyoroti aspek pengawasan, adanya sanksi dari BPH Migas kepada sejumlah SPBU membuat para pengelola kini jauh lebih berhati-hati dalam menyalurkan Solar subsidi. Kondisi ini memunculkan dugaan adanya pengaturan jadwal pelayanan di tingkat pangkalan agar penyaluran tetap berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Melalui kejadian ini, Lia berharap pemerintah pusat dapat memberikan penjelasan yang transparan dan membuka ruang dialog mengenai penyebab utama dari dinamika pasokan Solar di daerah. Menurutnya, masyarakat serta para pelaku dunia usaha berhak mendapatkan informasi yang jernih agar tidak berkembang spekulasi yang tidak perlu di masyarakat.
Ia kemudian mencontohkan peristiwa pemadaman listrik bergilir yang pernah terjadi beberapa waktu lalu, yang informasi awal menyebutkan adanya kendala teknis pada komponen cadangan (spare part), namun pada akhirnya diketahui bahwa akar masalahnya berada pada pasokan batu bara.
"Keterbukaan informasi semacam ini sangat penting. Ketika masyarakat memahami kondisi yang sebenarnya, pemerintah bersama para pemangku kepentingan dapat lebih mudah menyusun solusi bersama yang mampu menjaga kelancaran distribusi BBM subsidi tanpa mengganggu roda ekonomi masyarakat," tegas Lia.
Adapun mengenai pemberlakuan skema kuota bulanan oleh pemerintah pusat tujuannya yaitu memperketat pengawasan agar kuota BBM bersubsidi tidak habis mendahului kalender tahunan.
Namun ketika diimplementasikan, formula baru ini membutuhkan penyesuaian instrumen di lapangan, sebab ritme kebutuhan Solar di sektor transportasi logistik sangat dinamis dan tidak bisa dipatok rata tiap bulan.
Jawa Timur pun merupakan urat nadi logistik bagi wilayah Indonesia Timur. Ketika pasokan Solar di SPBU menipis di minggu ketiga akibat pembatasan kuota bulanan, waktu produktif para pelaku transportasi habis dalam antrean.
Kondisi ini berpotensi memicu efek domino ketika terus terjadi, yakni peningkatan biaya distribusi barang (high cost economy). Maka, diperlukan kebijakan yang lebih fleksibel, seperti pemberian diskresi atau kelonggaran kuota antar-bulan bagi wilayah-wilayah dengan koridor industri padat, agar stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga dengan baik. Hal ini juga diharapkan Senator Lia selain transparansi informasi terhadap kebijakan baru dari pemerintah pusat. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?