Banner Iklan

Inovasi Living Lab Dosen UMM Jadikan Alam sebagai Laboratorium Karbon, Tekan Emisi Gas Rumah Kaca

Admin JSN
16 Mei 2026 | 14.09 WIB Last Updated 2026-05-16T07:09:25Z
Nugroho Tri Waskitho, dosen Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM yang menghadirkan Inovasi Living Lab untuk menekan emisi gas rumah kaca./dok. UMM

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  turut memahami adanya anomali cuaca ekstrem, gelombang panas, dan krisis pemanasan global yang melanda dunia saat ini.

Fenomena ini kemudian dinilai UMM sangat menuntut aksi nyata dari sektor akademisi, bukan sekadar teori di atas kertas.

Merespons urgensi krisis iklim yang kian mengkhawatirkan tersebut, UMM secara konsisten membuktikan komitmennya sebagai Kampus Inovasi yang berdampak bagi lingkungan.

Bukti nyata ini ditorehkan oleh Dr. Ir. Nugroho Tri Waskitho, M.P., dosen Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM.

Ia sukses menjadi penerima pendanaan bergengsi tingkat nasional, yakni Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) Tahun 2025–2026.

Melalui gagasan solutifnya, proposal riset tersebut berhasil disetujui dengan perolehan dana hibah fantastis sebesar Rp450.000.000, yang kian mengukuhkan posisi Kampus Putih sebagai pusat pencetak solusi atas masalah lingkungan.

Mengusung tajuk riset 'Model Peningkatan Penyerapan Karbon di Kabupaten Malang', proyek lintas disiplin ini secara strategis dirancang untuk mereduksi emisi gas rumah kaca.

Nugroho memaparkan bahwa daya tarik utama dari riset ini bukan terletak pada kajian literatur, melainkan pada penerapan konsep living lab atau laboratorium hidup. Ia menjelaskan bahwa living lab adalah sebuah pendekatan eksperimental di mana penelitian tidak dikerjakan di dalam ruangan tertutup, melainkan langsung dipraktikkan, diuji, dan dievaluasi di alam terbuka bersama elemen masyarakat dan pemerintah.

"Sebetulnya penelitian mengenai penyerapan karbon sudah banyak, namun kebaruannya ada pada kolaborasi living lab. Kami mengintegrasikan peneliti, kelompok masyarakat, dan pemerintah daerah untuk menerapkannya langsung di lapangan serta memantau perkembangannya bersama-sama," ungkap Nugroho pada rilis UMM Sabtu (16/5).

Guna mengeksekusi gagasan inovatif ini, tim peneliti UMM menggandeng sejumlah mitra strategis, di antaranya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang, Yayasan Bakti Alam Sendang Biru, dan Kelompok Tani Hutan Pujon Hill.

Langkah intervensi awal akan dimulai dengan memetakan potensi serapan karbon, yang kemudian dilanjutkan dengan edukasi serta pelatihan teknis bagi warga. Petani lokal dipersiapkan untuk mengelola lahan berkelanjutan melalui skema agroforestri dan penanaman spesies penyerap karbon tinggi seperti mangrove.

Nugroho menegaskan, pembekalan ini ditujukan untuk memicu efek domino; tidak hanya menyelamatkan kualitas ekosistem, tetapi juga mendongkrak produktivitas ekonomi rakyat sekaligus berkontribusi pada mitigasi iklim dunia.

"Dampak dari penelitian ini memang menyasar cakupan Kabupaten Malang, namun problem perubahan iklim ini adalah isu global, sehingga aksi lokal kita ini kelak akan bermuara pada penyelamatan lingkungan secara internasional," jelasnya.

Keberhasilan menembus seleksi ketat program nasional ini tak lepas dari kerja keras enam akademisi lintas disiplin yang terus difasilitasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM.

Ia berharap, inisiatif ini tidak mandek ketika masa program usai, melainkan diadopsi menjadi landasan kebijakan pelestarian daerah yang permanen. Pakar kehutanan ini juga memberikan pesan khusus agar riset yang diproduksi oleh perguruan tinggi mampu memberikan manfaat konkret bagi persoalan yang sedang dihadapi publik.

"Sering kali sebuah temuan hanya berujung menjadi publikasi jurnal, maka cobalah untuk selalu mengaitkan hasil riset agar manfaatnya bisa langsung diterapkan dan dirasakan nyata oleh masyarakat maupun industri," pesan Nugroho. ***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Inovasi Living Lab Dosen UMM Jadikan Alam sebagai Laboratorium Karbon, Tekan Emisi Gas Rumah Kaca

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now